Kiagus Wirawan Rusdi di Sanggar Sri, Palembang. (2014)

Kiagus Wirawan Rusdi di Sanggar Sri, Palembang. (2014)

Meski tertatih, pria ini tetap bergerilya menyebarkan kesenian wayang Palembang yang hampir punah.

“Wayang itu tuntunan, bukan tontonan,” jelas Kiagus Wirawan Rusdi (Iwan), 41, tentang apa yang paling ia suka dari wayang. “Lewat kisah-kisah, wayang menuntun manusia menjalani kehidupan, juga memberi teladan”. Iwan adalah dalang wayang Palembang. Ia bukan dalang pertama, tetapi bisa jadi, ia yang terakhir.

Dari Jawa, wayang kulit masuk ke Palembang pada abad 17. Sejak itu wayang tumbuh subur di kalangan rakyat, membaur dengan nilai-nilai lokal. Ia menjelma menjadi wayang yang khas. Secara fisik, wayang Palembang didominasi warna-warna menyolok, seperti merah, biru dan kuning. Berbeda dengan wayang Jawa yang menggunakan kuning emas, wayang Palembang memakai kuning tembaga.

Dari segi pementasan juga berbeda. Seorang dalang wayang Palembang tampil tanpa diiringi pesinden. Susunan gamelan pun dari kanan ke kiri (berbanding terbalik dengan di Jawa). Yang mirip justru penggunaan bahasa. Wayang Palembang memakai bahasa Palembang halus. “Bahasa ini hampir sama dengan bahasa Jawa, memakai kata-kata seperti kulo, niki, sinten, pinten, sampun, juga lali,” jelas Iwan. Bahasa Palembang sehari-hari hanya muncul dalam adegan karakter Punakawan, yang terdiri dari Semar, Petruk dan Gareng. Bagong tidak ada dalam wayang Palembang. Di Jawa sendiri, karakter Bagong baru muncul pasca abad 17.

Tetapi Iwan bukanlah dalang sedari kecil. Ia kenal wayang dari kakeknya, Muhammad Rasyid bin Aroni, dalang era 1950-an. Kakeknya pendiri Sanggar Sri, salah satu sanggar pewayangan tertua yang terletak di Jl. Pangeran Sido Ing Lautan, 36 Ilir, Palembang. Sanggar tersebut sekaligus rumahnya. Profesi dalang lantas menurun kepada ayah Iwan, Muhammad Rusdi Rasyid. Akan tetapi, garisnya terputus sampai di situ.

Era 1980-an merupakan era kejatuhan wayang Palembang. “Saat itu wayang Palembang sempat vakum. Tidak ada pergelaran atau apapun,” kenang Iwan. Kondisi itu memburuk dengan banyak dalang yang meninggal atau pensiun, juga oleh kebakaran besar di kawasan sekitar Sanggar Sri pada 1986. Gamelan dan wayang keluarga Iwan habis terbakar. Hingga ayah Iwan meninggal, Sanggar Sri tidak pernah hidup kembali.

Kembalinya Iwan ke dunia dalang baru terjadi pada 2004. Ketika itu, Unesco, badan PBB yang fokus kepada pelestarian budaya, punya program penyelamatan wayang-wayang yang hampir punah. Selain wayang Banjar dari Kalimantan, wayang Palembang merupakan fokus program tersebut. Unesco memberikan satu set gamelan dan 90 wayang kulit kepada Iwan. Pria yang sebelumnya merantau ke Lampung itu kembali ke Palembang dan mulai meneliti budaya peninggalan keluarganya.

“Saya belajar (mendalang) secara otodidak,” jelas Iwan, “karena orang tua sudah tidak ada.” Ia memiliki kaset-kaset yang berisi rekaman ketika kakek dan ayahnya mendalang di berbagai tempat, termasuk di Taman Ismail Marzuki dan istana kepresidenan, Jakarta.
“Saya belajar dari suara-suara di kaset itu, mulai dari gamelannya, percakapannya dan sebagainya,” kenang Iwan. Selain dari rekaman, ia juga memerhatikan dalang-dalang Jawa menggerakkan wayang kulit. Secara perlahan, ia pun menjadi mahir, dan Sanggar Sri bangkit kembali. Meski demikian, tantangan terhadap kelestarian budaya wayang Palembang tetaplah besar.

“Pembuat wayangnya saja sudah tidak ada di Palembang,” tutur Iwan. Dahulu, Palembang memiliki perajin wayang yang biasa dipanggil Mbah Karmo. “Sekarang ia sudah sepuh, usianya sekitar 80, dan tidak ada penerusnya. Mungkin karena penghasilannya tidak seberapa sehingga tidak ada yang mau meneruskan.”

Tantangan lain adalah masuknya hiburan modern, seperti organ tunggal, yang kerap merebut pasar hiburan tradisional. Iwan sendiri mengakui bahwa kini tak ada lagi pentas rutin bagi wayang Palembang. Hanya sesekali saja ada instansi pemerintah atau hajatan yang menanggap ia.

Meski tertatih, Iwan tidak tinggal diam. Dengan modal seadanya ia bergerilya menyebarkan kesenian yang hampir punah, dari panggung ke panggung, dari pentas ke pentas. Pada November silam, ia sempat mengadakan workshop wayang Palembang di kotanya, kemudian menggelar pentas di Festival Dalang Remaja di Tasikmalaya, Jawa Barat. Pada Februari lalu, bersama perkumpulan keluarga veteran perang, ia memeragakan wayang Palembang dalam rangkaian kunjungan ke sekolah-sekolah dasar. Harapannya, ada di antara anak-anak sekolah tersebut yang menyukai wayang, atau bahkan berniat menjadi dalang.

Tetapi siapa saja yang bisa menjadi dalang? Menurut Iwan, siapa pun boleh dan bisa menjadi dalang wayang Palembang. “Tidak ada ketentuan bahwa ia mesti dari garis keturunan keluarga saya. Yang penting, ia mau belajar, sabar dan hidup prihatin,” jelasnya.

Hal tersebut karena secara komersial, profesi dalang wayang kulit di Palembang tidak semeriah di Jawa. “Di Jawa, sekali ditanggap bisa ratusan juta,” jelas Iwan, “tetapi kalau di Palembang, paling-paling hanya cukup untuk pergelaran. Jadi, menjadi dalang wayang Palembang tidak bisa terlalu memikirkan keuangan.”

Hingga saat ini, Iwan merupakan satu dari dua dalang wayang Palembang yang masih hidup. Akan tetapi, dalang lain, Ahmad Syukri Ahkab, sudah pensiun sejak 1983. Adalah hal yang mengkhawatirkan, jika mengingat bahwa di usianya yang paruh baya, Iwan belum juga memiliki penerus. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa kelestarian satu budaya daerah terletak di tangan satu orang.

Terbit di majalah Reader’s Digest Indonesia edisi Juni 2014.