Menjadi ‘hijau’ di perkotaan rupanya tak sederhana. Berbagai perilaku berikut tampak sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan, tetapi mungkin Anda keliru.

Banjir informasi, banyaknya aktivis lingkungan hidup, penyuluhan pemerintah, serta meningkatnya literasi masyarakat atas isu lingkungan hidup, membuat topik gaya hidup ramah lingkungan bukan lagi hal baru di perkotaan. Bagaimanapun, hidup di kota bukan tanpa tantangan.

Di perkotaan, tantangan dalam mengadopsi gaya hidup hijau bukan datang dari sesuatu yang jelas-jelas merusak lingkungan. Ia datang dengan selimut “efisiensi”. Dan ketika seseorang dihadapkan pada pilihan “ramah lingkungan versus efisien”, ia seringkali tergelincir – baik karena ketidaktahuan, atau karena secara logika, yang efisien lebih menguntungkan.

Rasanya, setiap orang pernah tergelincir. Tetapi jika Anda merasa selalu hijau, coba jawab soal-soal berikut. Anda mungkin terkejut dengan hasilnya.

Simak berbagai pilihan yang kerap ditemui sehari-hari berikut ini. Catat dalam hati, dan berdoalah Anda telah memilih gaya hidup yang hijau.

  • Piring kertas vs styrofoam
  • Lampu pijar vs lampu LED
  • Bensin subsidi vs non-subsidi
  • Pemanas air listrik vs gas
  • Mencuci kendaraan di rumput vs di beton
  • Rumah berbahan beton vs kayu

Yakin dengan pilihan Anda? Silakan lanjut membaca.

Apa yang tampak hijau belum tentu ramah lingkungan. Di rumah, di jalan, di lingkungan sekitar, masyarakat kota dihadapkan pada dilema gaya hidup hijau. Uraian berikut akan membantu Anda menentukan sikap ketika berada dalam pilihan sulit. Bagaimanapun, kita tidak bisa menyerah begitu saja.

DILEMA DI JALAN

Motor Vs angkutan umum
Semua orang sepakat bahwa pergi ke kantor dengan angkutan umum lebih ramah lingkungan ketimbang membawa mobil pribadi. Tetapi, bagaimana jika dibandingkan dengan motor?

Sekilas, jika ditotal, jumlah pengeluaran per bulan untuk membayar tiket angkutan umum seringkali lebih mahal dibandingkan pengeluaran bensin motor per bulan. Apalagi, jika orang tersebut tinggal di tempat yang jauh dari kantor. Dan, itu belum termasuk kerugian waktu. Bis tidak bebas dari macet. Tetapi benarkah motor lebih efisien?

Menurut Dr. Edzard Ruehe, Team Leader dari lembaga Sustainable Consumption and Production (SCP) Indonesia, “menilai sesuatu dari keuntungan pribadi yang akan diperoleh adalah wajar.” Akan tetapi, ia menyarankan untuk melihat sisi lain terkait efisiensi. “Konsekuensi dari membeli dan menggunakan kendaraan pribadi bukan hanya biaya BBM, tetapi juga biaya pembelian pertama, biaya pemeliharaan, biaya parkir, dan biaya lain yang mungkin ada. Jadi, benarkah kendaraan umum lebih mahal?”

Ruehe juga mengatakan bahwa ada cara lain selain menggunakan kendaraan umum, seperti berjalan kaki atau naik sepeda. Selain lebih murah dan ramah lingkungan, ia lebih sehat.

Menggunakan mobil Low Cost Green Car (LCGC)
Secara teknis, mobil kategori LCGC memang ramah lingkungan. Tetapi, apakah dengan menggunakan mobil LCGC berarti Anda sudah ramah lingkungan? Tidak juga.

Masalahnya ada dua. Pertama, soal pemeliharaan mobil. Christian Natalie, Chief Environmental Officer dari Greeneration Foundation, mengatakan “efektifitas mobil LCGC terkait dengan pemeliharaan mobil.”

Salah satu contoh adalah terkait bahan bakar. Beberapa mobil mensyaratkan penggunaan bahan bakar RON 92. Artinya, penggunaan bahan bakar dengan kualitas rendah akan memiliki konsekuensi negatif, seperti mesin menjadi boros atau cepat rusak. “Bangsa kita dikenal sebagai bangsa pengguna. Yang jadi masalah adalah ketika kita tak tahu apa yang digunakan, namun sok tahu ketika memakai,” tukas Christian.

Masalah kedua terkait dengan perilaku mengemudi. Ruehe mengatakan, bahwa di Jerman, pengendara bis bisa menghemat hingga 30 persen BBM hanya dengan memperbaiki cara mengemudi. Pengaturan kecepatan yang mendadak dan membawa beban yang terlalu berat adalah contoh perilaku mengemudi yang menyebabkan kendaraan lebih boros.

Membeli bensin non-subsidi
Menurut buku Jakarta Dalam Angka (2004), jumlah BBM yang terjual di Jakarta setiap harinya mencapai 15 juta liter. Di sisi lain, jumlah sepeda motor bertumbuh 15-20 persen per tahun. Dan, menurut Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (1992), kendaraan bermotor memberikan kontribusi pencemaran CO sebesar 98,80 persen. Intinya, tidak menggunakan BBM tentu lebih baik.

Pun demikian, jika harus memilih, bensin non-subsidi lebih ramah lingkungan. Ini terkait dengan kadar oktan bensin tersebut. Bensin Pertamax, misalnya, memiliki kadar oktan lebih tinggi daripada Premium. Semakin tinggi tingkat oktan, semakin sempurna pembakaran. Dengan begitu, ia akan meminimalisir residu yang menguap ke udara.

Tetapi semua teori itu akan runtuh jika pola pikir hijau tidak diresapi. Tantangan yang tak kalah hebat datang dari pola pikir masyarakat sendiri. Murahnya harga BBM juga berdampak pada penggunaannya. “Memang ada kecenderungan bila harga BBM murah, perilaku menjadi tidak bijaksana, nothing to lose,” jelas Ruehe.

Mencuci mobil di atas rumput
Mencuci mobil bukanlah kegiatan yang berbahaya bagi lingkungan hidup. Apa yang berbahaya? Mencuci mesin. Oli mobil bisa meresap dan merusak tanah juga air di lingkungan tersebut. Itu sebabnya, di tempat cuci mobil, oli selalu ditampung terpisah.

Mobil listrik Vs mobil konvensional
Ide tentang mobil listrik memang memikat. Ia dijanjikan bebas emisi, sehingga tidak menimbulkan polusi. Bagaimanapun, dari segi efisiensi, belum tentu mobil listrik lebih hemat. Jangan-jangan, listrik yang digunakan demikian besar sehingga Anda justru menghabiskan lebih banyak batu bara.

Mobil listrik akan menjadi ramah lingkungan jika listriknya diperoleh dari proses daur ulang energi. Misalnya, dengan teknologi tertentu, mobil dapat menghasilkan listrik dengan memanfaatkan proses pengereman. Ini baru canggih.

Green Celebrity Dresses

Illustration by Vecteezy

TANTANGAN DI LINGKUNGAN

Membakar sampah
Di Indonesia, pembakaran sampah adalah hal yang umum dilakukan. Anda dapat melihatnya di mana-mana, dari perkampungan, penampungan sampah, bahkan di pegunungan (pendaki gunung banyak yang melakukannya). Ia juga terjadi dalam skala kecil hingga besar. Masalahnya, tak banyak yang tahu bahwa memusnahkan sampah dengan cara yang salah dapat membahayakan kesehatan.

Ruehe mengatakan bahwa “Pembakaran sampah adalah cara paling buruk untuk memusnahkan sampah.” Di negara maju, sampah yang tidak bisa didaur ulang dikumpulkan dan dibawa ke pusat pembakaran yang telah menggunakan incinerator ramah lingkungan. Teknologi tersebut berbeda dengan pembakaran di rumah-rumah maupun di beberapa rumah sakit di Indonesia. Suhu yang rendah akan menyebabkan pembakaran yang tidak sempurna, dan menimbulkan gas beracun yang membahayakan tubuh, selain menimbulkan polusi.

Solusinya? Pisahkan sampah menurut kategori organik, anorganik, serta sampah B3. Kumpulkan dan serahkan pada petugas yang berwajib.

Memilih wadah atau piring ketika jajan
Umumnya, ada beberapa pilihan piring ketika Anda jajan di suatu tempat, yaitu piring kaca, piring kertas, piring styrofoam, dan piring plastik. Manakah yang terbaik? Pertama, menurut Christian, “kurangilah penggunaan suatu produk, karena pasti menghasilkan sampah.” Tetapi, keadaan mendesak, yang perlu diingat adalah prinsip 3R (Reduce-Reuse-Recycle). Dari berbagai pilihan di atas, yang terbaik adalah piring kaca, karena ia bisa digunakan kembali. Setelahnya, piring plastik (dengan catatan ia digunakan kembali), piring kertas, baru Styrofoam. Sebisa mungkin hindari penggunaan styrofoam, karena menurut Rizka D. Anggara, pengurus Bank Sampah Melati Bersih di Pamulang, sampah styrofoam tak dapat diurai tanah.

Bagaimana dengan minuman?
Pilihan wadah untuk minuman ada empat, yaitu kaca, kaleng, plastik dan kertas. Secara berturut-turut, yang terbaik adalah wadah kaca, kaleng, plastik, dan kertas. Kertas, meski berasal dari kayu (terkesan ‘hijau’, kan?), selalu paling buruk, karena sifatnya yang hanya sekali pakai.

Namun, Ruehe mengatakan ada beberapa pengecualian dalam urutan di atas. Wadah plastik tersebut mestilah reusable, dan ini berarti bukan botol plastik minuman kemasan. Jika tidak, ia akan lebih buruk dari kertas, karena bahan plastik lebih sulit diurai. Satu hal lagi: Lupakan membeli minuman dalam bentuk sachet! Ukurannya memang kecil dan praktis, namun sampahnya sangat sulit didaur ulang.

Pasar tradisional, supermarket atau toko online?
Sekilas, belanja di toko online sangat ramah lingkungan. Anda tidak perlu keluar ongkos untuk berkendara, sekaligus mengurangi polusi dan jejak karbon. Tetapi, hal itu jadi percuma ketika rumah Anda di Jakarta Selatan, sementara mereka mesti mengantar barang dari Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Intinya, Anda bisa membeli dari mana saja. Tetapi, semakin dekat lokasi, semakin baik. Pilihan belanja di pasar tradisional juga punya manfaat lain, seperti mendukung petani lokal serta menggerakkan perekonomian rakyat kecil dan menengah.

Bagaimana dengan di supermarket yang dekat rumah? Silakan saja, selama Anda tidak membeli apel yang diterbangkan jauh-jauh dari Amerika Serikat. Pengetahuan atas produk yang ramah lingkungan juga penting.

Membeli buah impor
Terkadang, selisih harga yang tipis membuat seseorang gelap mata. Daripada beli yang lokal, lebih baik sekaliab beli yang impor, karena lebih berkualitas. Di sinilah kekeliruannya.

Kita perlu mengubah paradigma berpikir bahwa yang impor selalu lebih baik. Beberapa fakta yang perlu direnungkan adalah: Berapa besar jejak karbon dan biaya yang dikeluarkan untuk membeli produk impor? Apel dari Cina, misalnya, perlu dipilah-pilah di satu tempat, di bawa ke pelabuhan atau di bawa terbang lintas negara, tiba di pelabuhan Jakarta, lalu dipilah lagi, baru dibawa ke suatu pasar di kota. Ini tentu tidak efisien.

Isu lain adalah terkait produksi buah tersebut. Apakah mereka menggunakan bahan yang aman dan tidak merusak lingkungan? Apakah mereka menggunakan prinsip perdagangan yang adil terhadap petani (fair trade)? Anda mesti pertimbangkan masak-masak. Jika ada yang lokal, kenapa mesti impor?

Membeli sayuran lokal, atau yang impor tetapi organik
“Sebenarnya, makanan organik sudah pasti lokal, tetapi lokal belum tentu organik,” jelas Ruehe. Akan tetapi, di luar itu, kita mesti memahami konsep organik secara menyeluruh. Organik bukan hanya terkait penggunaan pestisida alami, tetapi juga soal distribusi (ingat! semakin dekat, semakin baik). Jadi, jika panganan tersebut memang organik secara produksi, namun ia dibawa dari tempat yang sangat jauh (impor), ia tak lagi memenuhi konsep utuh dari makanan organik.

Salmon hasil pemijahan Vs salmon liar
Yang alami belum tentu lebih baik. Ruehe mengatakan, bahwa mengkonsumsi hasil budidaya lebih ramah lingkungan karena tidak menghabiskan sumber daya alam, sehingga tidak mengganggu habitat laut. Masalahnya, salmon tidak ada di Indonesia.

Keharusan mengimpor salmon membuat salmon kurang ramah lingkungan. Selain jarak yang jauh, seringkali salmon didistribusikan dengan mobil berpendingin yang tidak jelas standar keamanannya. Untungnya, Indonesia kaya akan hasil laut. Sehingga, beralih dari salmon ke ikan lain tentunya tidak sulit.

Jangan sampai membeli murah tapi mahal, seharusnya membeli mahal tapi murah.

PILIHAN DI RUMAH

Menggunakan pompa air
“Seharusnya kita semua memakai air PAM. Ini sesuai dengan UUD 1945 Pasal 33, bahwa sumber daya alam dikelola oleh negara dan digunakan untuk seluruh warga dengan adil dan berkelanjutan,” Jelas Christian. Adalah benar, bahwa pasokan air dari PAM terkadang bermasalah, dan tidak merata di semua tempat. Tetapi itu adalah isu pelayanan, dan itu bukan berarti pompa air Anda tak pernah bermasalah.

Terkait dengan gaya hidup hijau, penggunaan air dari PAM selalu lebih hijau. Menguras air tanah di lingkungan rumah menyebabkan level air tanah menurun dan berpotensi merusak lingkungan atau menimbulkan bencana longsor. Di sisi lain, penggunaan air PAM belum tentu lebih mahal. Hitung dulu harga pompa air, biaya penggalian tanah, biaya pemasangan, biaya pemeliharaan, plus tarif listrik nya. Bisa jadi, Anda perlu keluar uang lebih banyak.

Pemanas air listrik atau gas?
Mayoritas pembangkitan listrik di Indonesia menggunakan bahan bakar batu bara, yang menyebabkan polusi dan efek gas rumah kaca.  Karenanya, antara sumber energi listrik dan gas, gas akan selalu lebih ramah lingkungan. Pengecualian terjadi jika listrik itu dihasilkan dari, misalnya, kincir angin atau panel surya. Baik angin maupun matahari merupakan sumber energi yang terbarukan.

Kompor listrik atau kompor gas
Sama dengan poin sebelumnya. Selain lebih hemat energi, kompor gas punya kelebihan lain, yaitu akan langsung panas ketika dinyalakan. Sementara, kompor listrik butuh waktu untuk pemanasan. Artinya? Ada energi terbuang.

Sapu tangan Vs Tisu
Penggunaan sapu tangan lebih baik ketimbang tisu, karena dapat dipakai berulang kali. Di lain sisi, bahan dasar pembuatan tisu adalah kayu. Dan sangat sulit bagi kita untuk mengetahui dari mana kayu itu berasal, apakah dari hutan alam atau hutan industri.

Mencuci pakaian dengan air keran
Jika Anda masih mencuci pakaian dengan air keran ketimbang mesin cuci, Anda melakukan hal yang tepat. Dengan catatan: Anda bak untuk menampung air, bukan membiarkan air keran mengucur terus-menerus. Bagaimanapun, masalah efisiensi waktu dan kualitas hasil cuci adalah isu lain. “Memang, bila pilihan yang ramah lingkungan itu tidak efisien, dia menjadi tidak populer dan sulit dilakukan,” jelas Ruehe.

Membangun rumah dari kayu
Mengacu pada prinsip siklus daur-hidup, kayu dapat didegradasi dengan mudah oleh alam. Oleh karenanya, ia lebih baik ketimbang beton. Akan tetapi, masalah baru timbul ketika Anda menelusuri dari mana kayu berasal. Ingatlah bahwa kayu yang ramah lingkungan adalah kayu yang berasal dari hutan industri, bukan hutan alam.

Faktor lain adalah terkait umur. Yuvensius Biakai, Bupati Asmat, Papua, pada 2013 lalu membangun jembatan beton untuk menggantikan jembatan kayu di kota Agats. “Jangan sampai membeli murah tapi mahal, seharusnya membeli mahal tapi murah.” Ia mengacu pada bahan baku jembatan. Kayu, meski pun tersedia dalam jumlah banyak di Asmat, memiliki umumr yang pendek. Di sisi lain, beton, meskipun mahal, umurnya bisa puluhan tahun. Saat ini, sudah ada teknologi yang membuat umur kayu, sebagai material bangunan, menjadi lebih panjang. Jadi, silakan diperhitungkan.

Selain kedua hal di atas, Anda juga perlu teliti soal desain bangunan. Perhitungan yang tidak akurat akan berpengaruh terhadap daya tahan bangunan. Ini, selain membahayakan nyawa, akan berujung renovasi.

Lampu pijar Vs lampu LED
Harga lampu pijar memang sangat murah dibandingkan dengan lampu LED. Akan tetapi, kerugiannya juga banyak. Pertama, lampu pijar mengandung logam berat merkuri. Kedua, ia boros listrik. Ketiga, dari segi kualitas, ketahanannya rendah sehingga mesti sering diganti.

Sebaliknya, asumsi bahwa lampu LED sangat mahal tidak tepat. Justru, LED lah yang termurah, jika Anda menghitung pemakaian listrik dan daya tahannya. Lampu LED akan menghemat listrik hingga 80 persen, dengan daya tahan hingga 15 tahun.

Kini, Anda telah memiliki lebih banyak pengetahuan seputar gaya hidup ramah lingkungan, dan sekarang waktunya mengecek jawaban dari soal di atas. Sudah hijaukah Anda?

*Terbit di Reader’s Digest Indonesia, edisi Februari 2015