Di tengah kesibukkan menulis artikel, seorang teman membisiki saya, “#^!#@!#!%$& &^%$&$& .” Dia kelewat berbisik. Teman saya mengulang tiga kali–cukup membuat saya khawatir soal kesehatan telinga–sebelum saya mendengar dengan jelas. Dia bilang, “gue mau ikut kelas Pantau angkatan XI.” Ini kejutan menyenangkan! Ia minta supaya berita itu dirahasiakan, minimal sampai ia selesai kursus. Alasannya, ia tidak mau digembar-gemborkan sebelum ada hasil. Saya mengiyakan dan memberi status anonim dalam tulisan ini–meski ia tak masuk kriteria tujuh syarat sumber anonim dalam jurnalisme.

Mendengar hal tersebut, untuk sesaat, saya seperti kembali ke masa-masa kursus dulu. Saya masuk dalam angkatan IX, yang pesertanya–kalau tidak salah–12 orang. Kami memiliki latar belakang berbeda, ada yang mahasiswa jurnalistik, ada yang kerja di NGO, ada yang di Komnas Perempuan, ada ibu rumah tangga, ada pula orang bank. Macam-macamlah. Ini membuat setiap diskusi menjadi kaya perspektif.

Kelas Narasi Pantau diampu oleh Andreas Harsono, wartawan senior yang juga bekerja di Human Right Watch. Selain itu, ada juga Budi Setiyono, seorang wartawan, penulis buku dan penyuka sastra, serta Gandrasta Bangko, wartawan cum Business Director di PT Mesa Publishing. Mereka ini punya karakteristik mengajar yang berbeda. Apa yang ‘ditularkan’ juga berbeda. Andreas cenderung mengedepankan kode etik dan menularkan semangat jurnalisme puritan. Budi lebih teknis dan menularkan ketelitian serta kepekaan dalam menganalisa. Gandrasta lebih santai dan menularkan kelenturan dalam bertutur. Oh, saya hampir lupa satu nama: Siti Nurufiqoh. Fiqoh ini yang sering mengingatkan kami akan pekerjaan rumah yang mesti dibawa setiap sesi–juga tunggakan pembayaran kursus. Ia sabar sekali.

Saya lantas mengenang lebih jauh soal awal ketertarikan ikut kelas Pantau. Sesungguhnya, saya sudah membaca soal Pantau sejak dua tahun sebelum saya ikut kelas. Namun, waktu itu–entah mengapa–sulit sekali mencari informasi seputar kursus narasi. Sekalinya dapat, tenggat waktu sudah lewat. Sekalinya dapat, uang sudah terbuang. Biaya kursus Pantau tidak murah. Ia sebesar Rp4.000.000. Saya duga banyak orang berpikir dua kali sebelum memutuskan ikut kursus. Seorang teman pernah bilang, “buset, mahal amat. Ilmu kan bisa dipelajari di mana saja. Cari aja di internet.” Saya, entah kenapa, tetap merasa harus mengikuti kursus Pantau.

Journalism is the closest thing i have to a religion.

Benar dugaan saya. Setelah kurang-lebih empat bulan mengikuti kursus, saya merasa beruntung tidak nurut kata teman. Apa yang saya dapat tentu tidak bisa dicari di internet. Jika bicara bahan pelajaran, itu memang bisa dicari-cari. Tapi tidak dengan pembelajaran. Belum lagi keuntungan lain. Internet tentu tidak bisa memberi relasi, tidak bisa menstimulasi otak dengan diskusi-diskusi memikat, apalagi merasakan nikmatnya belajar dalam sebuah komunitas. Saya pikir, saya tak mungkin sedemikian bangga akan profesi wartawan jika tidak ikut kelas Pantau. Saya juga tidak akan menyadari betapa besar tanggung jawab seorang wartawan jika tidak ikut kelas ini. Mengenang hal ini, saya jadi ingat paradigma saya terhadap jurnalisme sudah berevolusi secara total. Saya ingat betul bunyi yang tertera dalam sertifikat kelas narasi Pantau: Journalism is the closest thing i have to a religion. Ia dikutip dari perkataan Bill Kovach, seorang guru jurnalisme di Amerika.

Pernyataan teman saya membuat saya bergairah. Saya ingat betul bagaimana rasanya menyongsong hari-hari menuntut ilmu. Betapa tak sabarnya saya waktu dulu. Bersemangat sekali. Tapi, raut ketidakyakinan muncul di wajah teman saya. Ia takut berhenti di tengah jalan. Ia punya kecenderungan itu, dan kelas narasi Pantau berdurasi panjang–Mei sampai September. Saya punya pemikiran beda. Kelas ini sarat ilmu dan atraktif. Saya justru tidak yakin ia akan menjadi malas.

Dulu, sebelum ia memutuskan ikut kelas narasi, saya kerap meminjamkan buku-buku yang saya dapat dari Pantau padanya, juga seringkali berdiskusi seputar masalah jurnalisme. Saya pikir, dengan dasar pengetahuan yang lebih besar, ia akan ?mampu menyerap ilmu lebih banyak lagi pada saat kursus nanti. Ia akan lebih baik dibandingkan saya dulu. Dan, harapan saya, ia mau membagikan ilmunya pada rekan-rekan wartawan lain di kemudian hari. Amin.