Kebiasaan copy-paste bisa berujung serius, seperti berhadapan dengan tuntutan milyaran rupiah bahkan dipenjara. Di era digital, tak banyak yang berubah dari Hak Cipta. Sayang, tak banyak pula yang tahu seluk-beluknya.

Ilustrasi oleh Dimitri C

Ilustrasi oleh Dimitri C

Pada akhir 2011 silam, jagad maya Indonesia gempar lantaran Facebook melayangkan somasi pada seorang blogger Indonesia, Ainun Nazieb. Pasalnya, Ainun mendesain satu theme untuk blog dengan elemen serupa Facebook. Ia menamakan Smells Like Facebook, dan theme dapat diunduh di blog pribadinya secara cuma-cuma. Facebook menganggapnya pelanggaran Hak Cipta, dan mengancam Ainun dengan tuntutan senilai dua milyar rupiah.

Ainun – yang memang tidak berniat mendompleng dan mencari keuntungan dari Facebook, memilih mengalah dan mencabut theme tersebut dari blog-nya. Permasalahan pun berakhir dengan damai.

Kasus-kasus seperti di atas banyak terjadi di era internet seperti saat ini. Dengan arus informasi dan distribusi yang kian cepat, pengawasan terhadap pelanggaran Hak Cipta perlu lebih diperhatikan. Tapi sebelum itu, yang perlu ditingkatkan adalah pemahamannya.

Salah kaprah soal Hak Cipta

“Ayo kita patenkan merek-nya!” Ari Juliano Gema (37) mencontohkan kalimat yang biasa terdengar terkait persoalan Hak Cipta ketika ditemui di kantornya, November silam. Ari seorang pengacara dari firma hukum Assegaf Hamzah & Partners. Ia biasa mendengar hal-hal semacam itu. “Nah, ini kan aneh,” lanjutnya, “semestinya merek sendiri, paten sendiri.”

Apa yang Ari maksud adalah kalimat itu salah kaprah. Hak paten adalah satu hal, sementara hak merek adalah hal lain. Lalu apa kaitan keduanya dengan hak cipta? Juga tidak ada. Ketiganya persoalan berbeda. Namun, ketiganya berada di bawah payung Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Bingung? Anda mungkin tidak sendiri.

Secara garis besar, HKI bisa dibedah menjadi dua, yaitu Hak Kekayaan Industri yang mencakup merek dan paten, serta Hak Cipta. Pemerintah Kolonial Belanda telah mengundangkan HKI pada 1844. Indonesia, yang pada waktu itu bernama Netherlands East-Indies, menjadi anggota Paris Convention for the Protection of Industrial Property (1888), dan kemudian Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works pada 1914.

Jika HKI – dalam dunia internasional dikenal dengan Intellectual Property Rights (IPR), adalah hak yang timbul bagi hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia, maka Hak Cipta lebih spesifik lagi. Ia adalah hak pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak suatu karya. Lingkupnya adalah seni, sastra, dan ilmu pengetahuan (cek boks “Termasuk ranah Hak Cipta”. Dan, sifat Hak Cipta adalah eksklusif.

Screen Shot 2015-05-23 at 13.28.37

Eksklusifitas Hak Cipta

Banyak orang mengira bahwa untuk mendapatkan Hak Cipta, maka suatu karya mestilah didaftarkan ke instansi terkait suatu negara. Itu persepsi keliru. Hak Cipta tidak muncul karena didaftarkan, tidak memerlukan surat-surat, tidak pula perlu digembar-gemborkan.

Hak Cipta muncul secara otomatis saat karya tercipta. Jika Anda seorang penulis, dokumen di komputer Anda terlindungi Hak Cipta. Jika fotografer, file di kartu memori juga terlindungi, dan sebagainya. Jadi, registrasi karya tidaklah diperlukan untuk mendapatkan Hak Cipta. Lantas untuk apa seseorang repot-repot mendaftarkan Hak Cipta?

A mengambil foto dari internet dan mengolahnya menjadi karya, kemudian dipublikasikan di media sosial dengan mencantumkan namanya. Karena sukses, B dan C melakukan hal yang sama, dengan variasi tersendiri tentunya. Hal seperti ini kerap terjadi sehari-hari (ingat fenomena meme?). Pertanyaannya, siapa pemilik Hak Cipta karya tersebut?

Langkah pertama menjawab pertanyaan tersebut adalah mempertanyakan apakah A mendapat izin dari pemilik foto untuk mengolahnya? Jika belum, maka A bisa jadi melanggar Hak Cipta pemilik foto, dan kasus tidak perlu dibahas lebih lanjut. Namun jika A sudah mendapat izin, maka hak foto tersebut sudah dipindahkan, baik sebagian maupun seluruhnya. Karya menjadi milik A. Pertanyaan selanjutnya adalah mempertanyakan izin dari karya B dan C.

Pendaftaran Hak Cipta semata-mata dilakukan agar karya tersebut tercatat negara. Fungsinya adalah, jika kelak timbul masalah, ia akan menjadi bukti awal di pengadilan. Dalam ilustrasi kasus di atas, jika kelak A, B, dan C bersengketa, maka siapa yang memiliki dokumen Hak Cipta sedikit diuntungkan, meski selanjutnya masih dibutuhkan pembuktian.

Mitos seputar Hak Cipta

Banyak asumsi, pendapat dan kasus-kasus terkait Hak Cipta yang simpang-siur di masyarakat. Beberapa pendapat bahkan sangat umum didengar sehingga seolah merupakan kebenaran. Padahal, beberapa pendapat tersebut hanyalah mitos, seperti yang berikut ini.

#1 Tidak ada notifikasi, tidak ada Hak Cipta-nya

Kembali ke prinsip dasar, bahwa Hak Cipta muncul secara otomatis ketika sebuah karya tercipta. Jadi, ada atau tidaknya penanda, seperti tulisan “Hak Cipta”, “Copyrights”, huruf C dalam lingkaran, atau pun “Copr”, tidaklah berpengaruh. Bagaimanapun, penanda sebaiknya digunakan untuk memberi informasi pada publik bahwa karya Anda dilindungi Hak Cipta. Sertakan pula tahun pertama kali ia diterbitkan.

Banyak juga anggapan keliru yang mengatakan bahwa seseorang perlu mendaftarkan karya mereka untuk dapat membubuhkan notifikasi Hak Cipta pada karya mereka. Nyatanya sama sekali tidak. Penggunaan kalimat “Terlindungi Hak Cipta”, membubuhkan simbol C, atau menaruh tulisan “Copyrights, all rights reserved” tidak memerlukan izin dari institusi tertentu.

#2 Internet adalah ranah publik, jadi boleh menyalin apa saja asal menyebutkan sumber

Faktanya, internet tetaplah medium publikasi. Dengan demikian, segala aturan yang ada dalam medium konvensional tetap berlaku. Pengecualian diberikan jika pencipta memberikan haknya secara spesifik, atau secara terbuka memberitahukan bahwa karyanya berada dalam ranah publik.

Tindakan copy-paste – dengan atau tanpa penyebutan sumber – memang banyak mengundang kontroversi. Ada yang beranggapan, jika hal tersebut untuk kepentingan pemberitaan, boleh dilakukan. Yang lain mengatakan bahwa jika itu tidak untuk kepentingan komersial, dipersilakan. Anda mesti lebih berhati-hati soal itu. Beberapa pengecualian memang ada, seperti untuk kepentingan pendidikan, resensi atau menulis kritik, atau pertunjukan-pertunjukan yang tak dipungut bayaran. “Di Amerika, parodi juga diperbolehkan. Tapi, (UU) di Indonesia tidak mengenal parodi,” jelas Ari.

Intinya, sebisa mungkin mintalah izin pada pemegang Hak Cipta. Jika Anda ragu, sebaiknya jangan menyalin. Ini sama seperti seseorang diam-diam menyewakan mobil Anda pada orang lain. Ia mengatakan pada penyewa itu mobil Anda, dan mengambil uang sewanya.

#3 Jika tak mengubah karya sama sekali, bukan pelanggaran Hak Cipta

Pendapat ini juga banyak diperdebatkan. Argumennya adalah, jika Anda tidak mengubah karya orisinal sedikitpun, bukankah itu lebih menyerupai ‘iklan gratis’ yang menguntungkan pemegang Hak Cipta? Dengan demikian, pencipta semestinya justru berterimakasih.

Jawabannya adalah bisa jadi. Bisa jadi itu memberikan keuntungan bagi pencipta karya, dan bisa jadi itu membuat karyanya sukses di pasaran. Akan tetapi, bisa jadi pencipta tidak suka atau tidak menginginkannya. Yang jelas, adalah hak pencipta untuk menentukan apakah ia ingin karyanya diterbitkan atau tidak.

#4 Apa yang masuk ke media sosial saya, milik saya

Jika Anda mencetak suatu dokumen atau gambar dari media sosial, hasil cetak itu memang properti milik Anda. Akan tetapi, Anda bukanlah pemegang Hak Cipta dari konten yang tercetak tersebut.

Melindungi karya

Dalam satu workshop di Ubud Writers and Readers Festival, Oktober silam, Elliot Bledsoe, pakar strategi digital dan copyrights asal Australia mendiskusikan topik hangat seputar karya dan Hak Cipta-nya. Ia menekankan, bahwa “sesungguhnya menerbitkan karya di era digital relatif sama dengan menerbitkan secara konvensional.” Hanya, medium yang berbeda berdampak pada strategi yang juga berbeda, terutama terkait pemasaran juga keamanan.

Dan, ketika seorang peserta yang merupakan penulis amatir bertanya soal bagaimana mencegah pembajakan, Bledsoe sedikit ragu dalam menjawab. Setelah berhenti sejenak, ia mengatakan, “jika tidak ada yang membajak karya Anda, maka karya Anda tidak bagus.”

Logika yang diajukan Bledsoe sesungguhnya masuk akal. Akan tetapi, apa yang sesungguhnya ingin disampaikan adalah bahwa teknologi selalu berkembang. Dan serapat-rapatnya Anda membentengi karya terhadap pencurian, akan selalu ada jalan baru untuk menembusnya. Hal yang lebih penting adalah mengedukasi masyarakat tentang bagaimana menghargai kekayaan intelektual orang lain dengan mematuhi kententuan yang ada.

Screen Shot 2015-05-23 at 13.32.28

Tulisan ini terbit di Reader’s Digest Indonesia edisi Desember 2013.