Tag Archives: Jakarta

See Through Lense

Lightning Seeds di Playground

Change oleh Lightning Seeds

Dibentuk oleh Ian Broudie pada 1989, Lightning Seeds merupakan salah satu band britpop terbaik dunia. Mereka telah menelurkan banyak lagu, yang sebagian besar memiliki karakter yang sama: mudah dicerna dan tidak termakan waktu. 2 Oktober lalu, mereka tampil di festival Playground, Senayan, Jakarta. Lightning Seeds tampil kurang-lebih satu jam, membawakan hits seperti Lucky You, Pure, Sugar Coated Iceberg, dan juga Three Lions. Playground dipenuhi senyuman dan wajah-wajah senang, meski penampilan Lightning Seeds sendiri jauh dari sempurna.

Reporting

Store Wars: The Empire Strikes Back

Circle K vs 7-Eleven (ilustrasi: Aryananda Suratman)

Jika 7-Eleven tak kembali ke Jakarta, persaingan antar convenience store tentu takkan semenarik saat ini. Sejauh mana persaingan ini mengakar? Dan, benarkah 7-Eleven tanpa cacat?

Amerika Serikat, 1927, adalah masa yang menarik bagi Johnny Jefferson Green. Kulkas belum ditemukan, sementara es batu merupakan kebutuhan mendasar setiap orang. Saat itu, setiap orang harus pergi ke ice houses/docks untuk mencari es batu. Rumitnya, setelah membeli es, mereka masih harus mencari kebutuhan lain di tempat berbeda. Ini kejar-kejaran dengan waktu.

Johnny memanfaatkan celah ini. The Southland Ice Dock, tokonya di Dallas, Texas, segera dilengkapi dengan susu, telur, dan roti. Selain menambahnya dengan makanan, ia juga membuka tokonya lebih lama. 16 jam sehari, 7 hari seminggu. Johnny tahu, banyak yang membutuhkan barang-barang ini saat toko lain tutup. Konsep convenience store pun terbentuk.

Di tahun yang sama, sebuah toko kelontong dibuka di Oak Cliff. Toko ini buka jam 07.00-23.00 setiap hari, jadi dinamakan “7-Eleven”. Setelah 33 tahun beroperasi, toko 24 jam pertamanya dibuka di Austin, Texas.

7-Eleven berkembang ke berbagai negara. Pada 2004, mereka punya 26.000 gerai di 18 negara yang menjadikannya raksasa peritel format gerai kecil. Sahamnya lantas dibeli seluruhnya oleh perusahaan asal Jepang, Seven & I Holdings Co. pada 2005. 7-Eleven datang dan pergi dari Jakarta pada era 80-an.

Fred Harvey membeli tiga toko bahan makanan Kay’s Foodstore di El Paso, Texas, dan mengubahnya menjadi “Circle K” pada 1951. Ia lantas mengakuisisi banyak toko lain dan pada 1979 terjun ke pasar internasional. Gerai pertama ada di Jepang.

Ekspansi Harvey sampai ke Indonesia. Circle K hadir di Jakarta pada 1986, tepatnya di jalan Panglima Polim. Kala itu, toko yang buka 24 jam masih langka. Ini menjadikannya populer. Mereka membebaskan anak-anak mudanongkrong di teras toko. Mereka menyediakan rokok dan minuman beralkohol.

Circle K tak datang dan pergi. Justru, hingga 2009, Circle K mendominasi pasar convenience store. Di 2008, peningkatan jumlah gerainya melebihi 50%. Ia seperti pemain tunggal, beda kelas dengan Alfamart maupun Indomaret yang bersaing di kelas minimarket. Perbedaan antara convenience store dengan minimarket terdapat pada komposisi barang yang dijual dan izin operasinya. Jika 90% yang dijual merupakan makanan dan minuman siap saji, maka diklasifikasikan sebagai convenience store. Izin operasinya 24 jam. Circle K juga jauh dari kelas supermarket, apalagi hypermarket. Yang belakangan ini ditentukan dari luas bangunan. Convenience store tak boleh lebih dari 400 m2.

2006 adalah tipping point bisnis fotografi di Jakarta. PT Modern Putra Indonesia sedang lesu. Derasnya arus digitalisasi berimbas anjloknya penjualan rol film dan jasa cuci cetak. Mereka adalah pemegang lisensi Fuji Film di Indonesia. Jika Fuji Image Plaza, Fujifilm Digital Imaging, dan M Photo Studio dijumlah, mereka punya 2.000 gerai yang sedang kembang-kempis.

Lim Djwe Khiam melihat peluang di 2009. Retail Director PT Modern Putra Indonesia ini yakin bahwa demandterhadap produk makanan dan minuman sangat tinggi. Mereka juga berpengalaman soal ritel. Kenalan lama pun kembali dilirik, yang tak lain ialah 7-Eleven. Dulu, pada 1998, PT Modern International (induk PT Modern Putra Indonesia) pernah didekati 7-Eleven. Krisis moneter membuat mereka mengurungkan niat.

Kini, gayung bersambut. 7-Eleven menunjuk mereka sebagai mitra usaha di Indonesia. Sang raja ritel menyerang balik. Salah satu teori dasar perang adalah: sebuah penyerangan amfibi mengharuskan pihak penyerbu memiliki tiga kali lipat kekuatan dibandingkan pihak yang menguasai benteng pertahanan. 7-Eleven punya itu.

Suatu Minggu sore di Maret 2010, Maya menjejakkan kaki di gerai 7-Eleven, Blok M. Ia terdorong oleh kenangan berlibur di Bangkok, di mana ia kerap mengunjungi toko ini. Di Thailand, 7-Eleven mendominasi persaingan convenience store. Mereka punya 5.409 gerai. Ini jumlah terbesar kedua setelah Jepang dengan 12.753 gerai.

“Mau coba hotdog-nya, mbak?”

“Oh, ngga mas, makasih.” Maya sudah makan dua porsi gulai di kaki lima seberang jalan.

Sebenarnya ia mencari juhi cumi, tapi hasilnya nihil. Ini bukan di Thailand. Maya memutuskan membeli Slurpee, minuman es dan soda berkarbonasi khas 7-Eleven. Mereka juga punya Big Gulp dan Cafe Select yang menjadi signature. Selain ketiganya, mereka mengkombinasikan variasi makanan impor dan lokal favorit untuk dijual. Juhi cumi bukan salah satunya.

Kesan pertama membuat Maya terobsesi dengan 7-Eleven. Gerai-gerai lain pun dijelajahi. Ia suka pelayanan di 7-Eleven, seperti ketika penjaga toko pro-aktif membantu saat ia kebingungan di depan mesin pembuat kopi, atau saat penjaga toko dengan sigap mencarikan majalah fashion yang ia cari. Beragam makanan yang tersedia juga nilai plus tersendiri. Satu lagi, ia suka toiletnya. Bersih, ada tissue, tempat sampah, dan… cermin.

Konsep yang menarik, variasi dan kualitas barang yang baik, serta pelayanan prima adalah syarat sebuah toko agar laku. 7-Eleven tentu tahu, hingga menerapkan standar ketat. Namun, ada faktor-faktor lain yang tak kasat mata dibalik kesuksesan 7-Eleven. Ini yang menentukan.

7-Eleven masuk ke Indonesia bukan dengan sistem franchising, tapi joint venture. Ini memudahkan ekspansi. Mereka terhindar dari birokrasi perizinan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) dari Departemen Perdagangan. Mereka juga tak perlu menunggu seorang pembeli franchise untuk sekadar membuka gerai baru. Lihat saja, tujuh gerai telah dibuka dalam kurun waktu kurang dari setahun. Blok M, Kemang, Mampang, Matraman, Menteng, Terogong, Thamrin. Semuanya strategis. Asal punya uang dan lapak, satu atau sepuluh gerai dalam serentak bukan masalah.

Lalu, soal bentuk usaha. 7-Eleven masuk ke Indonesia bukan dalam kategori ritel toko, tapi kafetaria atau kantin. Dalam daftar negatif investasi, pihak asing dilarang bermain di kelas toko yang luas bangunannya di bawah 1.200 m2. Tapi, lain soal kalau formatnya kantin. Aliran dana dari pihak asing bisa terus mengalir ke 7-Eleven. Ini menunjang ekspansi besar-besaran dalam waktu singkat. Format ini juga berarti 7-Eleven bebas menyediakan fasilitas tempat duduk, meja, serta free wi-fi yang bisa digunakan 24 jam oleh pengunjungnya. 7-Eleven bisa merebut pasar restoran.

Kekuatan-kekuatan inilah yang membuat 7-Eleven jadi ancaman serius buat Circle K. Apalagi, sejauh ini mereka mendapat respon positif dari masyarakat Jakarta. Langkah-langkah mereka, meski terkesan agresif, terlihat ‘cantik’ dan mantap, seolah tanpa cela. Jika tetap seperti ini, sangat mungkin dalam beberapa tahun mendatang mereka bisa menyaingi atau bahkan mematahkan dominasi Circle K di Jakarta.

Pada 15 Juli lalu, saya mampir ke gerai 7-Eleven, Cipete, untuk sekadar melihat-lihat. Ia terdiri dari dua lantai. Lantai 2 diisi gerai Fuji Image Plaza, toilet pria dan wanita yang terpisah, serta tempat outdoor untuk pengunjung. Di lantai 1, saya menemukan 76 neon dipasang untuk menerangi ruangan yang tak lebih dari 100 m2. Ini tidak eco-friendly.

Circle K terbaru yang saya datangi terletak di jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus. Mereka hanya memasang 18 neon. Sebagai tambahan, mereka kini menyediakan bangku-bangku plastik berangka besi dan beberapa meja di teras mereka. Persaingan masih panjang.

Tulisan ini diambil dari areamagz

Reporting

Sepatu Crocs Bikin ‘Ulah’ di Senayan City

Kemarin, sebuah brand sepatu bernama Crocs membuat Jakarta heboh. Pasalnya, mereka melakukan manuver gila dengan memberi diskon hingga 70% untuk produk-produknya. Dampaknya sungguh membuat heboh, baik di ‘Twittersphere’ maupun di dunia nyata.

Crocs, like or dislike

Gerai Crocs di Senayan City yang menjadi ‘TKP’ langsung disesaki pengunjung sejak pagi. Parkiran Senayan City penuh oleh pemburu Crocs, sehingga banyak sekali mobil-mobil yang terpaksa parkir di pinggiran jalan masuk mal. Lalu, ini yang menarik, terdapat kursi-kursi yang berjajar panjang di setidaknya tiga lantai. Ini digunakan oleh orang-orang yang mengantri untuk menyerbu tempat Crocs menjajakan barang. Seorang petugas dengan pengeras suara sesekali menyuarakan, bahwa sale ini akan berlangsung selama tiga hari. Pihak manajemen juga mengeluarkan kebijakan berupa sistem buka-tutup toko, dengan 20 pelanggan yang masuk secara bergantian. Lalu, terdapat pula sebuah papan bertuliskan informasi, “antrian tidak boleh diwakilkan”. Luar biasa. Seperti pasar saja.

Sebenarnya, apa sih sebenarnya kelebihan Crocs sendiri? Hm, asal tahu saja, dulu George B. Boedecker menciptakan Crocs sebagai sepatu spa. Mungkin, ia sendiri tak membayangkan bahwa Crocs bisa menembus ranah fashion dan bahkan menjadi sedemikian terkenal dan digandrungi banyak orang. Bahannya yang terbuat dari karet bersel tertutup, anti selip dan anti mikroba (disebut croslite) mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat pamornya melejit. Kemudahan pemakaian, efisiensi, dan ketahanan mungkin menjadi faktor lainnya, begitupula dengan warnanya yang mencolok. Yang terakhir ini relatif sesuai selera.

Tak ada sesuatu yang sempurna. Ternyata, sepatu Crocs juga memiliki kelemahan, terutama jika berhadapan dengan eskalator. Seperti dalam berita yang dilansir oleh VIVAnews, sejarah Crocs ternyata diwarnai oleh insiden kecelakaan. “Eskalator adalah musuh utama Crocs. Pada 2007 lalu fenomena Crocs mulai tejadi di Jakarta, seiring dengan itu sejumlah kecelakaan akibat terjepit eskalator juga terjadi. Sepatu yang ujungnya berbentuk bulat ternyata dapat tersangkut di Eskalator.”

Menurut saya, dasar yang menyatakan bahwa sepatu berujung bulat menjadi penyebab utama insiden kecelakaan eskalator memiliki dasar yang lemah. Karena, kalau memang benar demikian, sepatu Crocs tentu sudah tinggal sejarah.

Tapi, ini bukan berarti saya menyukai Crocs. Jujur saja, saya tak tertarik sama sekali. Buat saya, baik dari bentuk maupun warnanya, Crocs membuat saya tampak bodoh ketika memakainya. Dan, semakin ‘pasaran’, semakin anti pula saya dengan Crocs. Ketika saya menulis ini, saya bahkan sempat berpikir untuk memesan kaos anti-Crocs yang menarik di situs ihatecrocs.com, ha-ha-ha. Intinya, produk ini memang bukan untuk saya. Untuk Anda, mungkin? Jika jawabannya “ya”, silahkan serbu Senayan City. Sebelumnya, cek dulu situsnya.

Reporting

Menengok Jakarta Toys & Comics Fair 2010

Jakarta Toys & Comics Fair 2010

Sore kemarin, akhirnya saya berkesempatan untuk menyambangi Jakarta Toys & Comics Fair 2010, sebuah event yang sudah diselenggarakan untuk keenam kalinya oleh SACCA PRODUCTION, dan bahkan sudah menjadi agenda tahunan kota Jakarta -Enjoy Jakarta!-.

Event yang diadakan di tennis indoor, Senayan, ini dilangsungkan selama dua hari berturut-turut, yaitu selama 13-14 Maret 2010 dengan harga tiket masuk sebesar Rp10.000. Murah, meriah, sumringah.

Sumringah? ya! Pasalnya, Jakarta Toys & Comics Fair ini seperti menyeret kembali kenangan masa kecil saya melalui sederet action figure G.I Joe, Star Wars, balok-balok LEGO, juga lewat tumpukan komik lama dan baru, baik yang berasal dari Jepang, Amerika, maupun komik dalam negeri seperti Mahabharata, Bharatayuda, hingga Gundala. Benar-benar membuat ‘lapar mata’. Oh, mereka juga memajang diorama yang sungguh cantik! Satu yang menurut saya paling menarik ialah diorama Star Wars berukuran besar, dengan setting peperangan para Jedi di planet Tatooine. Sayangnya, harga sebuah diorama memang tak murah. Sekedar informasi, sebuah diorama Nightmare Before Christmast yang tak terlalu besar saja dibanderol seharga Rp5.000.000, saya tak berani bertanya untuk yang Star Wars.

Tak hanya barang baru, para peserta Jakarta Toys & Comics Fair yang terdiri dari berbagai macam komunitas seperti Komunitas Komik Indonesia dan Toyzhunt ini juga menjual barang-barang second koleksi mereka, yang ditebar di ‘lapak’ dengan harga miring maupun melalui proses lelang. Saya melihat satu set komik Identity Crisis keluaran DC Comics terjual dengan harga Rp100.000 saja. Ini kelewat murah dan membuat saya menyesal karena kurang sigap.

Karena tidak membawa uang banyak -atau tidak punya?-, akhirnya saya tidak berlama-lama di sana. Namun, sebelum beranjak pulang, saya sempat berjalan-jalan di luar area indoor Jakarta Toys & Comics Fair, tempat banyak stan makanan dan minuman berjajar, meneguk bubble drink sambil melihat-lihat para cosplay yang tampak lucu. Di sinilah saya bertemu dengan Jack Sparrow asal Jawa.