<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="0.92">
<channel>
	<title>AnyThink</title>
	<link>http://bayumaitra.net</link>
	<description>Because small things matters</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 06:05:42 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	<!-- generator="WordPress/3.1" -->

	<item>
		<title>The Death and Return of Encyclopaedia Britannica</title>
		<description><![CDATA[<span class="image-rss"><a href="http://bayumaitra.net/2012/03/14/the-death-and-return-of-encyclopaedia-britannica/"><img title="The Death and Return of Encyclopaedia Britannica" src="http://bayumaitra.net/wp-content/uploads/2012/03/britannica-decoder-blog4801.jpg" alt="The Death and Return of Encyclopaedia Britannica" width="200" height="133" /></a></span><br/>Setelah 244 tahun terbit, Ensiklopedi terbesar dunia ini memutuskan untuk membunuh versi cetak-nya.  Mereka terlahir kembali dalam bentuk digital, dengan optimisme tinggi. Britannica adalah ‘bible’ yang memuat catatan-catatan penting dunia dari waktu ke waktu. Ini termasuk sejarah kelahiran Amerika, masa-masa pencerahan Eropa, hingga penemuan-penemuan monumental manusia di bidang seni, sains, maupun ekplorasi wilayah. Ia merekam sejarah, sekaligus menjadi bagian dari sejarah. Versi cetak Britannica dicintai banyak orang. Ia selalu tampil gaya dengan desain elegan—dan mahal secara harfiah. Image yang ditimbulkannya adalah eksklusif, terpercaya, dan terpelajar. Kasarnya, jika seseorang memiliki volume lengkap Britannica dalam rak bukunya, maka itu bisa diartikan “jangan menganggap remeh orang ini.” Pada 1990, Britannica terjual 120.000 copy. Pada 2010? Hanya 8.000. 4.000 sisanya masih menumpuk di gudang. Tapi, tentu saja dunia berubah. Tahun 2012 adalah tahunnya Wikipedia. Sebuah ensiklopedi dengan filosofi user generated content, yang didistribusikan secara online dan gratis. Ada 3,9 juta entry di Wikipedia. Yang paling impresif adalah: jika kita mengetik keyword tertentu di mesin pencari, maka halaman-halaman terdepan hampir selalu terisi oleh konten dari Wikipedia. Ini penanda bahwa eksistensinya sangat besar. Namun, ada satu lubang besar yang dimiliki Wikipedia: akuntabilitas. Ini adalah konsekuensi sistem user generated content yang memungkinkan setiap orang menulis sesuatu, meski [...]]]></description>
		<link>http://bayumaitra.net/2012/03/14/the-death-and-return-of-encyclopaedia-britannica/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Menjejak Jakarta yang Terabaikan</title>
		<description><![CDATA[<span class="image-rss"><a href="http://bayumaitra.net/2012/03/02/menjejak-jakarta-yang-terabaikan/"><img title="Menjejak Jakarta yang Terabaikan" src="http://bayumaitra.net/wp-content/uploads/2012/03/Ronny-Poluan-dengan-topi-dan-buku-kecilnya.jpg" alt="Menjejak Jakarta yang Terabaikan" width="139" height="200" /></a></span><br/>Awal Mei 2011, jelang sore hari di salah satu kedai makanan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, seorang anak kecil menyela perbincangan seorang lelaki. Anak itu membawa mainan puzzle. “Om, beli dong om… saya doain dapat rejeki, ya, om?” Suaranya nyaring dan lantang, khas bocah, memaksa lelaki itu menaruh perhatian penuh. “Waduh! doanya gimana?” “Semoga kerjaan om sukses.” Bapak itu tersenyum jahil dan terkekeh, “Kalau beli dua, suksesnya dua?” “Iya, om.” “Kalo belinya tiga?” “suksesnya tiga om. Yaudah om, beli satu harganya sepuluh ribu, kalau tiga, dua puluh ribu.” “Sepuluh ribu dapat tiga, boleh?” “Wah, belum dapat om.” Lelaki itu menoleh ke saya dan bilang, “tuh, kan, ini kan sebenarnya anak yang cerdik.” Anak itu pun berlalu setelah saya membeli sebuah puzzle-nya. &#160; Lelaki itu bernama Ronny Poluan, asal Manado. Rambutnya panjang sepinggang, putih semua. Ia suka mengikatnya seperti ekor kuda, lalu menambahkan topi untuk melindungi kepala dari sengat matahari. Ronny mesti mengingat-ingat ketika ditanya usia. Hitung, hitung, dan hitung, ia bilang sudah 58 tahun. Ronny adalah alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan teater. Hobinya jalan-jalan seputar Jakarta. Semasa kuliah, ia suka bergaul dengan seniman-seniman asing dan mengajaknya keliling kota. Permbawaannya memang supel dan suka bicara. Berkenalan dengannya seperti bertemu [...]]]></description>
		<link>http://bayumaitra.net/2012/03/02/menjejak-jakarta-yang-terabaikan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Bapak Pulang</title>
		<description><![CDATA[Kala itu tahun 1999, saat ku pertama kali bertandang ke rumah kawan dan berkenalan denganmu. Kau menyambut dengan senyum dan jabat tangan hangat, seraya mengaku kakak dari kawanku. Rumahmu hangat dan kecil, cukup kecil untuk menjaga agar cinta kasih tersebar dengan sama rata.  Aku, anakmu, dan beberapa yang lain, berkawan dekat. Kau tentu tahu bagaimana kami senasib sepenanggungan di gunung-gunung, sungai, tebing dan goa. Kau juga paham betul ketika kami--atau beberapa di antara kami, pulang ke rumahmu menjelang pagi dengan tubuh rontok, menggeletak begitu saja di lantai atau sofa ruang tengah dalam keadaan setengah sadar, membuat sumpek rumah kecilmu. Sejauh yang kuingat, kau tak pernah keberatan. Ketika kami bangun dengan muka kusam di siang bolong, yang kau ucapkan justru "makan mas, seadanya saja." Kau membuat kami merasa di rumah sendiri. Kami merasa rumahmu adalah rumah kami. Keluargamu, keluargaku juga. Pertemanan aku dan kawan-kawan sudah hampir 13 tahun. Rentang waktu yang lumayan panjang. Kami-kami ini, secara pribadi, punya keterikatan dan kenangan masing-masing akan dirimu. Saya sendiri ingat kegemaranmu main bulutangkis dulu. Kau juga sering bercerita tentang silat dan perkelahian-perkelahianmu semasa muda. Lalu, jika menonton televisi, kau suka berkomentar pedas terhadap wartawan yang melontarkan pertanyaan bodoh kepada narasumber. Kau juga membenci koruptor [...]]]></description>
		<link>http://bayumaitra.net/2012/02/29/bapak-pulang/</link>
			</item>
</channel>
</rss>

