Bocah Jakarta Menjejak Berlin

March 15, 2010

Sandhy Sondoro

Inilah tampak samping dari Sandhy Sondoro yang sedang memegang gitar Lakewood seharga 3000 Euro (salah satu pemilik lain gitar ini ialah Thom Yorke). Saat itu ia sedang melantunkan lagu “Forever My Queen” dari album perdananya yang berjudul Why Can’t We. Hmm, Barrack Obama pasti bilang, yes, we can!
Sandhy adalah anak kelahiran Jakarta, 35 tahun lalu. Dalam rentang usia yang terbilang matang, begitu banyak lika-liku hidup yang telah dilaluinya, sebelum akhirnya ia berhasil mengukuhkan jati dirinya sebagai musisi dengan menelurkan album di negeri Hitler.
Ia sendiri mengklaim sudah mulai bernyanyi saat usia tiga tahun. Pada saat SMU, ia menyalurkan hasrat bermusiknya dengan membentuk band yang meng-cover lagu-lagu Mr. Big dan Van Halen. Ia pun meninggalkan tanah Indonesia pada usia 19 tahun, sempat ‘mampir’ di California, sebelum akhirnya bertolak ke Berlin untuk melanjutkan study di bidang interior design.
Kesulitan berbuah hasil. Di Berlin, Sandhy yang hidup sendiri terpaksa mandiri. Mulai dari mencari uang makan, belajar memasak, hingga membiayai studinya. Tak ayal, ia musti putar otak dan memeras keringat. Dorongan untuk bermusiklah yang akhirnya dijadikan jalan untuk mengumpulkan pundi-pundi penyambung hidup. Ia pun mulai menjajaki jalan-jalan kota Berlin, mengamen di Metro, from pub to pub. Di jalanan ini pula ia mulai dikenal dan berkenalan dengan sejumlah musisi dan produser di sana.
Jalannya memang tak lantas mulus. Ia bergelut selama sepuluh tahun (1997-2007) sebelum akhirnya berhasil merilis album -setelah lima kali gagal kontrak. Wajahnya yang Melayu menjadi kendala tersendiri bagi usahanya menembus pasar Eropa. Perjalanan hidupnya ini terekam dalam lagu berjudul “Down on the Streets”. Loncatan vital karir musiknya terjadi saat ia mengikuti kontes “SSDSDSSWEMUGABRTLAD”, sebuah acara yang dipandu oleh Stefan Raab, seorang kult moderator berpengaruh di Jerman. Meski hanya menduduki peringkat lima, nama Sandhy Sondoro, musisi berkarakter blues dengan vokal serak yang khas ini mulai bergaung di telinga ribuan orang. Fans yang berasal dari Eropa mulai menyuratinya, dan membawanya tour ke negara-negara seperti Denmark, Spanyol, dan Italia.
Album Why Can’t We sendiri telah dirilis sebanyak 4000 kopi di Jerman dan Austria, serta dapat dibeli secara online melalui situs amazon.com dan i-tunes store. Rencananya, ia juga akan merilis albumnya di Indonesia pada Januari mendatang. Preview albumnya dapat didengar di situs resminya.
Begitulah sekilas kisah tentang Sandhy Sondoro. Semoga kisahnya bisa menginspirasi musisi Indonesia lainnya untuk maju dan menjejak dunia. Hmm, seandainya Barrack Obama membaca tulisan ini, mungkin ia bakal bilang, “yes, you can!”
  • Share/Bookmark

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Search

RSS Newsweek

RSS Wired