Ketika laki-laki dianggap kadaluarsa, produsen rokok membidik kaum perempuan sebagai target pasar masa depan.

Donny Fattah, 63, biasa merokok empat bungkus kretek sehari. Profesinya di dunia seni dan hiburan – sebagai musisi, pemain bass grup band God Bless – turut memberi andil kedekatannya dengan rokok. Kawan-kawannya banyak perokok, acara-acara musik sering menerima sponsor rokok. Dan ia merasa sehat-sehat saja, hingga pada 29 Januari 2012, ketika ia dan istri menghadiri sebuah resepsi perkawinan. Donny merasa ada yang salah pada tubuhnya; lemas, berkunang-kunang, keringat dingin.

Di Rumah Sakit Harapan Kita, langit sudah gelap ketika sebuah selang menerobos ke arah jantung melalui pembuluh darah di bawah tulang belikat. Dari perut bawah bagian kanan yang dilubangi, selang lain menerobos. Alat itu berbekal kamera super kecil, serta cincin-cincin. Donny sadar penuh selama operasi berlangsung. Ia kena serangan jantung. Pembuluh-pembuluh darahnya menyempit, tersumbat gumpalan-gumpalan.

Donny melihat betul – melalui layar monitor – bagaimana selang itu menyisir pembuluh-pembuluh darah, membuyarkan gumpalan satu per satu. Setelah itu, cincin-cincin beraksi. Ia berfungsi menyangga saluran pembuluh darah agar tidak menyempit. Ada dua cincin pada tubuh Donny. Operasi berjalan lancar, dan Donny tertidur.

Sekitar jam 10 malam, sebuah bunyi satu nada memekak telinga dalam frekuensi yang panjang. Ia merebut perhatian semua orang di bangsal. Monitor menunjukkan garis lurus tanpa putus. Staf medis menghambur ke ranjang, melakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR) secara kontinu. Dan kemudian, alat kejut listrik. “Mati! Mati!” Tangisan pecah di malam hari.

Donny Fattah dan bass andalan. Foto: Raindy Suhendra

Donny Fattah dan bass andalan. Foto: Raindy Suhendra

Tembakau adalah buah simalakama pemerintah Indonesia. Ia raksasa devisa. Penerimaan negara dari komoditi tembakau pada 2007 tercatat sebesar Rp42 triliun. Setahun kemudian, angka itu meningkat menjadi Rp50,2 triliun – dan terus menanjak secara anual. Di ranah lain, luas areal pertanaman rata-rata di Indonesia setiap tahun adalah 200.000ha, yang memproduksi 170.000 ton tembakau dengan melibatkan 600.000 KK petani. Pemasukan besar, lapangan kerja luas. Itu menciutkan nyali pemerintah untuk menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sementara 176 negara berbondong-bondong meratifikasi sejak 2005.

Penting dipahami bahwa angka-angka tadi tidak naik sendirian. Ia beriringan dengan angka-angka ironi, seperti 200.000 orang meninggal setiap tahun karena rokok, Rp11 triliun digelontorkan oleh masyarakat per tahun untuk biaya perawatan kesehatan akibat penyakit terkait tembakau dan prevalensi perokok di Indonesia pada 2011 – menurut Global Adult Tobacco Survey (GATS) – mencapai 36,1 persen dari total populasi. Angka itu naik secara konsisten sejak Survei Sosial Ekonomi Nasional pada 1995 (27,2 persen), dan diprediksi akan terus meningkat.

Dari para perokok tersebut, 67,4 persen adalah pria dewasa, seperti Donny. Sementara, 4,5 persen adalah perempuan dewasa, seperti Laksmi Notokusumo, 64.

Laksmi adalah seniman teater dan koreografer tari lulusan Institut Kesenian Jakarta. Sejak lama, ia rutin adakan pentas besar bersama kawan-kawan seniman, pentas yang kerap kali disponsori perusahaan rokok. Dahulu ia perokok berat (kenal rokok sejak 1965). Rokok lintingan, bahkan. Tetapi ia berhenti merokok pada 2007.

Pencerahan itu tidak datang dalam sekejap. Hingga 2007, hidup Laksmi sarat perjuangan. Pada 1978, Laksmi harus menjalani operasi tumor jinak di lima tempat di payudara. Pada 1992, ada tumor sebesar telor pada tiroidnya. Ia dioperasi, dan dokter menganjurkan berhenti merokok. Tetapi Laksmi merokok juga.

Puncaknya terjadi pada 10 November 2007. Laksmi ambruk, demam dan ada titik-titik hitam seperti kecebong pada penglihatannya. Ia terkena infeksi, yang ternyata bermuara pada kanker payudara stadium 2b. Dokter memutuskan mengangkat payudara kiri Laksmi. Sejak itu, ia telah menjalani 16 kali kemoterapi, 25 kali terapi radiasi.

Seolah tidak cukup, pada 2010 tiroidnya kambuh, dan kali ini dokter memutuskan mengangkat seluruhnya. Suara Laksmi hilang selama tiga bulan, dan berhasil kembali berkat berulang kali melafalkan mantra “om” ala Zen-Buddhism. Tidak hanya itu, tidak ada kelenjar tiroid juga membuat ia mesti rutin mengonsumsi obat tiraks, satu hingga empat buah sehari, tergantung tingkat aktivitas. Mangkir sekali saja dari tiraks, Laksmi akan kejang.

Bagaimanapun, Laksmi telah lepas dari jeratan rokok, meski ia mengakui bahwa “terkadang rasa ingin itu tetap ada.”

Laksmi di atap RS Dharmais, bersiap mengajar tari (@bayumaitra)

Laksmi di atap RS Dharmais, bersiap mengajar tari (@bayumaitra)

“Itulah bahaya rokok,” kata Nanda Fauziyana dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) menjelaskan. Selain mengandung 4.000 zat kimia berbahaya dan 49 jenis karsinogenik (zat pemicu kanker), nikotin pada rokok bersifat adiktif dan – sialnya – terus menempel di dalam tubuh, tidak larut. Timbunan nikotin bertambah seiring jumlah rokok yang dihisap. Laksmi sendiri mengatakan, “Bahaya adiksi rokok itu nomor satu, bahkan di atas alkohol dan narkotika.”

Laksmi mungkin cukup beruntung telah berhasil melepaskan diri dari rokok. Karena kini, para perempuan – baik perokok maupun tidak – tengah menghadapi tantangan yang lebih dahsyat dari yang pernah ada.

Dr. Widyastuti Soerojo, MSc, Ketua I Komnas PT, dalam konferensi pers bertema “Rokok, Perempuan, dan Gaya Hidup Masa Kini” pada November lalu, memaparkan bagaimana perusahaan rokok kini menargetkan perempuan untuk memperluas pasar. Paradigma mereka: Laki-laki adalah dunia rokok masa lalu, bukan pasar hari esok, dan perempuan dan gadis remajalah yang dituju sebagai sasaran pasar hari esok.

Dalam jurnal The Marketing of Tobacco to Women, Nancy J. Kaufman dan Mimi Nichter menggambarkan bagaimana strategi perusahaan rokok untuk menargetkan perempuan dan gadis sangat intensif, halus, namun komprehensif dan berkesinambungan.
Ketika era 1950-1970-an, misalnya, perusahaan rokok secara terang-terangan memajang sosok perokok perempuan pada iklan-iklan cetak. Namun, setelah muncul larangan gambar dan penyebutan rokok dalam iklan, strategi diperhalus dengan jalan mensponsori acara-acara kebudayaan populer, seperti pameran seni dan pentas musik (berlanjut hingga kini). Pada era ‘80-an, mereka juga menjadi pendonor besar organisasi-organisasi perempuan.

Kini, di era 2000-an, di mana dunia secara intensif mengetatkan aturan pengendalian tembakau, perusahaan rokok menyusup lewat kampanye tersirat, coba mengetuk alam bawah sadar perempuan dengan menjual fantasi. “Merek-merek yang menargetkan perempuan memproyeksikan tema-tema tentang kerampingan, gaya, glamor, kemajuan dan daya tarik seksual,” kata penulis jurnal.
Hal itu bisa dicermati pada slogan-slogan iklan rokok yang beredar: Merek rokok Virginia Slims, misalnya, pernah meluncurkan iklan dengan slogan “It’s a women thing”, yang secara implisit menyiratkan unsur “kemandirian”. Merek Capri pernah punya “She’s gone to Capri and she’s not coming back”, dengan latar belakang pemandangan Mediterania yang cantik dan glamor. Kedua iklan memakai model perempuan cantik, ramping dan terkesan mandiri.

Dan tak hanya melalui tema, elemen warna pada kemasan rokok juga memainkan peranan. Warna biru, contohnya, digunakan untuk memunculkan gambaran ketenangan dan kesegaran. Hijau identik dengan kebersihan, masa muda dan natural, sementara ungu merefleksikan kemewahan, keeleganan dan kefemininan – semua yang kerap diimpikan perempuan.

Perluasan target pasar perusahaan rokok itu sangat mengkhawatirkan, sama mengkhawatirkan dengan sikap pemerintah yang canggung dalam berposisi. Apa yang ditakutkan jelas: peningkatan persentase perokok perempuan di masa mendatang – tanpa mengindahkan potensi pertumbuhan 67,4 persen perokok pria dewasa yang, dari perspektif perusahaan rokok, dirasa ‘aman’.

Pun demikian, kita masih memiliki harapan. Survei GATS menunjukkan, 86 persen orang dewasa kini percaya bahwa rokok menyebabkan penyakit berbahaya, dan 90 persen orang Indonesia setuju bahwa rokok bersifat adiktif. Angka-angka itu mestinya cukup untuk mendorong para pembuat keputusan bertindak lebih tegas terhadap industri rokok, sebagaimana Laksmi Notokosumo yang kini menolak sponsor rokok dalam pementasannya. “Saya harus konsisten. Jika tidak, saya akan ambigu. Dan kelak saya akan kerepotan juga,” katanya.

Di Rumah Sakit Harapan Kita, dalam kehampaan, Donny Fattah mendengar suara-suara dengan jelas. Suara tangisan anak-anak, kesibukan orang-orang dan teriakan “mati!” Ia berpikir akan bertemu Tuhan, dan berdoa. Ia juga membayangkan lorong panjang serta kakek tua berbaju putih yang akan menjemput – Donny sering mendengar kisah macam itu tentang orang yang mati suri. Tetapi ia tidak bertemu siapa-siapa.

Kemudian, ia merasa seakan-akan tenggelam. Donny berusaha meraih permukaan dan bernapas, tetapi ada sesuatu yang selalu menekan ia ke bawah. Ia tercekat, lalu berusaha lebih keras dan lebih keras lagi, hingga akhirnya… kembali gelap.

Keesokan hari, Donny terbangun. Suster menceritakan apa yang terjadi semalam, bahwa ia sempat koma, namun akhirnya bernapas kembali. Teriakan, “Mati! Mati!” itu bukan ditujukan kepadanya. Dokter berteriak lantaran alat kejut jantung belum tersambung listrik.
Enam bulan kemudian, Donny Fattah kembali beraktivitas normal. Pola hidupnya berubah. Ia tidak merokok, tidak minum kopi, bahkan rajin berolahraga ringan dua kali sehari. Selain itu, ia juga bergabung dengan Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia, khusus untuk mengimbau orang-orang mengenai bahaya rokok. “Saya mencoba hidup baru. Banyak hal baru yang saya terapkan setelah 40 tahun merokok,” ujarnya.

Donny juga kembali ke atas panggung bersama God Bless. Ada keraguan pada mulanya. Tetapi ketika naik panggung, semua menghilang. Ia meyakinkan diri, “Ini bisa. Hidup saya dari sini. Dan ribuan orang yang berteriak-teriak di depan ini menunggu saya main.” Satu jam pertunjukan berlalu tanpa kendala.

Laksmi Notokusumo kini sibuk melatih mantan pasien kanker menari dan bermain teater. Latihan tersebut membantu mengembalikan fungsi otak dan saraf motorik yang berkurang akibat efek samping kemoterapi. Ia juga mengadakan pertunjukan di tempat-tempat unik, seperti lobi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pesannya jelas: Stop merokok!

Klarifikasi: Laksmi mengklarifikasi soal obat Tiraks yang dikonsumsi. Obat tersebut hanya boleh dikonsumsi satu butir per hari.

Tulisan ini terbit di Reader’s Digest Indonesia edisi Desember 2012 dan mendapat apresiasi dari Komnas PT sebagai salah satu artikel terbaik.