Romlah adalah pemakan segala. Umurnya 27, beratnya 227 kg. Ia punya toko jahit langganan yang letaknya tepat di seberang portal komplek perumahannya di bilangan Bendungan Hilir. Setiap bulan, toko itu selalu menerima pesanan Romlah untuk beragam keperluan sandangnya. Celana hitam, kemeja, rompi, syal, celana hitam lagi. Hitam warna favoritnya.

Dengan bobotnya, Romlah cukup kesulitan dalam melengkapi kebutuhan pakaian. Bukan masalah uang, tapi ukuran. Apalagi, Romlah mengklaim dirinya punya ‘taste’, sesuatu yang sangat dibanggakan dan nyatanya berfungsi pula sebagai tameng bagi orang-orang yang melirik tajam pada perutnya. Ia memang gemar menyatroni toko pakaian, tapi sebatas menyerap pengetahuan akan tren terkini, yang lantas lewat keahlian jarinya menggurat sketsa, sebuah kertas disulap menjadi rancangan busana dan uang bagi tukang jahit langganannya.

Seungguhnya, ada yang lebih ia gemari ketimbang pakaian, yaitu pangan. Baginya, pangan bukan lagi sekadar syarat menyambung hidup. Makan adalah hidup itu sendiri. Suatu hari, rekan kerjanya pernah menyindir, “lo sih hidup buat makan, bukan makan buat hidup.” Toh, ia hanya mencibir dan berlalu, sambil mengunyah pizza sisa pesta di rumahnya semalam. Romlah makan tiga kali sehari, nyemil lima kali sehari. Dokternya khawatir bukan kepalang, bahkan perawakan Romlah saja sudah mengkhawatirkan.

Di kolong jembatan di daerah Pejompongan, seseorang meringkuk di dalam bedeng-nya yang berukuran 2×3 m. Dua hari lamanya ia tak beranjak ngamen. Ia mengisolasi dirinya dari kehidupan, kehidupan sendiri seolah tak peduli akan dirinya. Bedeng itu berdinding triplek tebal, yang ‘ditambal’ oleh asbes pada beberapa bagiannya. Pintunya selalu terbuka, karena memang sesungguhnya tak ada yang patut disebut pintu kecuali sebuah lempengan triplek lain yang bisa digeser semau empunya. Sang penghuni rupanya tak peduli, ia bahkan tak berdaya untuk peduli. Badannya yang kerempeng menggigil, kulitnya pucat pasi, pupil matanya tak mampu fokus dan bergerak tanpa pola. Sesekali, air liurnya menetes tanpa disadari. Ia kesakitan. Romli mengalami gejala putus obat.

Sebuah taksi melintasi Jln. Jend Sudirman, melewati kolong jembatan Semanggi, mengambil jalur lambat lantas berbelok ke kiri menuju kawasan Bendungan Hilir. Sepanjang perjalanan, supir taksi itu kerap mencuri-curi pandang melalui kaca spion tengah. Ia terheran-heran melihat penumpangnya.

Romlah memang selalu duduk di jok belakang. Menurutnya, dengan ukuran badannya, duduk di jok depan hanya akan mengintimidasi si supir. Lagipula, ia takkan bisa bebas bergerak. Oh, ia juga malas berbasa-basi dengan supir. BlackBerry adalah teman seperjalanan yang setia dan menghibur. Itu sudah cukup.

“Lurus saja, mas?” tanya supir taksi. Romlah terinterupsi, mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling. “Iya, pak. Nanti, di sebelah kanan jalan ada tukang soto betawi. Mampir sebentar, pak,” pintanya. Supir itu masih mencuri pandang lewat kaca spion tengah. Entah apa yang dipikirkan.

“Soto nya satu beh, seperti biasa. Jangan lupa emping-nya yang banyak, ya!” Romlah memberi instruksi. Babeh, begitu panggilannya, sudah tahu maksud langganannya ini. Soto satu berarti soto betawi lengkap, berisi daging sapi dan jeroan, plus nasi dua porsi. Sebagian emping dijadikan satu dengan kuahnya yang telah dibubuhi jeruk nipis dan sedikit kecap. Sambal ditaruh terpisah, begitupula dengan emping tambahan. Tak butuh waktu lama bagi babeh untuk meraciknya. Sekejap saja plastik kresek hitam itu sudah berpindah tangan, bertukar dengan uang Rp20.000. “Ambil saja kembaliannya, beh,” ujar Romlah seraya menepuk bahu supir taksi untuk memintanya melanjutkan perjalanan. Lima menit kemudian Romlah sudah tiba di rumah. Ia merayakan akhir hari itu dengan menyantap soto betawi hingga tuntas. “Santan dan emping memang pasangan paling cantik,” ujarnya dalam hati.

Malam itu begitu dingin lantaran hujan yang mengguyur sepanjang hari. Angin kencang terus-menerus masuk melalui sela-sela triplek, membuat suara mendesis yang halus dan samar-samar di dalam bedeng. Romli duduk mematung, tangannya memeluk erat kakinya yang ditekuk hingga menyentuh dada, dan sarungnya menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya. Ia menatap kawan di depannya dengan tatapan frustasi. “Lo ngga ada lagi, Do?” ia memelas. Dodo adalah kawan Romli, atau lebih bisa disebut anak buahnya. Ia mengkhawatirkan keadaan Romli, yang semakin kehilangan akal sehatnya. “Ngga ada, bang. Putus,” ujarnya seraya menunduk.

“Gue  ngga mau tau, pokoknya lo cariin buat gue. Kalau ngga dapat, jangan harap lo bisa tinggal di sini lagi!” Romli membentak. Matanya nanar menahan amarah, namun ia tak bisa berbuat banyak. Ia terlalu lemah dan sakit. Dodo beranjak pergi setelah berjanji akan mengusahakan apa yang Romli minta. Sesungguhnya, itu kala terakhir Romli melihat Dodo.

Keesokan harinya, bedeng milik Dodo yang berada tepat di depan bedeng Romli telah kosong melompong. Romli geram, ia merasa dikhianati. Biar bagaimana, ia adalah penguasa kawasan itu. Ketidakpatuhan seorang anak buah akan menjatuhkan wibawanya. Ia boleh sakit, tapi tidak tidak ada toleransi bagi pembangkang.

Dalam keadaan ‘setengah gila’, ia berpakaian. Celana jeans hitam dikenakannya, dipadukan dengan kaus putih dan sweater belel yang tebal berwarna biru tua hasil menodong bocah SMU dulu. Rambut gondrong acak-acakan memang ciri khasnya. Ia tak peduli itu. Sebelum beranjak pergi, ia menyelipkan sebilah pisau di kantongnya. Matahari hampir berada di atas kepala kala ia menyusuri kawasan Bendungan Hilir.

Jika saja ia memanfaatkan waktu makan siang dengan cermat, atau seandainya ia tak terburu-buru tadi pagi dan sempat menyiapkan bekal, ia mungkin tak perlu menepi secepat ini di tempat ini. Romlah memesan menu andalannya, soto betawi lengkap. Romlah menyempatkan diri untuk melipir ke kawasan bendungan hilir sebelum ia melanjutkan perjalanannya ke Plaza Indonesia untuk rapat dengan kliennya. Rapat itu dijadwalkan pukul 17.00. Pukul 16.00, Romlah masih menunggu pesanannya dengan gelisah. Perutnya ‘menjerit’ tak keruan, kepalanya pusing, ia menjadi pemarah.

Di dalam tenda tempat makannya, Romlah duduk di sisi kiri bangku kayu yang memanjang, di sudut meja di mana ia dapat melihat jalan raya dan mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Ia sedang melamun sambil mengeluhkan cuaca sore itu yang panas, yang membuat peluhnya mengucur deras dari dahi dan seluruh badannya. Ia selalu memakai dua lapis pakaian agar keringat itu tidak terlihat menembus pakaian dan mengundang cemooh orang-orang yang melihatnya. Sapu tangan adalah perangkat wajib.

Sesuatu yang berkilat-kilat membuyarkan lamunannya, memaksanya untuk fokus pada benda tersebut. Degup jantungnya mendadak kencang, darahnya mendesir, peluhnya membanjir, wajahnya memucat, dan kakinya gemetar hebat. Ia serasa lumpuh ketika benda itu menempel di kulit lehernya, terasa dingin, menyiratkan aroma kematian. Romli menjambak dari depan, menempelkan mata pisau itu dua inci di bawah telinga kiri Romlah. Romli juga gemetar karena sedang putus obat. Tak ada satupun orang di sana yang berani berbuat apa-apa. Keadaannya terlalu genting, tidak ada kesempatan untuk berlaku pahlawan. Romli mendekatkan mulutnya ke telinga Romlah dan berbisik, “dompet dan hp.”

Satu menit kemudian, Romli melesat menghilang dengan sebuah sepeda motor RX King keluaran tahun 1997 warna hitam. Entah darimana ia mendapatkan motor tersebut. Babeh, si penjual soto betawi, memberi Romlah soto betawi secara cuma-cuma. Ia iba dengan nasib Romlah yang dirampok di tempat makannya sendiri. Ia menyesal tak mampu berbuat apa-apa. Romlah sendiri, meski masih ketakutan setengah mati, masih bisa merasa beruntung karena hanya dompet dan hp nya saja yang diambil. Ia tak bisa membayangkan seandainya si perampok juga merampas mobilnya, apalagi nyawanya. Ia mengambil kantung plastik berisi soto betawi itu, masuk ke dalam mobil, lalu beranjak pulang. Rapat dibatalkan. Semua orang bakal mengerti, pikirnya.

Malam itu begitu dingin lantaran hujan yang mengguyur sepanjang hari. Angin kencang terus-menerus masuk melalui sela-sela triplek, membuat suara mendesis yang halus dan samar-samar di dalam bedeng. Sesosok tubuh terbaring terlentang dengan jarum suntik masih menempel pada lengan kanannya. Tak ada dada yang mengembang dan mengempis, tak ada dengusan nafas, tak ada gerakan. Sunyi.

Di sebuah rumah di kawasan bendungan hilir, seseorang tergeletak di lantai sebuah ruang makan. Piringnya masih terisi setengah. Dalam keadaan setengah sadar pikirannya berkelana entah ke mana. Pandangannya memudar menuju kegelapan, otot-ototnya melemah, saraf sensoriknya menumpul. Ia tak mampu membaui apapun, mengecap apapun, ia bahkan tak yakin bisa mendengar. Ia merasa otaknya tak mampu bernafas, seolah pasokan oksigen dan darahnya putus. Ia pikir pastilah pembuluh darah otaknya sudah pecah. Seutas senyum sekilas tergambar di wajahnya. “Santan dan emping memang pasangan maut…”