Hari ini saya mulai dengan terlambat. Saya baru bangun pukul 10.00, dan semua orang rumah sudah menghilang. Sangat menjengkelkan ketika hal-hal seperti ini terjadi, pasalnya, hari ini banyak sekali urusan yang musti diselesaikan, mulai dari yang remeh hingga yang cukup serius.
Ok, dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia biasa -ini hiperbola-, saya sarapan, mandi, berpakaian, lalu menyambar kunci mobil. Yang terjadi kemudian terjadi dengan instingtif, membuka kap mobil, mengisi air radiator, mengecek pelumas rem dan power steering, lalu menyalakan mobil. Mungkin, ini yang disebut rutinitas -segala sesuatu yang dilakukan tanpa kesadaran penuh dan berkala.
Mesin mobil mobil menderu, saya sudah di depan kemudi. Pikiran saya melayang dan bekerja secara sistematis mengatur rencana kegiatan hari ini, termasuk urutan waktunya, dan bahkan rutenya. Agenda pertama saya ialah melakukan survey harga terpal di toko material, yang ternyata meleset karena tergoda setelah melihat sebuah bengkel cuci mobil yang lowong.
Mobil KIA Sportage tahun 2000 dengan warna hijau itu saya arahkan ke bengkel. Saya turun dan melangkah ke ruang tunggu yang, meskipun memiliki pendingin ruangan, tetap terasa panas dan bau oli. Untungnya, di sana mereka menjual berbagai minuman dingin, punya TV, serta koran Kontan edisi hari ini.
Saya jadi teringat berita semalam, bahwa presiden Amerika Serikat Barrack Obama menunda kunjungannya ke Jakarta. TV yang sedang menyala itu menampilkan saluran TVOne, yang kebetulan topiknya mengenai Obama. Di sana disebutkan bahwa batalnya kunjungan tersebut disebabkan oleh adanya “urusan” yang berkaitan dengan RUU Kesehatan yang tengah diperjuangkannya. Saya tidak peduli.
Banyak yang menyesalkan penundaan kedatangan Obama untuk yang kedua kalinya. Di TVOne, anak-anak dari SD Asisi -tempat Obama bersekolah dulu- berkata sangat kecewa atas penundaan ini, karena mereka telah bersusah-payah latihan menari sebagai salah satu acara untuk menyambut kedatangan Obama.
Namun, di pihak lain, ada juga yang menerimanya, seperti Tien Soemitro. Bude dari Obama ini menanggapinya dengan lapang dada. Menurutnya, daripada kenapa-napa, lebih baik kunjungan ini ditunda. “Saya nggak kecewa Barry menunda kedatangannya. Karena saya juga mengerti situasi politik di dalam negeri. Saya lebih beruntung, daripada dia kenapa-napa, mending ditunda,” ujarnya kepada Detik.com. Memang, pro-kontra kedatangannya sedang merebak di Indonesia.
Banyak orang mengharapkan sesuatu yang positif dari kedatangan Obama ke Indonesia. Alasannya juga masuk akal. Barrack Obama pernah tinggal di Menteng, sekolah di Jakarta, punya ayah yang berikatan erat dengan Papua, dan punya keluarga besar yang tinggal di Indonesia. Namun, yang saya rasakan dari publik Indonesia lebih kepada suatu keinginan akan perubahan yang instan. Kasarnya, ini seperti berharap hutang Indonesia dihapus total, atau, Indonesia dijadikan sekutu utama di Asia Tenggara. Hm, kalau ini sih naif menurut saya.
Saya tidak punya kepentingan apa-apa dengan kedatangan Obama. Saya punya kekaguman atas keberhasilannya untuk memenangkan Pemilu AS dengan fakta bahwa ia berkulit hitam. Saya juga menghargai keputusannya untuk menutup penjara Guantanamo. Tapi, cukup sampai di situ, dan tidak mau berlebihan apalagi membangga-banggakan bahwa ia pernah tinggal di Indonesia dan berharap banyak dari situ.
Oh, mobil saya sudah selesai dicuci. Setelah membayar Rp25.000 plus memberi tip Rp5.000, saya membawa mobil itu keluar. Saya mengujungi beberapa toko material, melanjutkan agenda hari ini. Setelah mendatangi tiga toko, saya memutuskan untuk menyudahi agenda survey ini. Matahari kelewat panas, dan waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Saya sangat terlambat datang ke kantor.
Dari kubikal kantor saya yang kecil, saya mulai mengetik kata demi kata artikel ini. Ternyata, ada sedikit rasa sesal mengenai tertundanya kunjungan Obama ke Indonesia. Bukan apa-apa, ini hanya karena AREA Magazine sudah membuat sebuah artikel berjudul Letter to Obama.
