Jadi None Jakarta Ngga Boleh Ribet

September 1, 2010
By Bayu Maitra

Kutu buku yang jadi none Jakarta

Ajang Abang None Jakarta 2010 sudah berakhir. Kota ini punya ikon baru. Saya berbincang-bincang dengan None Jakarta 2010. Siapakah ia sebelum menjabat None? Dan bagaimana ia akan mengubah Jakarta?

“Poetri! Poetri! Poetri!” Seruan itu riuh terdengar dari arah penonton. Di panggung, lampu menyoroti seorang perempuan berkebaya kuning dengan kerudung merah. Poetri Monalia tak menyangka kalau malam itu adalah miliknya. Air matanya menetes. Kamis malam, 29 Juli lalu, ia resmi dinobatkan sebagai None Jakarta 2010. Artinya, ia adalah duta pariwisata dan kebudayaan Jakarta. Plus, ia juga jadi duta lalu-lintas.

Poetri Monalia berusia 23 tahun. Ia bukan Betawi asli. Bapaknya asal Garut, ibunya Palembang. Namun, ia memang besar di Jakarta. Sejak kecil, ia punya kedekatan dengan hal-hal berbau science dan olahraga. Ia tipe orang yang lebih suka berada di ‘belakang layar’. Seorang kutu buku.

Ketertarikannya pada budaya ternyata baru tumbuh saat ia tinggal di negara asing. Sewaktu masih sekolah di SMAN 8, ia pernah ikut pertukaran pejalar ke Amerika Serikat. Pernah juga dikarantina selama enam bulan saat mengikuti olimpiade fisika di Swiss. Di saat-saat inilah ia menyadari betapa kayanya kebudayaan Indonesia. Baginya, kebudayaan asing itu tak ada yang se-tradisional Indonesia. Sebaliknya, ia sadar kalau orang asing banyak yang tidak tahu soal Indonesia. Mereka kira kita masih tinggal di rumah pohon.

Science dan olahraga masih menjadi minatnya ketika ia kuliah. Ia mengambil jurusan Matematika di Universitas Indonesia. Pernah masuk lima besar olimipade matematika se-Jawa Bali. Di luar kuliah, ia pemain futsal dan basket yang pernah ikut kejurnas dan kejurwil. Seorang senior di tim basket itulah yang pertama kali mendorongnya ikutan ajang Abang None Jakarta.

“Your life begins here.” Shahnaz Haque pernah berkata padanya selama menjalani masa karantina. Shahnaz adalah salah seorang juri ajang Abang None Jakarta 2010. Saat itu Poetri tidak mengerti apa maksudnya. Ia mengikuti karantina tingkat DKI selama lima minggu. Sempat menginap selama 12 hari. Di sana ia diajari beragam pengetahuan, mulai dari cara berjalan, cara bicara, hingga cara berdandan. Dalam 30 menit, ia diharuskan bisa dress up dengan baik. Dari pakaian hingga sanggul. Kata Poetri, “jadi None Jakarta ngga boleh ribet.”

Karantina berbuah hasil, Poetri berhasil memperbaiki kekurangan dan menumbuhkan potensinya. Ia tak lagi anti sepatu hak tinggi. Badannya tak lagi gemetar saat berbicara di depan orang banyak, serta tidak gagu dan terbelit-belit. Di samping itu, ia jadi bisa nandak. “Nandak” dalam bahasa Betawi berarti  menari. Bagaimana pun, menurutnya, apa yang membuatnya menang adalah personality –nya. “Aku itu bisa menanggapi sesuatu dengan dewasa, selalu berpikir sebelum bertindak, dan aku orangnya ‘welcome’ sama orang lain.

Sebagai None, ia punya keinginan akan perubahan, terutama soal Betawi dan Jakarta. Ia ingin kebudayaan Betawi tak terpinggirkan. Prinsip egaliter yang mendarah-daging dalam budaya Betawi ia anggap baik sebagai contoh bermasyarakat. Untuk Jakarta, ia punya strategi untuk melakukan pendekatan kepada tiga pihak, yaitu pemerintah, masyarakat, dan sektor privat. Ia yakin bahwa ketiganya merupakan kunci yang sama pentingnya untuk perubahan di Jakarta. Ia, bersama Abang None lainnya, akan mengubah Jakarta melalui lobi-lobi strategis, selain memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Poetri Monalia kini bekerja di PT Fairfield Indonesia sebagai geophysicist. Kerjanya meneliti gambaran di bawah permukaan bumi, mencari minyak dan gas bumi. Selain itu, Poetri juga sedang melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia, jurusan geofisika reservoir. Senin hingga jumat bekerja, jumat malam dan sabtu kuliah. Ia bukti nyata, bahwa anak Betawi tak Cuma bisa ngasosi. Ngaji, solat, silat.

Tulisan ini diterbitkan di areamagz.

  • Share/Bookmark

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Search

RSS The New York Review of Books

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS Time Out New York

RSS Newsweek

RSS Wired