Setelah 244 tahun terbit, Ensiklopedi terbesar dunia ini memutuskan untuk membunuh versi cetak-nya. Mereka terlahir kembali dalam bentuk digital, dengan optimisme tinggi.
ERWIN ARNADA mampir ke Yayasan Pantau, pada suatu malam di akhir Juli silam. Ia terlihat mencolok di antara yang hadir di sana. Rambut hitam keperakkan, blazer beludru, celana jeans dan sepatu kasual. Seuntai kalung melingkar di leher. Ia terlihat… nyentrik. Agendanya adalah berdiskusi seputar majalah Playboy Indonesia.