Tulisan ini diambil dari areamagz.
Jika Anda menganggap Piala Dunia hanya sebagai ajang olahraga empat tahunan paling prestisius dan menghibur di dunia, maka Anda keliru. Piala Dunia memiliki ‘jasa’ lain yang kadang tidak disadari oleh yang berlaga maupun kita.
Piala Dunia 2010 bakal digelar di Afrika Selatan mulai 11 Juni nanti. Hingar-bingar nya sudah terdengar sejak tahun lalu, persiapan-persiapan sudah dilakukan jauh sebelum itu. Namun, tulisan ini bukan hendak membahas hal-hal seperti itu, tapi lebih kepada detil yang tak kasat mata dari Piala Dunia. Berikut ini adalah contohnya.
Piala Dunia sebagai pemersatu. Saya memang tak yakin jika suku Inuit di utara Kanada dan Alaska sana berminat menonton Piala Dunia 2010 nanti, begitu pula dengan suku Dogon di pegunungan Hombori, Mali, Afrika. Namun, yang jelas perhelatan ini memang lintas benua. Dengan kemajuan teknologi, seluruh bumi akan terhubung dan terpusat pada satu negara, Afrika Selatan, selama satu bulan. Kita di Jakarta, sudah siap untuk larut dalam keriaan-nya, sebagaimana penduduk di belahan bumi manapun. Di luar dugaan, ternyata bukan komunikasi politik atau perang yang bisa mempersatukan dunia, tapi kompetisi olahraga.
Piala Dunia sebagai ‘jembatan’. Maksud saya, ia bisa jadi jembatan antar generasi, antar gender, bahkan antar profesi. Lihat saja, Anda bisa melihat seortang bocah dan nenek-nenek duduk dan tertawa bersama, atau tukang ojek dan mahasiswa nongkrong bareng di warung kopi dan saling berpelukan, atau bos besar dan office boy duduk tegang memandangi layar TV dari lapak yang sama. Batasan-batasan yang biasanya ada dan tegas menjadi buram, untuk kemudian hilang sama sekali. Tanyakan pada Spanyol, di mana batasan yang tadinya memisahkan ‘orang Catalan’ dan ‘orang Andalusia’ saat mereka merengkuh trofi Piala Eropa 2008? Bayangkan jika itu Piala Dunia.
Piala Dunia sebagai penyembuh. Ya, trofi yang satu ini seperti bertuah bagi sebuah bangsa. Ia menyembuhkan ‘luka’ banyak bangsa. Jerman misalnya, bangsa yang kalah perang ini kembali memiliki kebanggaan dirinya setelah menjadi juara dunia dengan menaklukan Hungaria di final Piala Dunia 1954. Bangsa Argentina telah membalas kenangan pahit perang Malvinas dengan menghajar Inggris di perempat final Piala Dunia 1990, Maradona menyiratkan hal itu dalam buku “El Diego: The Autobiography of the World’s Greatest Footballer”. Perancis, setelah dirundung masalah yang tak kunjung usai pasca perang, seperti dekolonisasi dan masalah sosial dan ras, seperti bangkit usai menjuarai Piala Dunia 1998. Sayang, trofi ini belum sempat mampir ke tangan Indonesia.
Lucunya, Piala Dunia juga berfungsi menjadi cermin karakteristik masing-masing bangsa. Lihat Jerman yang bergerak bak panser lapangan hijau. Ia begitu dingin, kuat, dan pantang menyerah di lapangan. Brazil begitu hidup dan penuh warna. Baginya, sepak bola adalah kanvas hijau yang siap dicorat-coret dengan operan-operan indah dan ‘tarian’ memikat. Argentina lebih keras dan disiplin, Inggris juga keras, lebih arogan, dan selalu in a rush, Belanda mencerminkan semangat kerja kolektif, dan Spanyol, seperti gitar, bermain dengan teknik yang elok. Lain lagi dengan Italia, ia memadukan kekuatan pertahanan dan taktik serangan balik yang menjerumuskan. Oh, satu catatan lagi, mereka tak meninggalkan nama besar mereka sebagai kiblat mode dan gaya. Ingat seragam biru ketat Italia 1998 yang ketika itu seperti menjadi standar kaus bola di dunia? Kamerun mencoba gaya baru dengan seragam lengan buntung pada 2002, namun gagal lantaran dilarang FIFA. Seragam jenis ini malah dipakai pemain Thomas Cup Indonesia 2010. Oh, satu lagi, pemain-pemain Italia pula lah yang mempopulerkan gel rambut di lapangan hijau. Beckham hanya ikut-ikutan.
Hal kelima yang tak mungkin dipungkiri ialah soal bisnis. Mengapa setiap negara berebut menjadi tuan rumah Piala Dunia? Salah satunya karena Piala Dunia memiliki fungsi sebagai mesin uang. Bayangkan berapa jumlah uang yang masuk ke kas negara tuan rumah dari sponsor, penjualan tiket pertandingan, visa, penjualan tiket pesawat, bus, dan kereta. Itu belum semua, masih ada penjualan pernak-pernik pra, saat, dan pasca pertandingan. Belum cukup banyak? Masih ada dari penjualan hak siar televisi ke seluruh dunia, berikut penjualan lisensi untuk mengadakan acara semacam ‘nonton bareng’ Piala Dunia. Di Jakarta, lisensi ini dimiliki oleh Electronic City. Jadi, jangan berpikir ini semudah menaruh big screen di lapangan dan menggalang massa sekampung. Ini rumit.
Modal yang mereka keluarkan memang besar, tapi jika Anda terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia, keuntungan berlipat seperti sudah ada di genggaman tangan. Tak heran jika Indonesia sangat menyesal saat tak masuk nominasi tuan rumah Piala Dunia 2022. Ini bisa menjadi sumber uang untuk pembayaran hutang negara, kan? By the way, siapa jagoan Anda di Piala Dunia 2010?





No Comments Yet - be the First!