Pengetahuan akan rasa bahasa itu penting bagi penulis. Yang namanya tulisan, kalau tak ada rasanya, ya, hambar. Tidak enak dibaca. Rasa bahasa bisa dihasilkan dengan beragam cara, mulai dari cara penulisan, pemilihan gaya bahasa, pemilihan sudut pandang, dan tentu saja, dengan penggunaan diksi (pilihan kata) yang tepat.
Soal diksi, ibarat masakan, ia adalah garamnya, gulanya, atau kecapnya. Ia yang membuat sebuah masakan menjadi jelas rasanya, serta memberi kesan mendalam bagi yang menyantapnya. Bayangkan sup tanpa garam. Cicipi sedikit, masihkah Anda ingin memakannya?
Begitu pula sebuah tulisan. Tulisan dengan diksi yang baik akan menyampaikan kesan dari pikiran penulis ke dalam benak pembaca dengan tepat. Ia juga membuatnya enak didengar (ingat, membaca itu bukan pakai mata, tapi pakai telinga). Salah menggunakan diksi membuat sebuah kalimat menjadi tidak wajar dan tak enak didengar. Bayangkan tulisan dengan diksi yang buruk. Baca sebentar, masihkah Anda ingin menuntaskannya?
“Kalau suasananya terang bulan, tenang, angin berhenti, kemudian daun rontok, ya kacau!”
Sitok Srengenge memberi contoh dalam sebuah sesi diskusi di kelas narasi Yayasan Pantau. “Rontok” merupakan penggambaran dari konsep jatuhnya daun. Diksi lainnya adalah “gugur”, “luruh”, atau “jatuh”. Untuk kasus di atas, saya pikir lebih enak jika menggunakan kata “luruh”. Lain soal jika situasinya di tengah badai. Kata “luruh” akan menjadi tidak wajar. Penggunaan diksi mesti sesuai konteks.
Pergulatan soal diksi kerap menjadi tantangan tersendiri bagi penulis, terlebih lagi dari kalangan sastra. ‘Koleksi’ mereka banyak, dari yang umum hingga yang jarang terdengar atau bahkan hampir punah. Dari yang bisa dicerna seketika hingga yang harus dibantu kamus. Penggunaan diksi oleh kalangan sastra bisa menghasilkan kekuatan tersendiri, yang mengajak para pembacanya untuk berkontemplasi. Hasilnya, sebuah karya sastra bisa diartikan secara berbeda oleh tiap-tiap penikmatnya.
Lain sastra lain pula jurnalisme. Seorang jurnalis dianjurkan menulis dengan bahasa yang praktis dan gampang dimengerti masyarakat umum. Ini sejalan dengan salah satu fungsi jurnalisme, yaitu menyampaikan kebenaran pada masyarakat. Penggunaan bahasa yang rumit akan mengurangi daya sebar dan daya tembus berita tersebut hingga hanya sampai ke kalangan tertentu saja. Belum lagi soal bias yang dihasilkan.
Saya punya beberapa pakem untuk penulisan jurnalistik, misalnya: kalimat sebaiknya tidak terlalu panjang, hindari penggunaan anak kalimat, gunakan lebih banyak kalimat aktif, dan lain sebagainya. Tapi, ini bukan berarti saya mengacuhkan rasa bahasa. Praktis bukan berarti kaku. Mudah dimengerti bukan berarti dangkal.
Diksi, bagaimanapun, tetap esensial. Aplikasinya memang takkan sejauh dan seluas dalam karya sastra, tapi itu tak mengurangi tingkat kepentingannya. Secara keseluruhan, pemahaman akan rasa bahasa akan menghasilkan karya jurnalistik yang, selain baik secara substansi, tapi juga renyah dibaca.