AnyThink Because small things matters

29Jul/100

Antara Api dan Air

Lampu di pertigaan Cipete itu menunjukkan warna merah. Saya melipat kedua tangan di stang motor, menaruh kepala, tertunduk lelah. Selang beberapa detik, bunyi-bunyi mesin kendaraan ukuran besar terdengar mendekat, melintas dari arah kiri menuju arah Blok M. Bau asap knalpot tercium pekat. Ada sirene juga. Saya tak peduli. Tak seberapa lama kemudian terdengar, "ayo minggir! minggir!" Saya mendongakkan kepala. Mobil-mobil besar itu telah berlalu. Saya sempat melihat tulisan di bagian belakangnya. Bunyinya "pantang pulang sebelum padam".

Jika melihat dari arah datangnya, kemungkinan mereka bertolak dari pos Fatmawati. Ini berarti titik api juga tak jauh dari sana. Saya ada janji temu dengan seorang teman di Radio Dalam. Tapi saya kira ia bisa menunggu. Lampu hijau. Saya tancap gas mengikuti rombongan besar tadi. Saya hitung, ada dua truk pemadam kebakaran, di depannya ada mobil operasional, Isuzu Panther warna merah sebagai pembuka jalan. Paling buntut ada ambulans. Motor memudahkan saya mengejar mereka. Dilihat dari samping, orang-orang itu tegang.

Sirene terus meraung sepanjang jalan Fatmawati. Di beberapa titik terlihat polisi membantu mengatur lalu-lintas. Rombongan berbelok ke kanan, menuju kawasan Wijaya. Dari jauh, saya lihat kerumunan di dalam komplek Wijaya Grand Centre, tapi saya tak melihat api. Semakin dekat, semakin jelas. Di sana sudah ada dua truk pemadam kebakaran dan satu ambulans lagi, plus dua mobil polisi.

Saya parkir di seberang komplek Grand wijaya Centre dan berjalan kaki ke arah kerumunan. Polisi sibuk mengatur lalu-lintas. Panther merah tadi mengeluarkan alat serupa antena di atapnya. Tulisannya "Nite Scan". Entah untuk apa. Hawa sedikit panas dan lembab, api sudah tak nampak, hanya asapnya saja yang mengepul dari jendela-jendela lantai 3 ruko yang terbakar. Mereka sudah menguasai keadaan.

Melihat ambulans yang tetap di tempat parkirnya, saya berasumsi tidak ada korban jiwa. Atau, korban tersebut sudah di evakuasi sebelum saya sampai. Saya tidak berniat menanyakan hal tersebut. Kerumunan itu masih sibuk menonton aksi pemadaman itu dari bawah. Wajah-wajahnya ikut tegang.

Prang... prang... pemadam kebakaran memecahkan jendela-jendela itu dari dalam, satu persatu. Kerumunan jadi ramai dengan desas-desus. Asap yang keluar jadi lebih banyak karena terbebaskan dari ruangan yang panas dan sempit.

Beberapa detik kemudian, kaca sudah pecah semua dan suasana kembali sunyi. Saya memperhatikan kerumunan itu dan mendapati semua mata masih terpaku ke arah jendela-jendela bolong, seperti menunggu hal-hal yang tak pasti. "Apinya di dalam ini mah..." seseorang bertubuh gempal di tengah kerumunan menggumam. Tak ada yang menggubris. Hening.

Bruuushhh... semburan air bertekanan tinggi keluar dari jendela, jatuh tepat di kerumunan. Penonton bubar.

Kejadian ini terjadi pada 28 Juli 2010, sekitar pukul 19.50-20.10.

  • Share/Bookmark
28Jul/100

Store Wars: The Empire Strikes Back

Circle K vs 7-Eleven (ilustrasi: Aryananda Suratman)

Jika 7-Eleven tak kembali ke Jakarta, persaingan antar convenience store tentu takkan semenarik saat ini. Sejauh mana persaingan ini mengakar? Dan, benarkah 7-Eleven tanpa cacat?

Amerika Serikat, 1927, adalah masa yang menarik bagi Johnny Jefferson Green. Kulkas belum ditemukan, sementara es batu merupakan kebutuhan mendasar setiap orang. Saat itu, setiap orang harus pergi ke ice houses/docks untuk mencari es batu. Rumitnya, setelah membeli es, mereka masih harus mencari kebutuhan lain di tempat berbeda. Ini kejar-kejaran dengan waktu.

Johnny memanfaatkan celah ini. The Southland Ice Dock, tokonya di Dallas, Texas, segera dilengkapi dengan susu, telur, dan roti. Selain menambahnya dengan makanan, ia juga membuka tokonya lebih lama. 16 jam sehari, 7 hari seminggu. Johnny tahu, banyak yang membutuhkan barang-barang ini saat toko lain tutup. Konsep convenience store pun terbentuk.

Di tahun yang sama, sebuah toko kelontong dibuka di Oak Cliff. Toko ini buka jam 07.00-23.00 setiap hari, jadi dinamakan "7-Eleven". Setelah 33 tahun beroperasi, toko 24 jam pertamanya dibuka di Austin, Texas.

7-Eleven berkembang ke berbagai negara. Pada 2004, mereka punya 26.000 gerai di 18 negara yang menjadikannya raksasa peritel format gerai kecil. Sahamnya lantas dibeli seluruhnya oleh perusahaan asal Jepang, Seven & I Holdings Co. pada 2005. 7-Eleven datang dan pergi dari Jakarta pada era 80-an.

Fred Harvey membeli tiga toko bahan makanan Kay's Foodstore di El Paso, Texas, dan mengubahnya menjadi "Circle K" pada 1951. Ia lantas mengakuisisi banyak toko lain dan pada 1979 terjun ke pasar internasional. Gerai pertama ada di Jepang.

Ekspansi Harvey sampai ke Indonesia. Circle K hadir di Jakarta pada 1986, tepatnya di jalan Panglima Polim. Kala itu, toko yang buka 24 jam masih langka. Ini menjadikannya populer. Mereka membebaskan anak-anak mudanongkrong di teras toko. Mereka menyediakan rokok dan minuman beralkohol.

Circle K tak datang dan pergi. Justru, hingga 2009, Circle K mendominasi pasar convenience store. Di 2008, peningkatan jumlah gerainya melebihi 50%. Ia seperti pemain tunggal, beda kelas dengan Alfamart maupun Indomaret yang bersaing di kelas minimarket. Perbedaan antara convenience store dengan minimarket terdapat pada komposisi barang yang dijual dan izin operasinya. Jika 90% yang dijual merupakan makanan dan minuman siap saji, maka diklasifikasikan sebagai convenience store. Izin operasinya 24 jam. Circle K juga jauh dari kelas supermarket, apalagi hypermarket. Yang belakangan ini ditentukan dari luas bangunan. Convenience store tak boleh lebih dari 400 m2.

2006 adalah tipping point bisnis fotografi di Jakarta. PT Modern Putra Indonesia sedang lesu. Derasnya arus digitalisasi berimbas anjloknya penjualan rol film dan jasa cuci cetak. Mereka adalah pemegang lisensi Fuji Film di Indonesia. Jika Fuji Image Plaza, Fujifilm Digital Imaging, dan M Photo Studio dijumlah, mereka punya 2.000 gerai yang sedang kembang-kempis.

Lim Djwe Khiam melihat peluang di 2009. Retail Director PT Modern Putra Indonesia ini yakin bahwa demandterhadap produk makanan dan minuman sangat tinggi. Mereka juga berpengalaman soal ritel. Kenalan lama pun kembali dilirik, yang tak lain ialah 7-Eleven. Dulu, pada 1998, PT Modern International (induk PT Modern Putra Indonesia) pernah didekati 7-Eleven. Krisis moneter membuat mereka mengurungkan niat.

Kini, gayung bersambut. 7-Eleven menunjuk mereka sebagai mitra usaha di Indonesia. Sang raja ritel menyerang balik. Salah satu teori dasar perang adalah: sebuah penyerangan amfibi mengharuskan pihak penyerbu memiliki tiga kali lipat kekuatan dibandingkan pihak yang menguasai benteng pertahanan. 7-Eleven punya itu.

Suatu Minggu sore di Maret 2010, Maya menjejakkan kaki di gerai 7-Eleven, Blok M. Ia terdorong oleh kenangan berlibur di Bangkok, di mana ia kerap mengunjungi toko ini. Di Thailand, 7-Eleven mendominasi persaingan convenience store. Mereka punya 5.409 gerai. Ini jumlah terbesar kedua setelah Jepang dengan 12.753 gerai.

"Mau coba hotdog-nya, mbak?"

"Oh, ngga mas, makasih." Maya sudah makan dua porsi gulai di kaki lima seberang jalan.

Sebenarnya ia mencari juhi cumi, tapi hasilnya nihil. Ini bukan di Thailand. Maya memutuskan membeli Slurpee, minuman es dan soda berkarbonasi khas 7-Eleven. Mereka juga punya Big Gulp dan Cafe Select yang menjadi signature. Selain ketiganya, mereka mengkombinasikan variasi makanan impor dan lokal favorit untuk dijual. Juhi cumi bukan salah satunya.

Kesan pertama membuat Maya terobsesi dengan 7-Eleven. Gerai-gerai lain pun dijelajahi. Ia suka pelayanan di 7-Eleven, seperti ketika penjaga toko pro-aktif membantu saat ia kebingungan di depan mesin pembuat kopi, atau saat penjaga toko dengan sigap mencarikan majalah fashion yang ia cari. Beragam makanan yang tersedia juga nilai plus tersendiri. Satu lagi, ia suka toiletnya. Bersih, ada tissue, tempat sampah, dan... cermin.

Konsep yang menarik, variasi dan kualitas barang yang baik, serta pelayanan prima adalah syarat sebuah toko agar laku. 7-Eleven tentu tahu, hingga menerapkan standar ketat. Namun, ada faktor-faktor lain yang tak kasat mata dibalik kesuksesan 7-Eleven. Ini yang menentukan.

7-Eleven masuk ke Indonesia bukan dengan sistem franchising, tapi joint venture. Ini memudahkan ekspansi. Mereka terhindar dari birokrasi perizinan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) dari Departemen Perdagangan. Mereka juga tak perlu menunggu seorang pembeli franchise untuk sekadar membuka gerai baru. Lihat saja, tujuh gerai telah dibuka dalam kurun waktu kurang dari setahun. Blok M, Kemang, Mampang, Matraman, Menteng, Terogong, Thamrin. Semuanya strategis. Asal punya uang dan lapak, satu atau sepuluh gerai dalam serentak bukan masalah.

Lalu, soal bentuk usaha. 7-Eleven masuk ke Indonesia bukan dalam kategori ritel toko, tapi kafetaria atau kantin. Dalam daftar negatif investasi, pihak asing dilarang bermain di kelas toko yang luas bangunannya di bawah 1.200 m2. Tapi, lain soal kalau formatnya kantin. Aliran dana dari pihak asing bisa terus mengalir ke 7-Eleven. Ini menunjang ekspansi besar-besaran dalam waktu singkat. Format ini juga berarti 7-Eleven bebas menyediakan fasilitas tempat duduk, meja, serta free wi-fi yang bisa digunakan 24 jam oleh pengunjungnya. 7-Eleven bisa merebut pasar restoran.

Kekuatan-kekuatan inilah yang membuat 7-Eleven jadi ancaman serius buat Circle K. Apalagi, sejauh ini mereka mendapat respon positif dari masyarakat Jakarta. Langkah-langkah mereka, meski terkesan agresif, terlihat 'cantik' dan mantap, seolah tanpa cela. Jika tetap seperti ini, sangat mungkin dalam beberapa tahun mendatang mereka bisa menyaingi atau bahkan mematahkan dominasi Circle K di Jakarta.

Pada 15 Juli lalu, saya mampir ke gerai 7-Eleven, Cipete, untuk sekadar melihat-lihat. Ia terdiri dari dua lantai. Lantai 2 diisi gerai Fuji Image Plaza, toilet pria dan wanita yang terpisah, serta tempat outdoor untuk pengunjung. Di lantai 1, saya menemukan 76 neon dipasang untuk menerangi ruangan yang tak lebih dari 100 m2. Ini tidak eco-friendly.

Circle K terbaru yang saya datangi terletak di jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus. Mereka hanya memasang 18 neon. Sebagai tambahan, mereka kini menyediakan bangku-bangku plastik berangka besi dan beberapa meja di teras mereka. Persaingan masih panjang.

Tulisan ini diambil dari areamagz

  • Share/Bookmark
2Jun/100

Jasa dan Fungsi Lain Sebuah Piala Dunia

Piala Dunia tak hanya ajang olahraga

Piala Dunia tak sekedar ajang olahraga

Tulisan ini diambil dari areamagz.

Jika Anda menganggap Piala Dunia hanya sebagai ajang olahraga empat tahunan paling prestisius dan menghibur di dunia, maka Anda keliru. Piala Dunia memiliki 'jasa' lain yang kadang tidak disadari oleh yang berlaga maupun kita.

Piala Dunia 2010 bakal digelar di Afrika Selatan mulai 11 Juni nanti. Hingar-bingar nya sudah terdengar sejak tahun lalu, persiapan-persiapan sudah dilakukan jauh sebelum itu. Namun, tulisan ini bukan hendak membahas hal-hal seperti itu, tapi lebih kepada detil yang tak kasat mata dari Piala Dunia. Berikut ini adalah contohnya.

Piala Dunia sebagai pemersatu. Saya memang tak yakin jika suku Inuit di utara Kanada dan Alaska sana berminat menonton Piala Dunia 2010 nanti, begitu pula dengan suku Dogon di pegunungan Hombori, Mali, Afrika. Namun, yang jelas perhelatan ini memang lintas benua. Dengan kemajuan teknologi, seluruh bumi akan terhubung dan terpusat pada satu negara, Afrika Selatan, selama satu bulan. Kita di Jakarta, sudah siap untuk larut dalam keriaan-nya, sebagaimana penduduk di belahan bumi manapun. Di luar dugaan, ternyata bukan komunikasi politik atau perang yang bisa mempersatukan dunia, tapi kompetisi olahraga.

Piala Dunia sebagai 'jembatan'. Maksud saya, ia bisa jadi jembatan antar generasi, antar gender, bahkan antar profesi. Lihat saja, Anda bisa melihat seortang bocah dan nenek-nenek duduk dan tertawa bersama, atau tukang ojek dan mahasiswa nongkrong bareng di warung kopi dan saling berpelukan, atau bos besar dan office boy duduk tegang memandangi layar TV dari lapak yang sama. Batasan-batasan yang biasanya ada dan tegas menjadi buram, untuk kemudian hilang sama sekali. Tanyakan pada Spanyol, di mana batasan yang tadinya memisahkan 'orang Catalan' dan 'orang Andalusia' saat mereka merengkuh trofi Piala Eropa 2008? Bayangkan jika itu Piala Dunia.

Piala Dunia sebagai penyembuh. Ya, trofi yang satu ini seperti bertuah bagi sebuah bangsa. Ia menyembuhkan 'luka' banyak bangsa. Jerman misalnya, bangsa yang kalah perang ini kembali memiliki kebanggaan dirinya setelah menjadi juara dunia dengan menaklukan Hungaria di final Piala Dunia 1954. Bangsa Argentina telah membalas kenangan pahit perang Malvinas dengan menghajar Inggris di perempat final Piala Dunia 1990, Maradona menyiratkan hal itu dalam buku "El Diego: The Autobiography of the World's Greatest Footballer". Perancis, setelah dirundung masalah yang tak kunjung usai pasca perang, seperti dekolonisasi dan masalah sosial dan ras, seperti bangkit usai menjuarai Piala Dunia 1998. Sayang, trofi ini belum sempat mampir ke tangan Indonesia.

Lucunya, Piala Dunia juga berfungsi menjadi cermin karakteristik masing-masing bangsa. Lihat Jerman yang bergerak bak panser lapangan hijau. Ia begitu dingin, kuat, dan pantang menyerah di lapangan. Brazil begitu hidup dan penuh warna. Baginya, sepak bola adalah kanvas hijau yang siap dicorat-coret dengan operan-operan indah dan 'tarian' memikat. Argentina lebih keras dan disiplin, Inggris juga keras, lebih arogan, dan selalu in a rush, Belanda mencerminkan semangat kerja kolektif, dan Spanyol, seperti gitar, bermain dengan teknik yang elok. Lain lagi dengan Italia, ia memadukan kekuatan pertahanan dan taktik serangan balik yang menjerumuskan. Oh, satu catatan lagi, mereka tak meninggalkan nama besar mereka sebagai kiblat mode dan gaya. Ingat seragam biru ketat Italia 1998 yang ketika itu seperti menjadi standar kaus bola di dunia? Kamerun mencoba gaya baru dengan seragam lengan buntung pada 2002, namun gagal lantaran dilarang FIFA. Seragam jenis ini malah dipakai pemain Thomas Cup Indonesia 2010. Oh, satu lagi, pemain-pemain Italia pula lah yang mempopulerkan gel rambut di lapangan hijau. Beckham hanya ikut-ikutan.

Hal kelima yang tak mungkin dipungkiri ialah soal bisnis. Mengapa setiap negara berebut menjadi tuan rumah Piala Dunia? Salah satunya karena Piala Dunia memiliki fungsi sebagai mesin uang. Bayangkan berapa jumlah uang yang masuk ke kas negara tuan rumah dari sponsor, penjualan tiket pertandingan, visa, penjualan tiket pesawat, bus, dan kereta. Itu belum semua, masih ada penjualan pernak-pernik pra, saat, dan pasca pertandingan. Belum cukup banyak? Masih ada dari penjualan hak siar televisi ke seluruh dunia, berikut penjualan lisensi untuk mengadakan acara semacam 'nonton bareng' Piala Dunia. Di Jakarta, lisensi ini dimiliki oleh Electronic City. Jadi, jangan berpikir ini semudah menaruh big screen di lapangan dan menggalang massa sekampung. Ini rumit.

Modal yang mereka keluarkan memang besar, tapi jika Anda terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia, keuntungan berlipat seperti sudah ada di genggaman tangan. Tak heran jika Indonesia sangat menyesal saat tak masuk nominasi tuan rumah Piala Dunia 2022. Ini bisa menjadi sumber uang untuk pembayaran hutang negara, kan? By the way, siapa jagoan Anda di Piala Dunia 2010?

  • Share/Bookmark
21May/100

Definitely Forgetable Moments on Nike School Attack

Sejak awal Mei lalu, saya mendapat tugas untuk mendokumentasikan event Nike School Attack, yang merupakan kampanye dari brand Nike untuk mensosialisasikan olahraga lari. Targetnya adalah siswa-siswi SMA. Jika dijumlah, akan ada 20 sekolah yang kami datangi hingga bulan Juli nanti. Apa artinya ini? Buat saya, ini berarti harus bangun lebih awal setiap harinya. Asal Anda tahu, selama seminggu ini saya sudah memiliki rutinitas baru, yakni berada di kantor sejak jam 05.00 pagi. Berat? ya. Capek? Jangan tanya. Menyesal? Tidak juga. Bagaimana bisa? Momen-momen seperti berikut ini yang membuat saya terhibur. Simak!

Siapa yang mau ngasih tebengan kalo kaya gini?

Lari apa pogo, mas?

Om, kumisnya oke banget, deh...

Nyengir aje kaya kuda... sabar mas...

Kalo ngupil jangan nanggung gitu dong...

Tebak, yang mana yang kurang tidur?

Bweeekkk!

That's all for now. Lesson learned: small things matters. Cheers!

  • Share/Bookmark
10May/100

Random Pics #1

Simplify life into black and white. You may see things clearer.

Sabtu, 8 Mei 2010.

Beberapa jam sebelum saya mengambil gambar ini, kami berada di rumah duka. Seorang teman meninggal dunia. Ia sedang membonceng temannya ketika motor yang dikendarai lepas kendali, menabrak pemisah jalan, melontarkannya hingga menghantam mobil. Helm-nya hanya retak sepanjang 3 cm, namun ia tewas.

Dalam duka, pertanyaan-pertanyaan tipikal itu menyeruak. Tentu, jika Tuhan sudi menjawab, apa yang akan dikatakan-Nya tidak kan mudah dimengerti. Ada sebab yang berbuah akibat, ada jalinan tali karma, ada faktor 'x', ada ini dan itu, ada banyak distorsi yang pada akhirnya hanya membuat manusia hanya bisa menerima. Menerima kebodohannya.

Distorsi itulah warna. Warna itu indah, tapi rumit. Ia mengaburkan Yin dan Yang. Tak seperti hitam dan putih yang jujur. Jika kita bisa melihat hidup dalam hitam-putih, maka segala sesuatunya akan lebih mudah dimengerti. Jika manusia mampu melampaui hitam-putih, manunggaling kawula gusti.

  • Share/Bookmark
1Apr/109

Romlah dan Romli

Romlah adalah pemakan segala. Umurnya 27, beratnya 227 kg. Ia punya toko jahit langganan yang letaknya tepat di seberang portal komplek perumahannya di bilangan Bendungan Hilir. Setiap bulan, toko itu selalu menerima pesanan Romlah untuk beragam keperluan sandangnya. Celana hitam, kemeja, rompi, syal, celana hitam lagi. Hitam warna favoritnya.

Dengan bobotnya, Romlah cukup kesulitan dalam melengkapi kebutuhan pakaian. Bukan masalah uang, tapi ukuran. Apalagi, Romlah mengklaim dirinya punya 'taste', sesuatu yang sangat dibanggakan dan nyatanya berfungsi pula sebagai tameng bagi orang-orang yang melirik tajam pada perutnya. Ia memang gemar menyatroni toko pakaian, tapi sebatas menyerap pengetahuan akan tren terkini, yang lantas lewat keahlian jarinya menggurat sketsa, sebuah kertas disulap menjadi rancangan busana dan uang bagi tukang jahit langganannya.

Seungguhnya, ada yang lebih ia gemari ketimbang pakaian, yaitu pangan. Baginya, pangan bukan lagi sekadar syarat menyambung hidup. Makan adalah hidup itu sendiri. Suatu hari, rekan kerjanya pernah menyindir, "lo sih hidup buat makan, bukan makan buat hidup." Toh, ia hanya mencibir dan berlalu, sambil mengunyah pizza sisa pesta di rumahnya semalam. Romlah makan tiga kali sehari, nyemil lima kali sehari. Dokternya khawatir bukan kepalang, bahkan perawakan Romlah saja sudah mengkhawatirkan.

---

Di kolong jembatan di daerah Pejompongan, seseorang meringkuk di dalam bedeng-nya yang berukuran 2x3 m. Dua hari lamanya ia tak beranjak ngamen. Ia mengisolasi dirinya dari kehidupan, kehidupan sendiri seolah tak peduli akan dirinya. Bedeng itu berdinding triplek tebal, yang 'ditambal' oleh asbes pada beberapa bagiannya. Pintunya selalu terbuka, karena memang sesungguhnya tak ada yang patut disebut pintu kecuali sebuah lempengan triplek lain yang bisa digeser semau empunya. Sang penghuni rupanya tak peduli, ia bahkan tak berdaya untuk peduli. Badannya yang kerempeng menggigil, kulitnya pucat pasi, pupil matanya tak mampu fokus dan bergerak tanpa pola. Sesekali, air liurnya menetes tanpa disadari. Ia kesakitan. Romli mengalami gejala putus obat.

---

Sebuah taksi melintasi Jln. Jend Sudirman, melewati kolong jembatan Semanggi, mengambil jalur lambat lantas berbelok ke kiri menuju kawasan Bendungan Hilir. Sepanjang perjalanan, supir taksi itu kerap mencuri-curi pandang melalui kaca spion tengah. Ia terheran-heran melihat penumpangnya.

Romlah memang selalu duduk di jok belakang. Menurutnya, dengan ukuran badannya, duduk di jok depan hanya akan mengintimidasi si supir. Lagipula, ia takkan bisa bebas bergerak. Oh, ia juga malas berbasa-basi dengan supir. BlackBerry adalah teman seperjalanan yang setia dan menghibur. Itu sudah cukup.

"Lurus saja, mas?" tanya supir taksi. Romlah terinterupsi, mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling. "Iya, pak. Nanti, di sebelah kanan jalan ada tukang soto betawi. Mampir sebentar, pak," pintanya. Supir itu masih mencuri pandang lewat kaca spion tengah. Entah apa yang dipikirkan.

"Soto nya satu beh, seperti biasa. Jangan lupa emping-nya yang banyak, ya!" Romlah memberi instruksi. Babeh, begitu panggilannya, sudah tahu maksud langganannya ini. Soto satu berarti soto betawi lengkap, berisi daging sapi dan jeroan, plus nasi dua porsi. Sebagian emping dijadikan satu dengan kuahnya yang telah dibubuhi jeruk nipis dan sedikit kecap. Sambal ditaruh terpisah, begitupula dengan emping tambahan. Tak butuh waktu lama bagi babeh untuk meraciknya. Sekejap saja plastik kresek hitam itu sudah berpindah tangan, bertukar dengan uang Rp20.000. "Ambil saja kembaliannya, beh," ujar Romlah seraya menepuk bahu supir taksi untuk memintanya melanjutkan perjalanan. Lima menit kemudian Romlah sudah tiba di rumah. Ia merayakan akhir hari itu dengan menyantap soto betawi hingga tuntas. "Santan dan emping memang pasangan paling cantik," ujarnya dalam hati.

---

Malam itu begitu dingin lantaran hujan yang mengguyur sepanjang hari. Angin kencang terus-menerus masuk melalui sela-sela triplek, membuat suara mendesis yang halus dan samar-samar di dalam bedeng. Romli duduk mematung, tangannya memeluk erat kakinya yang ditekuk hingga menyentuh dada, dan sarungnya menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya. Ia menatap kawan di depannya dengan tatapan frustasi. "Lo ngga ada lagi, Do?" ia memelas. Dodo adalah kawan Romli, atau lebih bisa disebut anak buahnya. Ia mengkhawatirkan keadaan Romli, yang semakin kehilangan akal sehatnya. "Ngga ada, bang. Putus," ujarnya seraya menunduk.

"Gue  ngga mau tau, pokoknya lo cariin buat gue. Kalau ngga dapat, jangan harap lo bisa tinggal di sini lagi!" Romli membentak. Matanya nanar menahan amarah, namun ia tak bisa berbuat banyak. Ia terlalu lemah dan sakit. Dodo beranjak pergi setelah berjanji akan mengusahakan apa yang Romli minta. Sesungguhnya, itu kala terakhir Romli melihat Dodo.

Keesokan harinya, bedeng milik Dodo yang berada tepat di depan bedeng Romli telah kosong melompong. Romli geram, ia merasa dikhianati. Biar bagaimana, ia adalah penguasa kawasan itu. Ketidakpatuhan seorang anak buah akan menjatuhkan wibawanya. Ia boleh sakit, tapi tidak tidak ada toleransi bagi pembangkang.

Dalam keadaan 'setengah gila', ia berpakaian. Celana jeans hitam dikenakannya, dipadukan dengan kaus putih dan sweater belel yang tebal berwarna biru tua hasil menodong bocah SMU dulu. Rambut gondrong acak-acakan memang ciri khasnya. Ia tak peduli itu. Sebelum beranjak pergi, ia menyelipkan sebilah pisau di kantongnya. Matahari hampir berada di atas kepala kala ia menyusuri kawasan Bendungan Hilir.

---

Jika saja ia memanfaatkan waktu makan siang dengan cermat, atau seandainya ia tak terburu-buru tadi pagi dan sempat menyiapkan bekal, ia mungkin tak perlu menepi secepat ini di tempat ini. Romlah memesan menu andalannya, soto betawi lengkap. Romlah menyempatkan diri untuk melipir ke kawasan bendungan hilir sebelum ia melanjutkan perjalanannya ke Plaza Indonesia untuk rapat dengan kliennya. Rapat itu dijadwalkan pukul 17.00. Pukul 16.00, Romlah masih menunggu pesanannya dengan gelisah. Perutnya 'menjerit' tak keruan, kepalanya pusing, ia menjadi pemarah.

Di dalam tenda tempat makannya, Romlah duduk di sisi kiri bangku kayu yang memanjang, di sudut meja di mana ia dapat melihat jalan raya dan mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Ia sedang melamun sambil mengeluhkan cuaca sore itu yang panas, yang membuat peluhnya mengucur deras dari dahi dan seluruh badannya. Ia selalu memakai dua lapis pakaian agar keringat itu tidak terlihat menembus pakaian dan mengundang cemooh orang-orang yang melihatnya. Sapu tangan adalah perangkat wajib.

Sesuatu yang berkilat-kilat membuyarkan lamunannya, memaksanya untuk fokus pada benda tersebut. Degup jantungnya mendadak kencang, darahnya mendesir, peluhnya membanjir, wajahnya memucat, dan kakinya gemetar hebat. Ia serasa lumpuh ketika benda itu menempel di kulit lehernya, terasa dingin, menyiratkan aroma kematian. Romli menjambak dari depan, menempelkan mata pisau itu dua inci di bawah telinga kiri Romlah. Romli juga gemetar karena sedang putus obat. Tak ada satupun orang di sana yang berani berbuat apa-apa. Keadaannya terlalu genting, tidak ada kesempatan untuk berlaku pahlawan. Romli mendekatkan mulutnya ke telinga Romlah dan berbisik, "dompet dan hp."

Satu menit kemudian, Romli melesat menghilang dengan sebuah sepeda motor RX King keluaran tahun 1997 warna hitam. Entah darimana ia mendapatkan motor tersebut. Babeh, si penjual soto betawi, memberi Romlah soto betawi secara cuma-cuma. Ia iba dengan nasib Romlah yang dirampok di tempat makannya sendiri. Ia menyesal tak mampu berbuat apa-apa. Romlah sendiri, meski masih ketakutan setengah mati, masih bisa merasa beruntung karena hanya dompet dan hp nya saja yang diambil. Ia tak bisa membayangkan seandainya si perampok juga merampas mobilnya, apalagi nyawanya. Ia mengambil kantung plastik berisi soto betawi itu, masuk ke dalam mobil, lalu beranjak pulang. Rapat dibatalkan. Semua orang bakal mengerti, pikirnya.

---

Malam itu begitu dingin lantaran hujan yang mengguyur sepanjang hari. Angin kencang terus-menerus masuk melalui sela-sela triplek, membuat suara mendesis yang halus dan samar-samar di dalam bedeng. Sesosok tubuh terbaring terlentang dengan jarum suntik masih menempel pada lengan kanannya. Tak ada dada yang mengembang dan mengempis, tak ada dengusan nafas, tak ada gerakan. Sunyi.

Di sebuah rumah di kawasan bendungan hilir, seseorang tergeletak di lantai sebuah ruang makan. Piringnya masih terisi setengah. Dalam keadaan setengah sadar pikirannya berkelana entah ke mana. Pandangannya memudar menuju kegelapan, otot-ototnya melemah, saraf sensoriknya menumpul. Ia tak mampu membaui apapun, mengecap apapun, ia bahkan tak yakin bisa mendengar. Ia merasa otaknya tak mampu bernafas, seolah pasokan oksigen dan darahnya putus. Ia pikir pastilah pembuluh darah otaknya sudah pecah. Seutas senyum sekilas tergambar di wajahnya. "Santan dan emping memang pasangan maut..."

  • Share/Bookmark
22Mar/100

AnyThink: Jika Yerusalem Bisa Bicara

Teman saya bilang, "Pertikaian di Yerusalem itu takkan pernah reda. Itu adalah tanah suci berbagai umat beragama yang akan selalu diperebutkan. Jika Yerusalem sampai damai, itu tandanya akan kiamat."

Tentu saja, perkataan teman saya itu hiperbolik, sejak tak ada seorang pun yang bisa memastikan kapan terjadinya hari kiamat, atau bahkan memastikan bahwa memang ada suatu yang disebut kiamat. Juga, pernyataan di atas bernada negatif, saya tidak suka orang pesimis.

Kenyataannya, Yerusalem kini lebih erat dengan imej konflik dan neverending warfare, ketimbang sebuah kota suci bagi tiga umat besar -Islam, Kristen, dan Yahudi. Sangatlah di luar akal sehat, ketika kota yang dianggap suci justru merupakan kota yang tanahnya seringkali dibasuh dengan darah. Tapi, sangatlah masuk di akal, jika sebuah kota yang dianggap suci memang selalu diperebutkan oleh kekuasaan. Dalam konteks Yerusalem, kota ini ibarat dibelah tiga. Jika Yerusalem bisa bicara, maka ia takkan berkata-kata, ia mungkin menjerit dan menangis pilu.

Apakah memang tidak ada kata damai di Yerusalem? Apakah takpernah ada saat-saat di mana kota ini aman, tenteram, dan harmonis? Menurut Trias Kuncahyono, jawabannya "ada". Dalam bukunya yang berjudul Yerusalem; Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir, Trias menemukan bahwa warga Yerusalem dalam berabad-abad waktu, hidup secara toleran. Namun, ia juga mengakui bahwa Yerusalem memiliki wajah lain yang ganas. "Bagaimanapun, Yerusalem bukan kota malaikat," tutur Trias dalam sebuah acara bedah bukunya.

Jika ditelusuri, sejarah kota ini begitu panjang dan memikat, begitu besar sekaligus membuat pilu. Sepanjang sejarahnya, Yerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai/dikuasai ulang sebanyak 44 kali. Bisakah Anda membayangkan, betapa tak tersedianya waktu yang cukup bagi Yerusalem untuk berkembang. Pertumbuhan ekonominya mengalami kebuntuan akibat sengketa kekuasaan dan peperangan.

Yang lebih mengerikan, seperti apakah kelak tabiat generasi muda mereka? yang seumur hidupnya telah dibiasakan dengan kata perang, suara tembakan, serta nyala api dari ekor sebuah roket? Saya tidak berani membayangkan.

Kini, hubungan antara Israel dan bonekanya, Amerika Serikat sedang goyah. Pasalnya, perdana menteri Israel, Benyamin Netanyahu berkeras untuk membangun pemukiman-pemukiman Yahudi di sekitar Yerusalem. Ini dinilai membahayakan status quo Israel-Palestina yang memang selalu berada di titik didih. Washington memang mengecam tindakan ini dan mengancam akan menghentikan usahanya bagi perundingan tidak langsung antara Israel dan Palestina. Namun, pertanyaannya adalah, beranikah Amerika Serikat memberi sanksi keras terhadap Israel?

Berhubung saya tidak menyukai nada pesimis, maka saya akan mengutip pernyataan Hillary Clinton yang dikutip dari TVOne. Hillary bilang, "Ada jalan lain. Jalan yang menuju pada keamanan dan kesejahteraan bagi semua orang di kawasan itu. Itu akan memerlukan semua pihak -- termasuk Israel-- untuk melakukan pilihan yang sulit tetapi perlu." Hmm... (ini skeptis, bukan pesimis). Saya kembali membayangkan, jika Yerusalem bisa bicara, maka ia takkan berkata-kata, ia mungkin menjerit dan menangis pilu.

  • Share/Bookmark
21Mar/107

AnyThink: Suicide Notes

Pernahkah Anda membayangkan apa yang ada di dalam pikiran seseorang yang bunuh diri? apa yang mendorongnya? apa yang memperngaruhinya?apapula yang memantapkan niatnya? Rasanya, semua pertanyaan itu takkan pernah terjawab dengan tuntas. Pikiran-pikiran mengerikan seperti itu tampaknya hanya milik dirinya seorang, tidak untuk dibagi, apalagi untuk didiskusikan. Dan, jika pun pada akhirnya pikiran itu terkuak, maka hampir bisa dipastikan semuanya sudah terlambat. Sang pemikir sudah meninggalkan dunia ini, dengan menyisakan beberapa patah kata saja untuk direnungkan. Seperti catatan-catatan berikut.

And so I leave this world, where the heart must either break or turn to lead.
Suicide note.
~~ Nicolas-Sebastien Chamfort, French writer, d. 1794

Frances and Courtney, I'll be at your altar. Please keep going Courtney, for Frances for her life will be so much happier without me. I LOVE YOU. I LOVE YOU.
Suicide note.
~~ Kurt Cobain, musician, d. April 8, 1994

Goodbye, everybody!
Last words as he jumped off the cruise ship "Orizaba." (His body was never found.)
~~ Hart Crane, poet, d. April 27, 1932

To my friends: My work is done. Why wait?
Suicide note.
~~ George Eastman, inventor, d. March 14, 1932

Lets see if this will do it.
Accidental suicide as he shot himself with a blank-loaded pistol on the set of TV spy show "Cover Up." The concussion forced a chunk of his skull into his brain; he died six days later.
~~ Jon Erik Hexum, actor, d. October 18, 1984

All fled--all done, so lift me on the pyre;
The feast is over, and the lamps expire.
Suicide note.
~~ Robert E. Howard, writer, d. June 11, 1936

Don't worry, it's not loaded.
Suicide playing Russian roulette.
~~ Terry Kath, rock musician, d. January 23, 1978

They tried to get me - I got them first!
Suicide by drinking Lysol.
~~ Vachel Lindsay, poet, d. December 4, 1931

I must end it. There's no hope left. I'll be at peace. No one had anything to do with this. My decision totally.
Suicide note.
~~ Freddie Prinze, comedian, d. January 29, 1977

Dear World, I am leaving you because I am bored. I feel I have lived long enough. I am leaving you with your worries in this sweet cesspool - good luck.
Suicide note.
~~ George Sanders, British actor, d. April 25, 1972

When I am dead, and over me bright April
Shakes out her rain drenched hair,
Tho you should lean above me broken hearted,
I shall not care.
For I shall have peace.
As leafey trees are peaceful
When rain bends down the bough.
And I shall be more silent and cold hearted
Than you are now.
Suicide note to her lover who left her.
~~ Sara Teasdale, poet, d. 1933

To Harald, may God forgive you and forgive me too but I prefer to take my life away and our baby's before I bring him with shame or killing him, Lupe.
Suicide note.
~~ Lupe Velez, actress, d. December 13, 1944

The future is just old age and illness and pain.... I must have peace and this is the only way.
Suicide note.
~~ James Whale, film director, d. May 29, 1957

I feel certain that I'm going mad again. I feel we can't go thru another of those terrible times. And I shan't recover this time. I begin to hear voices
Suicide note
~~ Virginia Woolf, author, d. March 28, 1941

  • Share/Bookmark
19Mar/100

AnyThink: Cuci Mobil dan Kedatangan Obama

Hari ini saya mulai dengan terlambat. Saya baru bangun pukul 10.00, dan semua orang rumah sudah menghilang. Sangat menjengkelkan ketika hal-hal seperti ini terjadi, pasalnya, hari ini banyak sekali urusan yang musti diselesaikan, mulai dari yang remeh hingga yang cukup serius.

Ok, dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia biasa -ini hiperbola-, saya sarapan, mandi, berpakaian, lalu menyambar kunci mobil. Yang terjadi kemudian terjadi dengan instingtif, membuka kap mobil, mengisi air radiator, mengecek pelumas rem dan power steering, lalu menyalakan mobil. Mungkin, ini yang disebut rutinitas -segala sesuatu yang dilakukan tanpa kesadaran penuh dan berkala.

Mesin mobil mobil menderu, saya sudah di depan kemudi. Pikiran saya melayang dan bekerja secara sistematis mengatur rencana kegiatan hari ini, termasuk urutan waktunya, dan bahkan rutenya. Agenda pertama saya ialah melakukan survey harga terpal di toko material, yang ternyata meleset karena tergoda setelah melihat sebuah bengkel cuci mobil yang lowong.

Mobil KIA Sportage tahun 2000 dengan warna hijau itu saya arahkan ke bengkel. Saya turun dan melangkah ke ruang tunggu yang, meskipun memiliki pendingin ruangan, tetap terasa panas dan bau oli. Untungnya, di sana mereka menjual berbagai minuman dingin, punya TV, serta koran Kontan edisi hari ini.

Presiden Barrack Obama

Saya jadi teringat berita semalam, bahwa presiden Amerika Serikat Barrack Obama menunda kunjungannya ke Jakarta. TV yang sedang menyala itu menampilkan saluran TVOne, yang kebetulan topiknya mengenai Obama. Di sana disebutkan bahwa batalnya kunjungan tersebut disebabkan oleh adanya "urusan" yang berkaitan dengan RUU Kesehatan yang tengah diperjuangkannya. Saya tidak peduli.

Banyak yang menyesalkan penundaan kedatangan Obama untuk yang kedua kalinya. Di TVOne, anak-anak dari SD Asisi -tempat Obama bersekolah dulu- berkata sangat kecewa atas penundaan ini, karena mereka telah bersusah-payah latihan menari sebagai salah satu acara untuk menyambut kedatangan Obama.

Namun, di pihak lain, ada juga yang menerimanya, seperti Tien Soemitro. Bude dari Obama ini menanggapinya dengan lapang dada. Menurutnya, daripada kenapa-napa, lebih baik kunjungan ini ditunda. "Saya nggak kecewa Barry menunda kedatangannya. Karena saya juga mengerti situasi politik di dalam negeri. Saya lebih beruntung, daripada dia kenapa-napa, mending ditunda," ujarnya kepada Detik.com. Memang, pro-kontra kedatangannya sedang merebak di Indonesia.

Banyak orang mengharapkan sesuatu yang positif dari kedatangan Obama ke Indonesia. Alasannya juga masuk akal. Barrack Obama pernah tinggal di Menteng, sekolah di Jakarta, punya ayah yang berikatan erat dengan Papua, dan punya keluarga besar yang tinggal di Indonesia. Namun, yang saya rasakan dari publik Indonesia lebih kepada suatu keinginan akan perubahan yang instan. Kasarnya, ini seperti berharap hutang Indonesia dihapus total, atau, Indonesia dijadikan sekutu utama di Asia Tenggara. Hm, kalau ini sih naif menurut saya.

Saya tidak punya kepentingan apa-apa dengan kedatangan Obama. Saya punya kekaguman atas keberhasilannya untuk memenangkan Pemilu AS dengan fakta bahwa ia berkulit hitam. Saya juga menghargai keputusannya untuk menutup penjara Guantanamo. Tapi, cukup sampai di situ, dan tidak mau berlebihan apalagi membangga-banggakan bahwa ia pernah tinggal di Indonesia dan berharap banyak dari situ.

Oh, mobil saya sudah selesai dicuci. Setelah membayar Rp25.000 plus memberi tip Rp5.000, saya membawa mobil itu keluar. Saya mengujungi beberapa toko material, melanjutkan agenda hari ini. Setelah mendatangi tiga toko, saya memutuskan untuk menyudahi agenda survey ini. Matahari kelewat panas, dan waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Saya sangat terlambat datang ke kantor.

Dari kubikal kantor saya yang kecil, saya mulai mengetik kata demi kata artikel ini. Ternyata, ada sedikit rasa sesal mengenai tertundanya kunjungan Obama ke Indonesia. Bukan apa-apa, ini hanya karena AREA Magazine sudah membuat sebuah artikel berjudul Letter to Obama.

  • Share/Bookmark
18Mar/100

AnyThink: iPad Bisa Jadi Solusi Majalah Cetak

Jadi, ini adalah artikel pertama di blog ini yang berkategori "Daily Journal". Ya, saya mencoba untuk mendisiplinkan diri untuk menulis, melemaskan otot-otot menulis saya yang belakangan kaku -saya tidak kuat untuk menulis 2000 kata, dan saya adalah penulis? hmm...-. Selain itu, dengan daily journal ini saya juga ingin merekam perjalanan hidup ini dari hari ke hari, untuk kemudian di evaluasi di akhir 2010, dengan catatan: saya masih hidup dan cukup hidup untuk melakukannya.

iPad bantu metamorfosis majalah cetak?

Ok, so what's on today? Hm, saya memulai hari ini dengan membaca artikel tentang iPad yang dibahas oleh Chris Anderson dari Wired. Intinya, bahwa keberadaan iPad sangat mungkin berpengaruh terhadap pola kebiasaan orang dalam membaca dan mungkin sebuah solusi bagi sebuah media cetak untuk go digital. Maksudnya adalah majalah digital, bukan website.

Apa yang selama ini menjadi kendala bagi majalah online ialah terutama dikarenakan pola kebiasaan yang berbeda tadi. Jika dalam versi cetak sangatlah enak untuk membaca artikel 5000 kata, namun ketika artikel tersebut dipindahkan ke media online, maka akan sangat menjemukan dan melelahkan mata. Untuk fotografi, sebuah fashion spread di majalah belum tergantikan di media online. Apalagi untuk desain, desainer cetak tentu akan 'mati gaya'. Budayanya berbeda, treatment-nya juga harus berbeda.

Jadi, inilah celah bagi iPad untuk masuk. Ia seperti ingin memberi solusi untuk banyak pihak. Pertama, ia ingin membuka mata pembaca bahwa sekarang ini kita memasuki era digital, di mana efisiensi, kecepatan, dan kemudahan sangat dibutuhkan. Kedua, ia memberi solusi untuk majalah cetak agar mereka tetap bisa hidup, meski tanpa membuang-buang kertas. Anda mengerti maksud saya? Produk mereka akan tetap sama, ada layout menarik, fashion spread yang cantik, tulisan yang mendalam, namun bukan dalam bentuk majalah, melainkan file. Digital magazine ini tentu tidak akan enak jika dibaca di Blackberry atau PC. Namun, sepertinya iPad menawarkan sensasi yang berbeda. Dan, tentu saja, seperti layaknya produk Apple yang lain, iPad memiliki "cool" factor. Bisakah ia membawa perubahan? mari kita lihat dengan seksama.

Setelah iPad. Pagi ini saya lanjutkan dengan semangkuk bubur ayam, segelas air putih, sebatang rokok, dan secangkir kopi hitam. Lalu, saya menengok apa saja yang sedang terjadi di Jakarta melalui Twitter. Hm, ternyata radio Prambors ulang tahun. Selamat ulang tahun! semoga meski pun sudah tua tapi tetap berjiwa muda.

Sekian dulu jurnal pagi ini, karena saya musti kembali ke pekerjaan. Apa yang harus saya lakukan hari ini ialah melakukan riset tentang Nike Running, karena saya akan meeting bersama orang-orang ini nanti siang. Plus, satu yang pasti ialah menulis untuk areamagz.com. Happy Thursday lads!

  • Share/Bookmark