Inilah kota yang pernah dibakar, dijarah, dan mati. Bertahun-tahun kemudian, saya melancong ke sana untuk melihat sisa-sisa kejayaannya di masa lampau.
Ayutthaya terletak di utara kota Bangkok, Thailand. Jika Anda memutuskan naik bus dari Northern Bus Terminal di Morchit, waktu tempuhnya kira-kira selama tiga jam. Anda juga bisa memilih kereta sebagai alternatif lain. Biayanya murah, tak lebih dari 40Baht (tergantung kelas).
Berbeda dari Bangkok, Ayutthaya bukanlah sebuah kota modern. Ia merupakan kota tua yang dianggap sakral dan kaya akan sejarah. Kota ini didirikan oleh Raja U Thong dan menjadi ibukota kerajaan Thai sejak tahun 1350, sebelum hancur diserbu Burma pada tahun 1767. Ketika itu, Ayutthaya dibakar dengan tujuan untuk melelehkan emas-emas yang terdapat pada kuil-kuil dan candinya. Perbuatan ini membekas di hati rakyat Thai hingga kini.
Kini, Ayutthaya merupakan kota yang dipenuhi reruntuhan kuil-kuil kuno. Untuk masuk ke situs-situs ini, pengunjung dikenakan biaya sebesar 20Baht. Beberapa di antaranya tidak dikenakan biaya. Ada beberapa cara untuk mengitari kota kecil yang dikelilingi aliran sungai Chao Phraya ini, yaitu dengan menyewa kendaraan, mencarter Tuk-Tuk (kendaraan khas Thailand yang menyerupai Bajaj), atau menyewa sepeda. Sebenarnya, sepeda adalah alternatif yang murah dan menyenangkan. Namun, karena waktu yang sempit, saya memilih menyewa Tuk-Tuk dengan biaya 300Baht. Oh, itu setelah tawar-menawar yang alot.
Berbekal kamera dan sebotol air mineral, saya menjelajahi Ayutthaya. Ada beberapa kuil penting yang memang sudah menjadi target saya, seperti Wat Chai Wattanaram, Wat Phanan Choeng, Wat Phra Si Sanphet, serta Wat Mahathat. Kuil-kuil di sini memiliki karakter yang berbeda-beda, sesuai dengan bangsa yang berkuasa saat itu. Selain gaya Thai, ada kuil-kuil yang terpengaruh budaya Kamboja, Cina, dan Siam. Tak hanya kuil, Ayutthaya sebenarnya menyimpan berbagai spot menarik yang bisa dieksplorasi, seperti distrik muslim atau gereja Portugis. Waktu yang sempit tak memungkinkan saya menyambangi semuanya.
Dari semua kuil yang saya datangi, ada dua kuil yang paling berkesan bagi saya, yaitu Wat Chai Wattanaram dan Wat Phanan Choeng. Wat Chai Wattanaram merupakan sebuah kompleks kuil yang luas, yang menyiratkan kesan epik sekaligus memberikan gambaran akan kebesaran kota ini di masa lalu. Candi-candinya tersusun apik, patung buddha raksasa bersila di pusat kuil. Satu lagi, saya menemukan sebuah pohon yang pada akarnya terpahat ukiran wajah buddha. Sangat unik.
Sementara, Wat Phanan Choeng merupakan kuil bergaya Cina yang masih aktif hingga saat ini. Kuil ini menimbulkan kesan mistik yang mendalam melalui dekorasi yang didominasi warna merah dan oranye. Di dalamnya juga terdapat patung buddha raksasa berlapis emas yang menjadi pusat doa para pengunjungnya. Sementara bagian belakang kuil dipenuhi berbagai macam patung-patung dewa kepercayaan mereka.
Saya menghabiskan dua hari untuk mengeksplorasi kota ini dan mendapatkan berbagai pengalaman menarik, mulai dari ketagihan Tom Yum, mencicipi jajanan sekolah di sana, mondar-mandir naik Tuk-Tuk, berburu kuil, hingga beramah-tamah dengan penduduk lokal. Kini, waktunya Anda mencoba!


banyak temen yang sudah ke bangkok, tapi jarang yang mampir ke sini pdhal kayaknya tempatnya keren oi…
great blog! layoutnya keren…
Bagus kok kotanya Fitri, meski bukan metropolitan kaya di Bangkok.
terima kasih ya sudah mampir:)