Teman saya bilang, “Pertikaian di Yerusalem itu takkan pernah reda. Itu adalah tanah suci berbagai umat beragama yang akan selalu diperebutkan. Jika Yerusalem sampai damai, itu tandanya akan kiamat.”
Tentu saja, perkataan teman saya itu hiperbolik, sejak tak ada seorang pun yang bisa memastikan kapan terjadinya hari kiamat, atau bahkan memastikan bahwa memang ada suatu yang disebut kiamat. Juga, pernyataan di atas bernada negatif, saya tidak suka orang pesimis.
Kenyataannya, Yerusalem kini lebih erat dengan imej konflik dan neverending warfare, ketimbang sebuah kota suci bagi tiga umat besar -Islam, Kristen, dan Yahudi. Sangatlah di luar akal sehat, ketika kota yang dianggap suci justru merupakan kota yang tanahnya seringkali dibasuh dengan darah. Tapi, sangatlah masuk di akal, jika sebuah kota yang dianggap suci memang selalu diperebutkan oleh kekuasaan. Dalam konteks Yerusalem, kota ini ibarat dibelah tiga. Jika Yerusalem bisa bicara, maka ia takkan berkata-kata, ia mungkin menjerit dan menangis pilu.
Apakah memang tidak ada kata damai di Yerusalem? Apakah takpernah ada saat-saat di mana kota ini aman, tenteram, dan harmonis? Menurut Trias Kuncahyono, jawabannya “ada”. Dalam bukunya yang berjudul Yerusalem; Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir, Trias menemukan bahwa warga Yerusalem dalam berabad-abad waktu, hidup secara toleran. Namun, ia juga mengakui bahwa Yerusalem memiliki wajah lain yang ganas. “Bagaimanapun, Yerusalem bukan kota malaikat,” tutur Trias dalam sebuah acara bedah bukunya.
Jika ditelusuri, sejarah kota ini begitu panjang dan memikat, begitu besar sekaligus membuat pilu. Sepanjang sejarahnya, Yerusalem telah dihancurkan dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan dikuasai/dikuasai ulang sebanyak 44 kali. Bisakah Anda membayangkan, betapa tak tersedianya waktu yang cukup bagi Yerusalem untuk berkembang. Pertumbuhan ekonominya mengalami kebuntuan akibat sengketa kekuasaan dan peperangan.
Yang lebih mengerikan, seperti apakah kelak tabiat generasi muda mereka? yang seumur hidupnya telah dibiasakan dengan kata perang, suara tembakan, serta nyala api dari ekor sebuah roket? Saya tidak berani membayangkan.
Kini, hubungan antara Israel dan bonekanya, Amerika Serikat sedang goyah. Pasalnya, perdana menteri Israel, Benyamin Netanyahu berkeras untuk membangun pemukiman-pemukiman Yahudi di sekitar Yerusalem. Ini dinilai membahayakan status quo Israel-Palestina yang memang selalu berada di titik didih. Washington memang mengecam tindakan ini dan mengancam akan menghentikan usahanya bagi perundingan tidak langsung antara Israel dan Palestina. Namun, pertanyaannya adalah, beranikah Amerika Serikat memberi sanksi keras terhadap Israel?
Berhubung saya tidak menyukai nada pesimis, maka saya akan mengutip pernyataan Hillary Clinton yang dikutip dari TVOne. Hillary bilang, “Ada jalan lain. Jalan yang menuju pada keamanan dan kesejahteraan bagi semua orang di kawasan itu. Itu akan memerlukan semua pihak — termasuk Israel– untuk melakukan pilihan yang sulit tetapi perlu.” Hmm… (ini skeptis, bukan pesimis). Saya kembali membayangkan, jika Yerusalem bisa bicara, maka ia takkan berkata-kata, ia mungkin menjerit dan menangis pilu.






No Comments Yet - be the First!