Hari pertama Lebaran (versi pemerintah, 31 Agustus 2011), saya memutuskan berlibur ke Cirebon. Saya sering dengar namanya sejak kecil. Keluarga kami, seperti kebanyakan orang Jawa, kadang terlarut dalam obrolan soal klenik.
ERWIN ARNADA mampir ke Yayasan Pantau, pada suatu malam di akhir Juli silam. Ia terlihat mencolok di antara yang hadir di sana. Rambut hitam keperakkan, blazer beludru, celana jeans dan sepatu kasual. Seuntai kalung melingkar di leher. Ia terlihat… nyentrik. Agendanya adalah berdiskusi seputar majalah Playboy Indonesia.
Siti Musdah Mulia orang Bone, Sulawesi Selatan. Sejak kecil ia tumbuh di kalangan pesantren. Pendidikan masa kecilnya cenderung represif terhadap pertanyaan-pertanyaan ‘liar’ yang kerap timbul kepalanya, seperti “mengapa kyai boleh beristri empat?” atau “mengapa laki dan perempuan tidak boleh bertatap muka?”
Metta Dharmasaputra (front row, fourth from the left), is an award-winning investigative journalist from Tempo magazine. He covered many corruption case, including–the breath-taking–PT Asian Agri scandal which involve Sukanto Tanoto, one of the Indonesia’s top conglomerate. He was lecturing at Investigative Reporting course by Pantau Foundation (June 7-11th, 2011). One of his notable quote is to “avoid dataphobia.”
For immediate release. Indonesia: Act on Human Rights Commitments Strengthen Freedom of Religion, Expression, Assembly (New York, June 8, 2011) – Indonesia should use its election to the United Nations Human Rights Council to implement reforms on the rights to freedom of expression, assembly, and religion, Human Rights Watch said today in a letter to President Susilo Bambang...