Pada pertarungan level atas di dunia mixed martial arts (MMA), bekal pukulan maut atau hasrat menaklukkan saja tidak cukup.

RONDE I

“Sebelumnya, saya selalu yakin menang,” tutur Fransino Tirta, 34, tentang rekornya di ajang MMA sejak melakukan debut pada 2003. Ia mencatat 12 kali kemenangan, tanpa seri, apalagi kalah. Namun ajang Art of War Fighting Championship (AOWFC) di Beijing, Cina, pada September 2007 itu berbeda. Itulah pertarungan internasional pertama Fransino.

Dai Shuang Hai, petarung berdarah Mongolia yang menjadi lawan Fransino, punya rekor lima kali menang. Ia juga tak pernah seri dan tak pernah kalah. Orang Mongolia terkenal bertenaga kuda.

Malam itu Xing Guang Studio dipadati ribuan orang, dengan 90 persen lebih adalah orang Cina yang ingin menyaksikan petarung tamu dihabisi. Fransino ingat ada orang Indonesia yang menonton, tapi sedikit sekali.

Malam itu bisa berakhir buruk. Jelang pertarungan ke-13 nya, Fransino sadar, “Untuk pertama kalinya saya tidak yakin menang.”

DUEL DI LAPANGAN HIJAU

Perkenalan Fransino dengan ilmu bela diri terjadi ketika ia kecil. Seperti anak laki-laki pada umumnya, ia suka dengan hal-hal berbau bela diri dan superhero. Sewaktu SMP, ia ikut Tae Kwon Do, ilmu bela diri asal Korea yang mengutamakan tendangan. Ia tentu juga menonton film-film Bruce Lee. Motivasinya waktu itu sederhana: Fransino ingin jago berantem.

“Sebagai anak-anak, saya selalu terpukau dengan superhero. Mereka punya kekuatan super, bisa terbang dan sebagainya. Karena tidak bisa seperti itu, maka lewat bela diri lah saya bisa merasa lebih baik. Bisa membela diri dan menolong orang lain,” Jelasnya.

Bagaimanapun, ia baru benar-benar menekuni bela diri semasa kuliah, ketika bergabung dengan Bantar Angin, perguruan yang mengajarkan bela diri asal Jepang, jiu jitsu. Fransino memilih jiu jitsu bukan tanpa alasan. Semua bermula dari lapangan hijau.

Pertandingan sepak bola itu berlangsung lima lawan lima, di sebuah lapangan di salah satu komplek perumahan di Bekasi, Tangerang. Hujan yang mengguyur tak menghentikan permainan. Sebagai penyerang, Fransino bernafsu membobol gawang lawan.

Suatu ketika, dalam sebuah serangan, bola jatuh di titik yang tanggung, dekat gawang lawan. Fransino dan kiper lawan sontak adu cepat menjemput bola. Fransino menerjang, kiper melompat menyosor bola dan… Bruk! Kaki Fransino mendarat di kepala kiper. Tak puas adu mulut, sepak bola berubah jadi ajang pertarungan bebas.

Perkelahian berlangsung serabutan, dua lawan satu, karena kiper dibantu kawannya. Ketikanya bertukar tinju. Dalam satu kesempatan, punggung Fransino terluka akibat gigitan lawan. Pada kesempatan lain, ia terkena headlock atau kuncian kepala. Bagi Fransino, pertarungan bak berjalan seumur hidup.

Nyatanya, itu hanya berlangsung sekitar satu menit. Perkelahian berakhir ketika semua orang kelelahan. “Tunggu di sini, lo! Hardik Si Kiper seraya pergi. Fransino, atas bujukan teman, memilih mengabaikan dan pulang ke rumah. Lagipula, dengan perginya Si Kiper, ia sudah merasa menang.

Ada dua manfaat dari pilihannya sore itu. Pertama, belakangan ia tahu bahwa Si Kiper kembali bersama belasan orang dengan membawa golok. Kedua, malam itu ia menonton sebuah pertarungan di teve. Roycie Gracie, praktisi beladiri Brazilian Jiu Jitsu, terkena headlock yang sama dengannya. Bedanya, Gracie tahu cara membebaskan diri dan berbalik meraih kemenangan.

Malam itu, Gracie menginspirasi Fransino untuk mendalami Jiu Jitsu. Malam itu pula Fransino mengenal MMA.

RONDE I, MENIT 0,01

Ting! Bel ronde pertama berbunyi di Xing Guang Studio. Fransino, dengan kedua tangan mengepal setinggi wajah, melangkah perlahan ke arah Dai. Dari sisi seberang, Dai, mendekat lebih cepat. Kakinya berjingkat-jingkat kecil, seperti kuda-kuda petinju.

Pertarungan dalam AOWFC terbagi dua ronde, masing-masing 10 menit dan lima menit. Tak ada menang angka. Petarung dinyatakan menang jika bisa bikin knock out (KO), technical knock out TKO, atau lawan menyerah (tap out). Lamanya ronde dan tak adanya pertimbangan angka memengaruhi strategi petarung. Niko Han, pemegang sabuk hitam Brazilian Jiu Jitsu (BJJ) yang menjadi pelatih Fransino, mengarahkan: Kalahkan lawan dengan segala cara yang mungkin dilakukan.

Fransino memulai ronde dengan agresif, namun Dai rupanya berpikiran sama. Kala itu, Fransino tidak sadar bahwa ia mesti membayar mahal.

OLAHRAGA PURBA

Sesungguhnya tak ada yang baru dari MMA. Sebelum era persenjataan modern, baik dunia timur maupun barat telah mengembangkan seni bela diri. Ini tak terelakkan, karena dalam masa perang, taruhannya adalah kepunahan. Ketika datang masa damai, seni bela diri dipertontonkan sebagai hiburan, sekaligus sarana bagi prajurit untuk menjaga kebugaran.

Catatan tertua soal seni beladiri ditemukan di Mesir, 3.000 sebelum masehi. Ia tergambar di makam-makam yang berada di sepanjang sungai Nil. Teknik-teknik pertarungan tangan kosong juga ditemukan dalam peninggalan peradaban Mesopotamia dan Sumeria, antara 3.000-2.300 SM.

Namun, dalam konteks MMA, ia baru menemukan bentuknya pada 700 SM di Yunani, ketika gulat, tinju dan bela diri lain menjadi bagian dari Olimpiad. Pada gelaran Olimpiade 648 SM, sebuah cabang baru diperkenalkan: Pankration. Pankration berasan dari kata “pan” yang berarti “seluruh”, dan “kratos” yang berarti “kekuatan”. Secara kasar, itu berarti pertarungan bebas.

Pun demikian, sejak ditemukannya persenjataan modern, dunia barat lebih tertarik dengan pengembangan senjata. Sebaliknya, dunia timur masih mempertahankan seni bela diri dan menginstitusikannya. Itu sebabnya, perguruan seni bela diri tumbuh subur di timur. Beberapa di antaranya adalah silat, muay thai, kung fu, karate, tae Kwon do, Judo, nijutsu, juga jiu jitsu.

Ketika Fransino melihat Gracie berlaga di teve malam itu, sesungguhnya ia tengah menjadi saksi lahirnya era baru seni bela diri. Ia menyaksikan bagaimana beragam aliran bela diri bisa bertarung dalam satu ajang, yaitu Ultimate Fighting Championship (UFC). Ia juga menjadi saksi bagaimana seni bela diri jiu jitsu asal Jepang berevolusi. Lewat tangan Gracie, seorang Brazil, dunia mengenal Brazilian Jiu Jitsu.

kartun3-UP.jpg

Suasana di arena Xing Guang Studio terdengar membahana. Fransino betul-betul tampil ofensif. Seringkali, ia berhasil memojokkan Dai ke bagian ujung ring. Pukulan-pukulan keras dan hantaman dengkulnya berkali-kali mengenai sasaran. Tetapi Dai petarung tangguh. Dengan tubuh yang lebih gempal berotot, Ia sulit sekali digoyahkan. “Yang paling menakutkan dari Dai adalah kekuatannya,” Tutur Fransino.

Sebaliknya, dalam beberapa kesempatan Dai berhasil menjatuhkan Fransino ke tanah, mencoba memenangkan pertarungan dengan submission. Bagaimanapun, Fransino selalu bisa meloloskan diri, dan kembali mencecar Dai. Gaya bertarung Fransino yang agresif inilah yang membuatnya dijuluki “Pitbull”.

DENDAM PERGURUAN

Mungkin, Fransino takkan terjun ke MMA profesional jika gurunya di perguruan Bantar Angin tidak kalah dalam ajang TPIFC. Fransino ingat bagaimana di arena, gurunya dipukuli habis-habisan oleh petarung dari sasana Gelora Massa, Semarang. Petarung-petarung Gelora Massa memang dikenal tangguh dan langganan juara.

Sebagai murid, Fransino merasa gerah. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk membalas kekalahan gurunya. Dorongan itu membuatnya berlatih lebih keras dan turun ke gelanggang. Misinya, mengharumkan kembali nama Bantar Angin dengan menjadi juara.

TPIFC menyajikan pertarungan tiga ronde, masing-masing berlangsung lima menit. Kemenangan bisa diraih dengan beberapa cara. Pertama, dengan knock out (memukul lawan atau menendang lawan hingga tidak bisa bangun lagi). Kedua, technical knock out (wasit atau dokter menghentikan pertarungan karena terlalu berbahaya untuk dilanjutkan). Dua cara lain adalah lewat submission (menang lewat teknik kuncian) atau (menang angka).

Jalan Fransino menuju tangga juara TPIFC diawali dengan mulus. Pertarungan perdana melawan Luhut Simanjuntak dimenangkan dengan TKO. Pada pertarungan kedua, Ilman dipukul hingga KO. Fransino memenangkan pertarungan terakhirnya di 2003 dengan mengunci lengan (armbar submission) Swarno. Memasuki 2004, Fransino menaiki tangga selanjutnya dengan mengalahkan Dedi Armansyah, sebelum menaklukan Sabar Alim dengan teknik triangle choke submission.

Triangle choke adalah teknik cekikan yang kerap digunakan Royce Gracie dan praktisi Brazilian Jiu Jitsu lain dalam menghabisi lawan. Ia memakai kedua kaki untuk mengapit erat leher lawan. Ketika itu terjadi, pembuluh darah arteri karotid akan tertekan, dan lantas menghentikan aliran darah naik ke otak. Dampaknya, tubuh berhenti berfungsi. Lawan akan hilang kesadaran dalam 3-5 detik.

Ada dua hal luar biasa dalam lima kemenangan Fransino. Yang pertama, kemenangan diraih dengan cara yang beragam. Artinya, Fransino adalah petarung yang ‘lengkap’; bisa memukul dan menendang keras layaknya petarung tipe “striker”, juga jago bergelut di lantai, membanting dan mengunci layaknya tipe “grappler”. Hal kedua yang luar biasa adalah semua lawan takluk pada ronde pertama. Tetapi, lawan Fransino selanjutnya tak bisa dipandang remeh.

Wajahnya habis babak belur. Mentalnya jatuh. Ia mengurung diri, tidak keluar selama dua minggu. Itu sebabnya, saya sangat takut kalah

RONDE I, MENIT 5

Pertarungan ronde pertama antara Fransino melawan Dai baru setengah jalan, tapi karena pertarungan berjalan agresif, Fransino mulai merasakan dampaknya. Ia merasa begitu kelelahan. Dari yang bisa mengimbangi, Fransino kini mulai tertinggal.

Di sisi lain, foot work Dai masih lincah, sama seperti di awal ronde. Ia pun mulai menekan balik dengan pukulan-pukulan yang bertenaga. Ia juga lebih sering melakukan takedown. Dna ketika itu terjadi, Fransino membutuhkan waktu lebih lama untuk meloloskan diri. Ini buruk.

JUARA BARU

Pada 2004, Yohan Mulia Legowo adalah nama yang menakutkan. Ia orang yang menaklukan Linson Simanjuntak, petarung dengan gelar Juara Sejati. Gelar Juara Sejati diberikan ketika Linson memenangkan TPIFC – Grand Prix Tournament, turnamen yang mengadu para juara dari semua kelas TPIFC. Semua terkejut ketika Linson takluk di tangan Yohan.

Bagi Fransino, pertarungan keenam TPIFC melawan Yohan memiliki arti penting. Ia ingin merebut sabuk juara dari tangan Yohan, tentu saja. Tetapi pertarungan itu memiliki dimensi lebih luas karena Yohan adalah petarung dari Gelora Massa.

Detik-detik awal pertarungan berlangsung menegangkan. Dalam 20 detik pertama, Fransino Tirta sedikit tertinggal. Yohan adalah petarung dengan kecepatan. Selain cepat dalam serangan, ia cepat menjaga posisi. Fransino tak bisa menyentuh Yohan.

Fransino bisa merangsek dan menemukan Yohan sudah melipir. Ketika Fransino hendak membalas serangan, Yohan sudah keluar dari jangkauan. Bahayanya, Yohan sudah empat kali melesakkan tendangan rendah ke paha. Jika Fransino menerima lebih banyak, ia bisa pincang dan kemudian tak mampu berdiri.

Dug! Satu lagi low kick mendarat di paha, tapi kali ini Fransino tak tinggal diam. Ia mendekat, mendekat, lalu melepaskan tendangan keras ke tubuh Yohan. Masuk. Tanpa memberi jeda, ia merangsek, melakukan clinch. Kali ini dengkulnya menghantam tubuh Yohan, yang dibalas pula oleh Yohan. Fransino terus merangkul dan mendorong Yohan ke arah tali pembatas arena, lalu pada satu kesempatan, ia mengangkat tubuh Yohan dan membantingnya ke tanah. Takedown!

Di bawah, dua pukulan mendarat di wajah Yohan, dan beberapa detik kemudian, Fransino berhasil meraih posisi mount. Ini posisi berbahaya, di mana tubuh menindih mengunci lawan tepat pada bagian atas pinggang. Tangan dan tubuh  Yohan meronta, namun Fransino punya.strategi.

Fransino mengarahkan telapak tangan kiri ke wajah Yohan agar ia tak bisa melihat. Dan ketika tangan kanan Yohan bereaksi mendorong tubuh Fransino, kedua tangan Fransino langsung membelitnya dengan erat. Ia lalu menjatuhkan diri ke arah samping, menindihkan kaki kiri di leher Yohan, dan kaki kanan di dada. Fransino mendapatkan armbar, atau kuncian lengan. Yohan memukul kanvas (tap out), menyerah. Waktu menunjukkan 1 menit 20 detik. Jika diteruskan, tangan Yohan pasti patah.

Kemenangan itu menempatkan nama Fransino Tirta sebagai raja MMA Indonesia. Dan selama tiga tahun berikutnya, ia bergeming di puncak. Bukan karena tak ada penantang, tetapi karena ia tak tertumbangkan.

TENTANG KEKALAHAN

Konsekuensi dari gelar juara adalah seseorang harus siap menjadi gula yang diincar ribuan semut. Ia harus tahan berdiri sendiri di puncak yang sempit, di mana angin berhembus kencang. Seorang juara mesti sadar, bahwa meraih gelar juara dan mempertahankannya adalah hal yang sama sekali berbeda.

Fransino bukannya tak pernah berpikir soal kekalahan. Faktanya, Fransino pernah mencicipi kekalahan di final satu kejuaran Brazilian Jiu Jitsu melawan Malik Arash Mawlayi, atlit asal Swedia.

Kala itu Malik menang angka. Niko Han, pelatih Fransino, tak sepakat dan menganggap wasit membuat kesalahan. “Kami memiliki rekaman video untuk membuktikannya, tetapi wasit tidak mau mengkoreksi keputusannya. Kami tak bisa berbuat apa-apa.”

Fransino merasa kecewa karena kalah. Terlebih lagi, ia merasa telah mengecewakan Niko. “Sorry, ya, gue kalah,” Tutur Fransino kala itu.

Pandangan Niko terhadap Fransino tak berubah. Menurutnya, “Menang dan kalah adalah bagian dari kompetisi. Kalah adalah hal yang normal, selama kita belajar dari kekalahan dan itu membuat kita menjadi praktisi bela diri dan pribadi yang lebih baik. Itu yang terpenting.”

Tetapi bagi Fransino, kalah dalam Brazilian Jiu Jitsu atau cabang lain seperti basket dan sepak bola tentu berbeda dengan kalah di MMA. “Bagi laki-laki, kalah bertarung itu sangat berat,” Jelasnya. Ia ingat bagaimana pedihnya melihat kawan yang kalah bertarung. “Wajahnya habis babak belur. Mentalnya jatuh. Ia mengurung diri, tidak keluar selama dua minggu.” Itu sebabnya, “Saya sangat takut kalah.”

kartun7-UP.jpg

RONDE II

Bel tanda ronde pertama berakhir berbunyi di Xing Guang Studio, dan kedua petarung kembali ke sudut masing-masing. Sepuluh menit pertama itu telah menjadi neraka bagi Fransino. Fisiknya habis, mentalnya jatuh. “Kelelahan membuat kita menjadi pengecut,” tutur Fransino, mengutip Vince Lombardi.

Pada jeda ronde tersebut, apa yang terus-menerus muncul di kepalanya adalah keinginan untuk menyerah. Ingin sekali rasanya untuk bilang pada Niko, “gue udah capek banget. Sudahlah, gue menyerah aja.” Tetapi untuk mengatakan hal itu saja ia sudah terlalu lelah. Di sisi lain, Niko terus menyemangatinya.

Ketika itu, banyak hal terlintas di kepalanya. Ia memikirkan nama Indonesia, memikirkan gelar juara yang disandangnya, memikirkan kekecewaan Niko, memikirkan para penggemarnya. Apa yang terjadi kalau ia kalah sekarang? Ia juga berpikir betapa pengecutnya ia jika menyerah karena capek. Jika kalah karena dipukul atau dikunci, ya, sudah. Tapi, masa ia kalah karena capek?

Hal itu membuatnya berdiri. Dengan sisa-sisa tenaga, ia coba mengimbangi Dai sepanjang ronde kedua. Stamina Dai pun sudah menurun. Ia tak lagi banyak berjingkat seperti di ronde awal. Tampaknya, ia ingin menyelesaikan pertarungan secepat mungkin.

Dai berusaha lebih keras menyudahi perlawanan Fransino dengan permainan bawah. Berungkali ia menjatuhkan Fransino, namun Fransino kembali lolos dan berdiri. Menjelang akhir ronde kedua, Fransino lebih banyak bertahan dalam kondisi tertindih. Tinju kanan Dai berkali-kali menghantam telak wajah nya. Dan ketika ia mengubah posisi kepala, Dai menghantamnya dengan siku.

Lima menit ronde kedua berjalan menegangkan. Namun hingga bel berbunyi, tak satupun petarung mampu menghabisi lawannya. Wasit pun mengangkat kedua tangan petarung, menyatakan pertandingan berakhir seri.

Pertarungan melawan Dai adalah pertarungan terberat yang pernah Fransino lalui sepanjang karirnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa tersudut ketika bertarung. “Kalau saat itu ada penilaian angka, sudah pasti saya kalah,” terang Fransino.

Niko sendiri tidak yakin soal itu. Baginya, kedua petarung sama-sama gagal menyudahi perlawanan, maka seri adalah seri. “Jika aturannya berbeda, maka keduanya pasti akan bertarung dengan cara berbeda pula.”

OBROLAN DI HOTEL

Esok harinya, di hotel tempatnya menginap di Beijing, Cina, Fransino berbincang dengan seorang pemuda. Ia adalah Andrew Pi, biasa disapa Andy. Andy adalah promotor AOWFC. Kala itu Fransino tampak gundah.

“Jika kau punya waktu persiapan lebih banyak, akankah hasilnya berbeda?” Tanya Andy.

“Ya, pasti berbeda,” Jawab Fransino.

“Ya, sudah. Jangan down,” Andy melanjutkan, “Kamu cuma punya tiga minggu untuk persiapan, sementara dia sudah latihan serius selama dua tahun.”

Andy merasa senang dengan penampilan Fransino. Baginya, Fransino berhasil memberi pelajaran pada Dai, yang belakangan merasa paling jago dan mulai belagu.

Obrolan itu berangsur-angsur membuka mata Fransino. Ia mulai menyadari apa yang betul-betul diinginkannya dalam hidup, mulai menatap bayangan dirinya di masa depan.

“Saya beruntung karena tahu apa yang saya mau di umur 32. Jika ada yang bertanya siapa Andy, saya mau dikenal sebagai promotor terbaik di Cina,” Lanjut Andy. “Kamu mau dikenal sebagai apa, Fransino?”

Fransino tahu apa yang ia mau: Jika ada yang bertanya siapa Fransino Tirta, ia ingin dikenal sebagai petarung MMA terbaik di Indonesia.

Usai pertarungan melawan Dai, Fransino memutuskan untuk full time di MMA. Ia meninggalkan usaha toko listriknya dan mendirikan Pitbull, gym di kawasan Gading Serpong yang mengajarkan beragam ilmu bela diri. Hidupnya kini hanya untuk keluarga, mengajar, berlatih dan bertarung.

Dalam beberapa tahun, Fransino bertransformasi menjadi petarung yang lebih pintar dan bijak. Setelah mengalahkan Andreas Hesselback di Bali, Fransino berhasil membalas kekalahan dari Malik. Bedanya, kali ini dalam ajang MMA. Dokter menghentikan pertarungan karena, akibat pukulan Fransino, pelipis kanan dan kiri Malik pecah dan terus mengucurkan darah. Setelah Malik, ia menang angka atas Chengjie Wu.

ONE CHAMPIONSHIP

Pada 2014, stigma MMA bukan lagi olahraga brutal untuk masyarakat kelas bawah. Di Amerika Serikat, MMA, berkat UFC, sudah diterima sebagai olahraga mainstream. Mereka punya 1,4 miliar penonton teve. Di lapak video games, game UFC kerap dipajang berdampingan dengan FIFA Socce atau NBA Liver. Pada 2014, petarung UFC berhasil mencatat bayaran 700 ribu dolar AS.

Di Asia, setelah banyak promotor – seperti AOWFC (Cina), Legend FC, Pride (Jepang), TPIFC (Indonesia) – tak lagi beroperasi, yang tersisa adalah ONE Championship yang berbasis di Singapura. Victor Cui, CEO dari ONE Championship, tetap yakin dengan prospek olahraga ini. “Di Asia, bela diri begitu menyatu dalam budaya. Anak-anak diajarkan bela diri sejak kecil. Dan kita melihat antusiasme yang luar biasa besar dalam setiap pertandingan.”

Dalam periode tiga tahun, Victor berhasil menyelenggarakan pertandingan di berbagai penjuru Asia. Ia juga menggaet sponsor-sponsor kelas kakap, seperti Kawasaki, Tune Talk, dan Berocca. Untuk publikasi, mereka bekerjasama dengan Fox. Kontraknya 10 tahun, dan menjangkau lebih dari 70 negara. “Mereka ingin bekerjasama karena melihat potensi tanpa batas dari olahraga ini,” Jelasnya.

Sebagai petarung yang tak terkalahkan, Fransino tak luput dari radar para promotor, termasuk Victor. “Tirta memiliki rekor tak terkalahkan. Laki-laki ini adalah atlit terbaik Indonesia, dan ia punya potensi menjadi petarung Indonesia pertama yang menjadi juara dunia.”

Pada 2014 lalu, ONE Championship mengontrak Fransino. Ia tak bicara soal nilai kontrak dan bayarannya, namun menurut Fransino, seorang petarung di ONE Championship bisa dibayar antara Rp10 juta hingga Rp500 juta per pertandingan. Harga yang lumayan untuk bisa hidup dari pertarungan.

kartun-opening-UP.jpg

KEMBALI KE KANDANG

Pada Juni 2014 lalu, di Mata Elang International Stadium, Jakarta, Fransino menjalani pertarungan pertamanya bersama ONE Championship. Lawannya adalah Sami Amin, petarung tipe striker asal Egypt. Di hadapan 10.000 lebih penonton, ia menginginkan kemenangan.

Fransino memulai pertarungan dengan tenang, mengamati dan menunggu pergerakan lawan. Setelah saling menjajaki, Sami melepaskan tendangan keras. Memori otot Fransino bereaksi. Melihat tendangan itu, ia justru masuk ke dalam, memukul tubuh Sami hingga hilang keseimbangan. Setelah itu… takedown.

Di bawah, sambil menindih, Fransino melesakkan tinju keras ke wajah Sami. Kesakitan, Sami memutar tubuhnya, memunggungi Fransino, namun inilah yang dinanti-nanti. Dengan cepat Fransino melingkarkan lengannya ke leher Sami dari arah belakang. Rear naked choke! Dalam satu menit delapan detik, Sami sudah selesai.

Rekor 16 kali menang, satu kali seri, dan tidak pernah kalah adalah hal luar biasa dalam MMA. Dan Fransino ingin mempertahankan itu. Ketika ditanya apa rencananya di masa mendatang, dan apakah ia ingin menjajal bertarung di UFC, ia tidak menjawab. “Saya ingin fokus di ONE Championship. Setelah itu, baru kita lihat akan ke mana,” Tuturnya.

Juara tenis Rafael Nadal pernah bilang, bahwa kita hanya perlu bermain dengan keras, fokus pada poin demi poin. Itu terdengar membosankan, tapi itulah hal yang benar.

Terbit di Reader’s Digest Indonesia, Maret 2015

surface grinding machine