Kala itu tahun 1999, saat ku pertama kali bertandang ke rumah kawan dan berkenalan denganmu. Kau menyambut dengan senyum dan jabat tangan hangat, seraya mengaku kakak dari kawanku. Rumahmu hangat dan kecil, cukup kecil untuk menjaga agar cinta kasih tersebar dengan sama rata. 

Aku, anakmu, dan beberapa yang lain, berkawan dekat. Kau tentu tahu bagaimana kami senasib sepenanggungan di gunung-gunung, sungai, tebing dan goa. Kau juga paham betul ketika kami–atau beberapa di antara kami, pulang ke rumahmu menjelang pagi dengan tubuh rontok, menggeletak begitu saja di lantai atau sofa ruang tengah dalam keadaan setengah sadar, membuat sumpek rumah kecilmu. Sejauh yang kuingat, kau tak pernah keberatan. Ketika kami bangun dengan muka kusam di siang bolong, yang kau ucapkan justru “makan mas, seadanya saja.” Kau membuat kami merasa di rumah sendiri. Kami merasa rumahmu adalah rumah kami. Keluargamu, keluargaku juga.

Pertemanan aku dan kawan-kawan sudah hampir 13 tahun. Rentang waktu yang lumayan panjang. Kami-kami ini, secara pribadi, punya keterikatan dan kenangan masing-masing akan dirimu. Saya sendiri ingat kegemaranmu main bulutangkis dulu. Kau juga sering bercerita tentang silat dan perkelahian-perkelahianmu semasa muda. Lalu, jika menonton televisi, kau suka berkomentar pedas terhadap wartawan yang melontarkan pertanyaan bodoh kepada narasumber. Kau juga membenci koruptor dan politikus kotor. Dan, ya, aku ingat kita sama-sama suka memaki pemain PSSI yang suka mengoper bola pada lawan, atau menembak jauh di atas mistar gawang.

13 tahun berlalu. Keping-keping kenangan sudah menumpuk dan mengendap dalam keabadian.

27 Februari 2012, hari masih siang ketika aku membuat janji dengan anakmu, hendak mengunjungimu usai bekerja. Katanya, kau sudah tidur sejak Rabu lalu. Aku hanya berandai-andai saja, apa yang kau pikirkan dalam tidurmu yang demikian lama. Mengapa kau tak kunjung terjaga sementara keluargamu menunggu. Jam kerja belum juga habis ketika sore itu tiba pesan singkat dari anakmu, “Bay, bokap meninggal.” Waktu menunjukkan pukul 16.19.

Aku memacu motor ke rumah sakit, menemukan kau telah kaku di dalam ambulans. Anak-anak dan istrimu menangis. Kawanku, dengan mata memerah, sibuk mempersiapkan perjalanan ke rumah duka, rumah kecilmu dulu.

Malam harinya, rumahmu ramai sekali dikunjungi orang. Semua kerabat, sanak-saudara, hingga kawan-kawan anakmu datang untuk berdoa dan memberikan penghormatan terakhir.

Aku pribadi masih merasa gamang atas kepergianmu. Dibilang tidak percaya juga tidak. Tapi, entah bagaimana, aku masih merasakan kehadiranmu. Rasa yang sama. Aura yang sama. Seolah kau hanya akan pergi beberapa saat dan akan kembali kelak. Seolah kau hadir dalam dimensi yang berbeda, tersenyum nakal karena kami tidak bisa melihatmu secara kasat mata. Mungkin ini yang dimaksud oleh orang bijak, bahwa seseorang yang mati akan tetap hidup dalam sanubari orang-orang yang dikenalnya. Mungkin saja.

13 tahun berlalu. Keping-keping kenangan sudah menumpuk dan mengendap dalam keabadian.

Bapak sudah pulang. Selamat jalan. Jangan khawatir, anak-anakmu sudah tumbuh besar.

Jakarta, 27 Februari 2012