Lampu di pertigaan Cipete itu menunjukkan warna merah. Saya melipat kedua tangan di stang motor, menaruh kepala, tertunduk lelah. Selang beberapa detik, bunyi-bunyi mesin kendaraan ukuran besar terdengar mendekat, melintas dari arah kiri menuju arah Blok M. Bau asap knalpot tercium pekat. Ada sirene juga. Saya tak peduli. Tak seberapa lama kemudian terdengar, “ayo minggir! minggir!” Saya mendongakkan kepala. Mobil-mobil besar itu telah berlalu. Saya sempat melihat tulisan di bagian belakangnya. Bunyinya “pantang pulang sebelum padam”.
Jika melihat dari arah datangnya, kemungkinan mereka bertolak dari pos Fatmawati. Ini berarti titik api juga tak jauh dari sana. Saya ada janji temu dengan seorang teman di Radio Dalam. Tapi saya kira ia bisa menunggu. Lampu hijau. Saya tancap gas mengikuti rombongan besar tadi. Saya hitung, ada dua truk pemadam kebakaran, di depannya ada mobil operasional, Isuzu Panther warna merah sebagai pembuka jalan. Paling buntut ada ambulans. Motor memudahkan saya mengejar mereka. Dilihat dari samping, orang-orang itu tegang.
Sirene terus meraung sepanjang jalan Fatmawati. Di beberapa titik terlihat polisi membantu mengatur lalu-lintas. Rombongan berbelok ke kanan, menuju kawasan Wijaya. Dari jauh, saya lihat kerumunan di dalam komplek Wijaya Grand Centre, tapi saya tak melihat api. Semakin dekat, semakin jelas. Di sana sudah ada dua truk pemadam kebakaran dan satu ambulans lagi, plus dua mobil polisi.
Saya parkir di seberang komplek Grand wijaya Centre dan berjalan kaki ke arah kerumunan. Polisi sibuk mengatur lalu-lintas. Panther merah tadi mengeluarkan alat serupa antena di atapnya. Tulisannya “Nite Scan”. Entah untuk apa. Hawa sedikit panas dan lembab, api sudah tak nampak, hanya asapnya saja yang mengepul dari jendela-jendela lantai 3 ruko yang terbakar. Mereka sudah menguasai keadaan.
Melihat ambulans yang tetap di tempat parkirnya, saya berasumsi tidak ada korban jiwa. Atau, korban tersebut sudah di evakuasi sebelum saya sampai. Saya tidak berniat menanyakan hal tersebut. Kerumunan itu masih sibuk menonton aksi pemadaman itu dari bawah. Wajah-wajahnya ikut tegang.
Prang… prang… pemadam kebakaran memecahkan jendela-jendela itu dari dalam, satu persatu. Kerumunan jadi ramai dengan desas-desus. Asap yang keluar jadi lebih banyak karena terbebaskan dari ruangan yang panas dan sempit.
Beberapa detik kemudian, kaca sudah pecah semua dan suasana kembali sunyi. Saya memperhatikan kerumunan itu dan mendapati semua mata masih terpaku ke arah jendela-jendela bolong, seperti menunggu hal-hal yang tak pasti. “Apinya di dalam ini mah…” seseorang bertubuh gempal di tengah kerumunan menggumam. Tak ada yang menggubris. Hening.
Bruuushhh… semburan air bertekanan tinggi keluar dari jendela, jatuh tepat di kerumunan. Penonton bubar.
Kejadian ini terjadi pada 28 Juli 2010, sekitar pukul 19.50-20.10.





No Comments Yet - be the First!