#KelasMini merupakan sesi berbagi, yang konteksnya seputar teknik dan pengalaman menulis, terutama penulisan bergenre non-fiksi kreatif dan fiksi. #KelasMini memberi penekanan khusus pada penceritaan, karena penyusunnya percaya bahwa, pada akhirnya, hubungan antara penulis dan pembaca adalah hubungan emosional.

Tanpa adanya pemahaman emosional, pemahaman intelektual tak ubahnya seperti sebelah kaki yang tidak cukup untuk menggerakan seseorang untuk melakukan perubahan. Dan karenanya, setiap tulisan sudah semestinya memantik emosi-emosi, agar tulisan itu tak hanya penting tapi juga berkesan.

Dalam konteks lebih luas, pemahaman terhadap ‘hukum’ dunia penceritaan akan amat memudahkan seseorang ketika hendak beralih medium. Sebut saja, medium foto, video, skenario, grafik, dan seterusnya. Semua medium membutuhkan cerita agar ia bisa berkomunikasi dengan baik kepada publik.

Silabus ini merupakan hasil dari mengikuti beberapa kursus penting, seperti Kursus Narasi dari Yayasan Pantau, Penulisan Skenario dari PlotPoint, serta Menulis Fiksi dan Berpikir Kreatif dari Salihara. Ditambah dengan pengalamannya sendiri, penyusun coba membuat satu silabus yang bisa merangkum hal-hal terbaik, terpenting dan yang paling praktis untuk diterapkan.

Sesi #1: Emotional attachment is everything
Perkenalan, pembicaraan silabus, diskusi soal jurnalisme dasar serta berbagai bentuk dan struktur tulisan, diskusi tentang elemen-elemen dalam dunia penceritaan.

Bacaan/latihan: The Death of Sukardal (Tempo, Goenawan Mohamad), The Night I Met Einstein (Reader’s Digest, Jerome Wiedman)

 Sesi #2: The world of idea and how to steal from it
Persoalan ide. Banyak orang kesulitan mencari ide menulis. Benarkah? Lantas apa yang bisa kita lakukan? Di sesi ini kita akan mengenali ide dan dorongan, serta belajar menuliskannya dalam format premis sehingga siap digunakan sebagai tulang cerita.

Bacaan/latihan: It’s an Honor (Esquire, Jimmy Breslin), latihan tarrot reading, latihan cerita mini
PR: Buat dua cerita mini (satu berdasarkan tarot, satu berdasarkan kata-kata), dan satu premis cerita.

Sesi #3: Data scrapping and the development of the meat
Kita sudah punya tulang cerita, kini waktunya kita bicara daging sebuah cerita. Dalam konteks penulisan, ini artinya sebuah outline yang kokoh. Dan untuk membuatnya, diperlukan data yang bisa kita dapat dari berbagai sumber, e.g buku, jurnal, wawancara.

Bacaan/latihan: 10 tips for better interview (Ijnet.org), The Art of Interview (Eric Nalder). Wawancara, data scrapping.
PR: Buat outline berdasarkan data dan wawancara.

Sesi #4: The architecture of writing and the orgasm
Bagai sebuah bangunan, setiap tulisan memiliki strukturnya sendiri. Dari strukturlah pembaca bisa merasai apakah sebuah tulisan itu kokoh atau tidak, fokus atau tidak, sempit atau lebar, dst. Kita akan menyelami berbagai bentuk struktur tersebut, dan mencoba mengenali struktur yang pas bagi tulisan tertentu. Kita juga akan belajar soal persamaan seks dan penulisan.

Bacaan/latihan: Find Your Beach (Zadie Smith, NYbooks), That Thing: A True Story Based on The Exorcist (Lincoln Michel), Living with Three Letters (Reader’s Digest Indonesia, Bayu Maitra), Jawara (Reader’s Digest Indonesia, Bayu Maitra)
PR: Buat sebuah tulisan pendek maksimal 1,5 halaman MS Word, font Arial 11, spasi 1,5.

Sesi #5: The skin and the honed dagger
Kita sudah punya tulang dan daging, kini waktunya kita bicara kulit atau bungkus atau bahasa. Seperti apa bahasa yang efektif? Bagaimana mengukur kekuatan sebuah prosa? Seperti apa kalimat dan kutipan yang tajam? Bagaimana memanfaatkan deskripsi, dialog, dan anekdot? Bagaimana pula menggunakan teknik penulisan panca indera?

Bacaan/latihan: Why We Cheat (Esquire, Lisa Taddeo), Misteri di Balik Stiker Angkot (Reader’s Digest Indonesia, Bayu Maitra), Losing a Hairdresser is the Cruelest Cut For a Man (Independent, Matthew Norman)
PR: Buat sebuah cerita dengan deskripsi yang kuat

Sesi #6: Characterization, conflict and dilemma
Pada sesi ini kita akan mengenal lebih jauh karakter dan atau tokoh kita. Ini perlu agar pembaca bisa terkoneksi saat membaca cerita kita. Seperti apa karakter yang baik? Apa yang mesti kita kenali dan tonjolkan? Bagaimana mengenali wants dan needs karakter? Apa itu konflik dan bagaimana membangun dilema?

Bacaan/latihan: Kim Gordon in the Pain and Anger of Performing with With Her Ex (Nymag, Kim Gordon), Dear Leader Dreams of Sushi (GQ, Adam Johnson and Jungyeon Roh), In Love with A Priest: Support Groups Spread (NyTimes, Elisabetta Povoledo)
PR: Buat tulisan bebas, nonfiksi atau fiksi, 1200-1500 kata, untuk dibahas hingga akhir sesi #8.

Sesi #7: Color, mood, tone, theme
Mengapa tulisan, foto, atau film tertentu menyiratkan mood tertentu? Mengapa warna tertentu bisa berasosiasi dengan perasaan tertentu? Mengapa sebuah lagu bisa terasa marah, gembira, sedih, dan seterusnya? Semua bisa dilakukan dengan menentukan tema di awal tulisan. Terkadang, pengenalan tema ini yang membuat sebuah tulisan memiliki rasa yang konsisten.

Bacaan/latihan: The Hunt for El Chapo (New Yorker, Patrick Radden Keefe), Kepada Anakku, Tentang Anak-Anak Muda Hebat Itu (Indoprogress, Lilik HS)
PR: Membahas kemajuan PR tulisan final.

Sesi #8: The end of the road
Pada sesi ini kita akan membahas PR final. Apa yang masih kurang, apa yang bisa dimaksimalkan, apa yang sudah baik.