Terpuruk akibat gangguan emosi dan halusinasi, seorang arsitek berjuang mencari kesembuhan dan mendapatkan kembali pekerjaannya.

starcelebritydresses

Rini menggambar sketsa mamanya. @bayumaitra

Vonis

Ruangan persegi itu didominasi warna putih. Rini*, 30, berdiri di hadapan 20-an orang muda berjas putih, yang duduk di bangku, berbekal kertas dan pena di tangan masing-masing. “Pernahkah Anda berpikir ingin mati?” tanya seorang dari mereka. Air mata Rini jatuh tak terbendung. Ia tak mampu menjawab.

Pertanyaan macam apa itu, Rini membatin. Baginya, sejak enam tahun lalu, tak ada hari yang ia lewati tanpa keinginan untuk mati.

Pada siang hari di 2011 itu, Rini berkunjung ke RSAL Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, untuk menjalani pemeriksaan atas masalah kejiwaan yang ia alami. Selain bertemu dokter, ia bersedia menjadi subjek penelitian para mahasiswa kedokteran. Dan hasil diagnosis yang keluar beberapa hari kemudian menyatakan Rini mengidap skizofrenia.

Berbeda dengan gangguan jiwa lain, seperti bipolar, attention deficit disorder atau panic disorder, skizofrenia merupakan jenis gangguan jiwa berat. Setiap tahun, 15-20 per 100.000 orang Indonesia terdiagnosis skizofrenia. “Secara kasar, jumlahnya berkisar satu persen dari total populasi. Jadi, jika di Indonesia ada 241 juta penduduk, ada 2,41 juta orang yang mengidap,” tutur dr. Richard Budiman, SpKJ(K), direktur medik di Sanatorium Dharmawangsa.

Sejarah skizofrenia cukup rumit untuk ditelusuri secara runut. Pada 1797, James Tilly Matthews, pedagang teh asal London, mengalami gangguan jiwa dan dikirim ke Bethlem Psychiatric Hospital. Kasusnya merupakan kasus skizofrenia paranoid tertua yang terdokumentasikan. Pada 1809, Philippe Pinel, psikiater asal Prancis, menuliskan deskripsi atas sebuah penyakit kejiwaan. Tulisan itu kini menjadi literatur awal keberadaan penyakit jiwa skizofrenia.

Bagaimana pun, istilah skizofrenia baru digunakan pada 1908, ketika Eugen Bleuler, psikiater Swiss kelahiran Jerman, hendak mendeskripsikan pemisahan fungsi antara kepribadian, pikiran, memori dan persepsi yang terjadi dalam diri seseorang. Skizofrenia sendiri berasal dari bahasa Yunani: “schizein” yang berarti retak atau pecah, dan “phren” yang berarti pikiran atau jiwa.

Seorang pengidap skizofrenia mengalami gangguan dalam menilai realita. “Ia tidak mampu membedakan mana kenyataan, mana fantasi,” jelas dr. Andri, SPKJ, FAPM, psikiater dari Klinik Psikosomatik Rumah Sakit OMNI Alam Sutera. Namun hingga kini, penyebab pasti skizofrenia masih misteri. Menurut Richard, skizofrenia diduga berkaitan dengan tiga faktor: organobiologi (genetik), psikoedukasi (pendidikan dalam lingkungan keluarga), dan sosiokultural (lingkungan). Dan seperti gangguan jiwa lain, pemicu skizofrenia bisa datang dari masalah kehidupan sehari-hari. Misalnya, stres di kantor, tekanan di rumah, trauma fisik, atau bahkan sesederhana patah hati.

Dampak dari masalah tertentu terhadap orang tertentu jelas berbeda. “Ketika suatu masalah jiwa mengakibatkan tubuh tidak lagi berfungsi dengan baik, bisa dikatakan seseorang mengalami gangguan jiwa,” kata Richard. Seorang penulis yang tertekan hingga tak lagi mampu menulis bisa saja mengalami gangguan jiwa. Seorang anak yang dimarahi, lantas tak mau makan, bisa jadi jiwanya terganggu. Seorang pembalap yang terbentur di bagian kepala, lalu sering berhalusinasi, mungkin juga mengalaminya. Begitu juga seseorang yang patah hati dan menjadi lemah tak berdaya, banyak melamun dan malas melakukan apa-apa.

Tangis tanpa sebab

Umumnya, skizofrenia timbul ketika seseorang berusia muda, dalam rentang umur 18-30. Ada beberapa fase dalam skizofrenia, dari gejala atau prodromal hingga mulai terjadi atau onset. Rini mengalami prodromal bertahun-tahun lalu, semasa masih kuliah di jurusan arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung.

Waktu itu 2005, sekitar pukul 11 malam, di kamar indekosnya yang kecil di daerah Ciumbuleuit. Saat sedang berbaring menunggu tidur, emosinya mendadak meluap, membuncah tanpa sebab. Ia merasakan kesedihan luar biasa, yang tak kuasa ia tahan. Rini menangis sesenggukan. Ketika butuh berteriak, ia membekap wajahnya dengan bantal.

Satu jam berlalu, dan pikirannya melayang kepada sang mama, orang terdekatnya, yang kala itu tinggal di Jakarta. Ia takut kesedihan itu merupakan firasat akan suatu kejadian buruk. Lewat telepon, Rini menghubungi mamanya untuk memastikan. Tidak terjadi apa-apa, dan Rini pun jatuh tertidur usai menelepon. Ia kelelahan.

Keesokan hari, Rini kembali menghubungi keluarga. Kali ini sang papa. Ia bercerita soal kejadian kemarin, dan bagaimana belakangan hidupnya terasa hampa. Beberapa hari kemudian, keluarganya datang ke Bandung, dan membawa Rini ke psikolog di kawasan Dago. Hasil sesi menyatakan, Rini dalam kondisi jiwa normal. Hanya, ada kemungkinan ia mengalami frustrasi, yang bisa jadi disebabkan kurangnya kasih sayang keluarga.

Sejak kecil, gelombang emosi memang kerap datang dan pergi sesuka hati, tetapi Rini belum pernah merasakan yang sedahsyat malam itu. Luapan emosi pun tidak datang hanya sekali, tetapi berulang kali, setiap hari. Lambat laun, Rini berubah menjadi pribadi yang sentimental. Bahkan suara-suara percakapan dan tatapan orang lain seringkali berarti negatif dalam persepsinya. Dan penyebab ia menangis malam itu tidak pernah Rini temukan jawabannya. Yang jelas, pasca kejadian, gangguan terus memburuk. Hingga ia lulus kuliah, dan akhirnya bekerja.

Rini bersikeras telah melihat iblis, ia tidak tahu bahwa ketika hal itu terjadi, ada sesuatu yang juga berlangsung di kepalanya.

Bekerja dengan emosi

Ketika mulai bekerja di kantor konsultan arsitektur di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada 2007, sebagai arsitek muda, Rini bertugas mengolah gambar di kertas yang dibuat para senior dengan pensil, dan detail angka-angka, menjadi gambar utuh di komputer. Situasi dan lingkungan kerja di kantor itu melatih mental dan daya nalar Rini, sehingga terbiasa ‘hidup dengan logika’, seperti yang selalu ia impikan. Rini bahagia.

Namun gangguan emosi itu masih ada, mengintai dari kegelapan, menunggu waktunya. Dan ketika ia datang, karier Rini jungkir balik. Ia banyak melamun, atau bergeming di depan komputer. Pikirannya suka melayang ke mana-mana, menebar curiga terhadap koleganya. Ketika rekan-rekannya bersosialisasi, ia lebih banyak diam. Ia tidak tahu bisa berbincang dengan siapa, atau tentang apa. Hubungan dengan teman baiknya di kantor juga memburuk, sampai akhirnya  surface grinding     sang teman menjauh. Dan karena merasa lingkungan kantor sudah tidak kondusif, Rini mengundurkan diri.

Selanjutnya, Rini sempat bekerja di beberapa tempat lain di kawasan Serpong dan Bintaro, Tangerang. Hasilnya sama saja. Ketika bekerja, ia merasa seluruh rekan kantor selalu membicarakan ia di belakang. Bahkan ia mulai merasa ada yang mengawasi gerak-geriknya dari jarak jauh.  Rini memutuskan berhenti kerja kantoran dan mencari peruntungan sebagai freelancer. Pun demikian, tak butuh waktu lama bagi ia untuk menyadari bahwa ia tak bisa melarikan diri. Rini tidak tenang, bahkan di rumahnya sendiri.

Ketika memutuskan mencari bantuan medis ke RSAL Mintohardjo, masalah kejiwaan Rini sudah sangat buruk. Di rumah, ia melihat perawakan sang ibu berubah menjadi seperti karakter nenek jahat dalam film horror, dan sang ayah adalah iblis, dengan raut wajah dan mata hitam total. Iblis itu selalu menebar energi jahat ke segala penjuru, memengaruhi orang-orang di sekitar Rini, termasuk sang ibu. Rini tahu apa yang diinginkan iblis itu: Kematian dirinya.

Gejala positif dan negatif

Halusinasi, baik visual maupun auditori, merupakan salah satu gejala khas pada pengidap skizofrenia. Secara garis besar, gejala penyakit skizofrenia terbagi menjadi positif dan negatif. Halusinasi merupakan salah satu gejala positif, selain delusi atau waham, kehilangan kemampuan berpikir secara logis dan waham yang dikendalikan. Waham merupakan keyakinan yang salah, yang tidak bisa dijelaskan berdasarkan kebudayaan ataupun latar belakang pasien. “Misalnya, ada orang yang mengaku presiden,” tutur Richard, “Namun kenyataannya bukan.” Sementara waham yang dikendalikan berarti pengidap skizofrenia merasa pikiran dan perilakunya dikendalikan dari luar.

Gejala-gejala negatif meliputi efek tumpul (berkurangnya respons emosional yang ditandai oleh berkurangnya ekspresi wajah dan gerak-gerik komunikatif), penarikan emosional, kemiskinan hubungan interpersonal (berkurangnya empati dan keterlibatan dengan lingkungan sekitar), penarikan diri dari hubungan sosial, serta kesulitan berpikir abstrak.

Menurut buku Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders 5 (2013) dari American Psychiatric Association, ketika psikiater memeriksa seseorang, ia akan meneliti jumlah gejala khas yang ada pada pasien. Jika ia berjumlah dua atau lebih, dan telah berlangsung lebih dari sebulan, pasien telah memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia.

Dan kendati Rini bersikeras telah melihat iblis, ia tidak tahu bahwa ketika hal itu terjadi, ada sesuatu yang juga berlangsung di kepalanya. “Ada hormon yang tidak stabil atau kadarnya sangat tinggi di otak,” jelas Richard. Pada pengidap skizofrenia, tingkah laku hormon-hormon di otak berbeda dari orang normal.

Salah satu hipotesis soal penyebab skizofrenia yang paling berkembang adalah produksi neurotransmiter dopamin yang berlebihan. Kadar dopamin sendiri memengaruhi perasaan senang dan pengalaman berbeda. Jika berlebih, muncul gejala positif. Jika kekurangan, yang muncul gejala negatif.

Sebut saja, hipnoterapi, tidur di atas bantal dengan kumparan kawat khusus, transfer penyakit ke telur, ke ayam, dan entah ke mana lagi. Sang kakak tak kunjung sembuh.

Orang Timur

Rini duduk seorang diri dalam sebuah ruangan, memandang ke luar jendela, ke arah lapangan di depan. Pikirannya kalut, seperti biasa. Dan ketika rasa lelah tak tertahankan, ia beranjak ke ruangan lain dan kembali dengan membawa pena. Ia menggenggam erat dengan tangan kanannya, secara terbalik. Perlahan, ia mengarahkan ujung pena ke dada kiri, menempel tepat di bagian jantung.

Waktu itu siang hari di pertengahan 2012, di mana Rini sudah dua bulan lebih menjalani program penyembuhan di inabah (istilah dari bahasa Arab, yang mengacu kepada pusat rehabilitasi pecandu narkoba dan gangguan jiwa) Pondok Pesantren Suryalaya, Ciamis, Jawa Barat. Program itu dicanangkan selama tiga bulan. Ya, meski sudah menjalani perawatan medis, ia merasa belum cukup sembuh.

Dalam rentang setahun, perjalanan mencari kesembuhan sudah membawa Rini ke berbagai tempat. Ia pernah berobat ke ‘orang pintar’ di lingkungan rumahnya di Pondok Gede, Jakarta Timur. Ia pernah ke Pesantren Daarut Tauhiid di Bandung, Cirebon, dan kini, ia di Ciamis.

Kisahnya adalah stereotipe para pencari kesembuhan di negara-negara Timur. Secara historis dan filosofis, budaya Timur – khususnya Indonesia – sangat dekat dengan hal-hal berbau spiritual dan supranatural. Itu sebabnya, terapi spiritual alternatif laris manis, apalagi jika dibalut agama. Dalam konteks Indonesia, itu berarti Islam.

Banyak terapi spiritual alternatif memasukkan elemen ritual Islam, sepenggal maupun seluruhnya. Dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, dokter jiwa, mantan anggota DPR, dan penulis buku Atas Nama Jiwa (2011), menyoroti bahwa dalam dua dekade terakhir, komunitas sufi mewarnai kehidupan perkotaan. Banyak selebriti dan kaum elit bergabung ke kelompok tertentu, untuk mencari ketenangan jiwa, kebahagiaan. Menurut sosiolog Fachry Ali, semakin eksotik suatu ajaran spiritual, semakin cepat diminati. Itu sebabnya, spiritual shelter, yang secara medis hampir bersifat sui generis (tidak dapat diklasifikasikan), bisa begitu atraktif karena dianggap secara konkret ‘menyembuhkan’.

Bagus Hargo Utomo, pendiri Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), sudah mencoba tak kurang dari 50 cara alternatif untuk menyembuhkan kakaknya, yang sejak 1995 mengidap skizofrenia agresif. Sebut saja, hipnoterapi, tidur di atas bantal dengan kumparan kawat khusus, transfer penyakit ke telur, ke ayam, dan entah ke mana lagi. Sang kakak tak kunjung sembuh. “Jika ditotal, biayanya sudah bisa membeli lebih dari tiga mobil BMW,” kenangnya. Dan itu bukan bualan. Nova, dalam bukunya, menyebutkan bahwa real income loss atau beban ekonomi suatu negara akibat dari gangguan mental emosional bisa mencapai Rp10.554.427.538.802.

Terkait pengobatan alternatif, Andri mengatakan, “Pengobatan yang selama ini disarankan adalah pengobatan medis yang terbukti secara ilmiah dan dapat dibuktikan kebaikannya untuk banyak orang.” Dan ketika seseorang dengan skizofrenia ditempatkan di pondok rehabilitasi yang tidak berbasis pengobatan medis, “Bisa jadi semakin memburuk,” jawab Richard. “Sebabnya adalah berbeda dengan para (pecandu) narkoba yang sebetulnya memiliki otak sehat, skizofrenia ada pengaruh faktor genetis.”

Rini sudah menjalani dua per tiga waktu dari program penyembuhan, namun tak merasakan gejala kesembuhan. Ia masih merasakan kiriman energi jahat dari papanya. Ia masih merasa iblis mengawasi. Dan itu sebabnya, siang itu ia ingin mengakhiri hidup. Ujung pena siap menembus jantungnya. Bagaimanapun, ia tidak mampu.

Pulang

Dug! Dug! Dug! Rini membenturkan kepala ke tembok, hendak mengusir iblis. Ia yakin, jika ia berusaha lebih keras, iblis akan minggat dari tubuhnya. Dan ia hampir berhasil. Tetapi, kemudian ia merasa sangat mual dan berhenti. Ia juga takut kepalanya terluka. Esoknya, ia melakukan hal yang sama.

Berbagai penelitian telah dilakukan, untuk menunjukkan kedekatan skizofrenia dengan insiden bunuh diri. Sebesar 50 persen pengidap skizofrenia berupaya bunuh diri, dan sepuluh persen di antara mereka berhasil. Untuk Rini, beberapa hal menghalangi ia mengambil jalan pintas.

Rini selalu teringat mama dan saudara-saudaranya. Dan yang utama, ia ingat Tuhan. Dalam Islam, seseorang yang bunuh diri jiwanya tidak akan diterima di alam sana. Ia pun bertanya-tanya, ke mana jiwanya pergi setelah ia mati? Apakah ke Tuhan, atau justru ke tangan iblis?

Hari-hari terakhir di inabah begitu sepi. Teman-teman yang tadinya berjumlah belasan, terdiri dari pasien gangguan jiwa dan pecandu narkoba, satu per satu pulang ke rumah masing-masing. Jumlahnya menyusut hingga tinggal lima-enam orang saja. Rini tak tahan. Ia juga ingin pulang. Berkali-kali ia mengemis kepada pengurus inabah untuk menghubungi keluarganya di Jakarta, agar mereka menjemput ia. Selama itu usahanya sia-sia. Namun pada suatu pagi ia mendengar pengurus inabah menyuarakan kabar baik, “Rini, itu ibunya datang, tuh!”

Setengah tidak percaya, Rini menghambur ke luar ruangan. Di sana ia melihat sang ibu dan saudaranya datang menjemput. Ia berlari ke arah mereka, menangis dan memeluk erat. Ia sempat menceritakan pengalamannya, pikiran-pikirannya, dan kemudian berpesan kepada saudaranya, “Aduh, tolong, ya, itu kalau bisa Papa dibunuh saja.”

Lima jam perjalanan darat dari Ciamis ke Jakarta dihabiskan Rini untuk berpikir tentang sang bapak. Konflik batin sudah mencapai titik bunuh atau dibunuh. Dan ketika sore hari ia tiba di rumah, saat-saat penentuan itu tiba.

Kala itu bapaknya sedang duduk di sofa, menonton teve di ruang tengah. Rini, alih-alih masuk dari pintu depan rumah yang terhubung langsung dengan ruang tengah, melipir masuk lewat pintu belakang yang terhubung dengan dapur. Rini mengoprek peralatan makan. Ia mencari pisau.

Ada beberapa jenis pisau di dapur, tetapi entah mengapa, pilihan jatuh kepada pisau roti. Ia lantas beranjak ke ruang tengah, berdiri membelakangi teve, menghadap bapaknya yang duduk di sofa. “Pa, sudah, tidak usah lama-lama kalau mau bunuh Rini!” serunya.

Bapaknya hanya menatap. Suasana berubah mencekam. Sang ibu yang berada di ruang makan kaget mendengar kata-kata Rini. Ia juga takut. Dahinya dipenuhi peluh seukuran jagung.

“Kalau Papa tidak mau bunuh Rini, Rini saja yang bunuh Papa sekarang,” tegasnya.

Di saat-saat yang genting, sang ibu menghampiri dan melerai. Ia mencoba masuk ke kepala Rini, menakut-nakuti dengan mengatakan, jika ia membunuh sang papa, maka setelah itu, ia akan dikeroyok massa. Cara itu berhasil. Rini takut dihabisi massa. Selain itu, ia juga berpikir panjang soal hubungan keluarganya kelak. Keluarga bapaknya tentu akan memusuhi ia. Masalah bisa panjang. Rini pun mengurungkan niatnya.

Lahir kembali

Pada September lalu, sepulang dari sebuah mal di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, terbersit keinginan Rini berkunjung ke kantor lamanya di kawasan Tebet. Ia ingin melihat kawan-kawan lama.

Saat itu kondisinya sudah membaik. Pasca inabah, ia rutin ke dokter untuk kontrol dan berobat. Ia merasa cocok dengan pelayanan salah satu dokter di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Ia juga sangat fokus kepada penyembuhan, serta berusaha mengejar ketertinggalannya.

Obrolan di kantor lama ternyata berbuah rezeki. Seorang senior di sana mengatakan, mereka sedang butuh arsitek, dan menawarkan Rini untuk membantu mereka. Rini kembali bekerja pada Oktober.

Hantu-hantu itu pun berangsur-angsur menghilang. Kini, yang tersisa hanyalah papa dan mama yang ia sayangi. “Mereka adalah orang tua yang sangat bertanggung jawab dalam mengasuh anaknya, dalam situasi apa pun,” tuturnya. Mengingat hal-hal yang lalu, terkadang Rini geli sendiri.

Tulisan terbit di Reader’s Digest Indonesia, Desember 2014
*Untuk menjaga privasi pengidap, nama disamarkan