Mengulik Pabrik di Punggung Gunung Halimun

March 14, 2010

Pemetik teh di Gunung Halimun

Mobil itu berhenti di tengah jalanan menanjak dan berbatu. Ban yang memang telah gundul itu sepertinya tak mampu lagi menahan beban berat. L300, begitu kami menyebutnya, terpaksa ‘dibedah’ di tempat oleh sang supir dan memaksa para penumpang bersabar sejenak. Tak mengapa, toh, kami bisa melakukan banyak hal untuk membunuh waktu, seperti mengambil gambar perkebunan teh, melihat gigiran bukit di kejauhan, atau berdiam saja. Terserah.
Sebelumnya, pada Sabtu pagi itu, sekitar pukul 09.00, 18 orang peserta Travel Writing Class (TWC) bertolak dari Research Station di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tempat kami menginap. Selama setengah jam lebih perjalanan, perut kami ‘dikocok’. Beruntung perut-perut itu belum terisi sesuatu yang potensial untuk dimuntahkan. Saya sendiri, berhubung masih mengantuk, sempat terbentur karena goncangan yang hebat. Setelah itu saya melek sepanjang perjalanan.
Perhentian pertama terjadi ketika mobil kami melintasi serombongan pemetik teh. Seluruh peserta kelas berhamburan keluar dan mendekati mereka untuk berbincang-bincang dan mengambil gambar. Sepertinya, para pemetik teh tidak keberatan menjadi pusat perhatian. Dengan cakap mereka bahkan mengajari caranya mengukur pucuk teh yang siap dipetik.
Para pemetik teh ini kebanyakan perempuan. Mereka bekerja dari pagi hingga sore setiap harinya dengan upah sebesar Rp300.000 per bulan, lebih sedikit Rp180.000 dari para perawat kebun teh. Bonus yang mereka dapat setiap hari juga relatif kecil, yaitu Rp10.000 untuk setiap 20 kg daun teh yang mereka kumpulkan. “Ya, agak susah mas kalau untuk menghidupi anak-anak”, tukas Lina (38), ibu empat orang yang sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan ini.
Di luar masalah ekonomi yang menghimpit para buruh pemetik teh, melihat cara mereka bekerja sangatlah menarik. Tangan-tangan itu sangat terampil dalam menggunting pucuk demi pucuk dengan kecepatan dan ketelitian yang tinggi, juga disertai daya konsentrasi yang kuat. Daun demi daun, karung demi karung. Sangat ulet dan cekatan.
Setelah berpamitan, rombongan kami kembali merangsek ke dalam mobil. Salah seorang dari kami mendengar ban itu berdesis. Namun, dengan perhitungannya sendiri, sang supir memilih untuk mengabaikan kebocoran tersebut hingga kami tiba di tempat tujuan. Mobil itu kembali merayapi jalan berbatu, menanjak, berkelok, berkelit, hingga ‘nafas’ terakhir dihembuskan dari ban berlubang itu. Perhitungan sang supir meleset. Kami menepi untuk kedua kalinya.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 saat mobil kami melintasi kawasan Citalahab dan melintasi gerbang bertuliskan PT. Nirmala Agung. Ya, kami telah tiba di pabrik teh, tempat tujuan utama hari itu. Tanpa perlu komando, para peserta TWC kembali menghambur keluar dengan ‘senjata’ andalan masing-masing, seperti recorder, notebook, kamera, dan alat tulis. Mereka berusaha menangkap momen dengan sebaik-baiknya.
Melawat ke sebuah pabrik ternyata menyenangkan. Ini bukan sekedar wisata mata, tapi lebih memiliki nilai pengetahuan. Bersama pemandu, kami menyaksikan secara bertahap proses pembuatan teh yang rumit, mulai dari proses pelayuan, penggilingan, fermentasi, pengeringan, hingga pemisahan. Kami berjalan dari satu titik ke titik lain dan melihat alat-alat berat yang biasanya tersembunyi di balik dinding-dinding pabrik. Suara-suara mesin berdengung tanpa henti, menemani aroma teh yang kental dan menyeruak ke seluruh ruangan. Hawa di dalam tidak terlalu panas lantaran pabrik ini berada di pegunungan. Hanya saja, udaranya sedikit pengap dan lembab.
Pemandu kami adalah seorang ahli. Ia memegang peranan penting dalam keseluruhan pembuatan teh. Ia mengawasi dari awal hingga akhir, dari daun hingga kemasan. Endapan pengalaman selama bertahun-tahun bekerja membuatnya fasih dalam memilah mana teh yang bagus dan mana yang tidak. Hanya dengan melihat golden ring (lingkaran keemasan yang muncul di sekeliling teh yang bersentuhan dengan gelas) atau mencicipi sedikit saja, ia bisa menentukan kualitas teh tersebut. Buat saya, profesinya adalah seni.
Sungguh mengejutkan ketika mengatahui bahwa teh yang beredar di dalam negeri bukan kualitas nomor satu. “Teh kualitas nomor satu dan dua itu biasanya untuk di ekspor ke luar negeri”, tutur pemandu kami. Dengan kata lain, teh yang beredar itu adalah kualitas nomor tiga. Atau, paling tidak, itu merupakan hasil blend antara teh kualitas nomor dua dan tiga. Mulai dari titik ini, teh bukan lagi sekedar bahan minuman, tapi sudah menjadi komoditi yang bisa mendatangkan keuntungan besar. Uang berbicara.
Mesin-mesin itu berhenti. Saat itu sudah pukul 12.00, waktunya makan siang. Dengan perut yang sedikit kelaparan, rombongan kami pun undur diri. Kami memacu mobil ke arah pulang dan berhenti pada sebuah shelter untuk makan siang. Nasi bungkus itu memang lezat. Kami pun bersenda gurau sambil melahap ayam, ikan asin, kerupuk udang, dan keringan tempe yang menggelitik lidah.
Alih-alih naik mobil, kami memilih pulang dengan berjalan kaki. Jarak dari shelter ke basecamp kami cukup jauh dengan medan yang bervariasi. Kami berjalan menyusur lembah, memotong desa, menyeberang kali, melintas sawah, dan kembali masuk hutan lewat jalur yang menanjak curam.
Selanjutnya semua berlalu silih berganti. Derap langkah, gurauan, tawa, lenguhan nafas, tanah, lumpur, gemericik air, udara segar, tangan-tangan bertaut, dahan tumbang, pohon Rasamala, pohon Rangeus, bunga Onje, bunyi shutter kamera, peluh keringat, shelter terbengkalai, dan teriakan semangat para pejalan. Kami semua tiba dengan selamat di Research Station saat senja menjelang. Kami siap untuk makan malam.
  • Share/Bookmark

Tags: , , , , , ,

2 Responses to Mengulik Pabrik di Punggung Gunung Halimun

  1. fidaa on April 5, 2010 at 6:53 pm

    iiiih Halimuuuun. menyenangkan sekali bisa ke Halimun. satu pengalaman yg sanat mengesankan.

  2. Bayu Maitra on April 7, 2010 at 12:32 pm

    Iyaa…kapan lagi yah Fida? gue kangen ngumpul sama anak2 niih :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Search

RSS Newsweek

RSS Wired