Kemarin, sebuah brand sepatu bernama Crocs membuat Jakarta heboh. Pasalnya, mereka melakukan manuver gila dengan memberi diskon hingga 70% untuk produk-produknya. Dampaknya sungguh membuat heboh, baik di ‘Twittersphere’ maupun di dunia nyata.

Crocs, like or dislike

Gerai Crocs di Senayan City yang menjadi ‘TKP’ langsung disesaki pengunjung sejak pagi. Parkiran Senayan City penuh oleh pemburu Crocs, sehingga banyak sekali mobil-mobil yang terpaksa parkir di pinggiran jalan masuk mal. Lalu, ini yang menarik, terdapat kursi-kursi yang berjajar panjang di setidaknya tiga lantai. Ini digunakan oleh orang-orang yang mengantri untuk menyerbu tempat Crocs menjajakan barang. Seorang petugas dengan pengeras suara sesekali menyuarakan, bahwa sale ini akan berlangsung selama tiga hari. Pihak manajemen juga mengeluarkan kebijakan berupa sistem buka-tutup toko, dengan 20 pelanggan yang masuk secara bergantian. Lalu, terdapat pula sebuah papan bertuliskan informasi, “antrian tidak boleh diwakilkan”. Luar biasa. Seperti pasar saja.

Sebenarnya, apa sih sebenarnya kelebihan Crocs sendiri? Hm, asal tahu saja, dulu George B. Boedecker menciptakan Crocs sebagai sepatu spa. Mungkin, ia sendiri tak membayangkan bahwa Crocs bisa menembus ranah fashion dan bahkan menjadi sedemikian terkenal dan digandrungi banyak orang. Bahannya yang terbuat dari karet bersel tertutup, anti selip dan anti mikroba (disebut croslite) mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat pamornya melejit. Kemudahan pemakaian, efisiensi, dan ketahanan mungkin menjadi faktor lainnya, begitupula dengan warnanya yang mencolok. Yang terakhir ini relatif sesuai selera.

Tak ada sesuatu yang sempurna. Ternyata, sepatu Crocs juga memiliki kelemahan, terutama jika berhadapan dengan eskalator. Seperti dalam berita yang dilansir oleh VIVAnews, sejarah Crocs ternyata diwarnai oleh insiden kecelakaan. “Eskalator adalah musuh utama Crocs. Pada 2007 lalu fenomena Crocs mulai tejadi di Jakarta, seiring dengan itu sejumlah kecelakaan akibat terjepit eskalator juga terjadi. Sepatu yang ujungnya berbentuk bulat ternyata dapat tersangkut di Eskalator.”

Menurut saya, dasar yang menyatakan bahwa sepatu berujung bulat menjadi penyebab utama insiden kecelakaan eskalator memiliki dasar yang lemah. Karena, kalau memang benar demikian, sepatu Crocs tentu sudah tinggal sejarah.

Tapi, ini bukan berarti saya menyukai Crocs. Jujur saja, saya tak tertarik sama sekali. Buat saya, baik dari bentuk maupun warnanya, Crocs membuat saya tampak bodoh ketika memakainya. Dan, semakin ‘pasaran’, semakin anti pula saya dengan Crocs. Ketika saya menulis ini, saya bahkan sempat berpikir untuk memesan kaos anti-Crocs yang menarik di situs ihatecrocs.com, ha-ha-ha. Intinya, produk ini memang bukan untuk saya. Untuk Anda, mungkin? Jika jawabannya “ya”, silahkan serbu Senayan City. Sebelumnya, cek dulu situsnya.

  • Share/Bookmark