Tag Archives: traveling

Reporting

From Haji Lane With Laugh

Haji Lane, Singapura

OLEH BAYU MAITRA

areamagz.com

“What do you want to order, sir?” Tanya seorang pramusaji keturunan Arab. Kulitnya kehitaman, berkumis tebal, rambutnya hitam klimis. Saya baru saja menarik kursi rajutan rotan ketika ia membuka percakapan dengan ramah.
“We want to try sisha. Right, guys?” Saya berpaling pada ketiga teman, mereka mengangguk setuju.
“What flavor?”
“What do you have?”
“We have orange, grape, apple… “
“Orange, please.”
“Ok. Do want a beer? We got Saigon, Heineken, Tiger…”
“Just two Heineken.”
“Ok, sir.” Pramusaji itu beranjak pergi. Ia membuka tirai dan menghilang ke dalam toko kecilnya. Beberapa menit kemudian, Sisha dan dua botol bir dihidangkan di meja.
Saat itu, kami sama seperti pengunjung lain yang sedang menikmati malam di salah satu sudut kota Singapura. Kepulan asap sisha memenuhi teras tempat kami bercengkerama. Lagu-lagu bernuansa timur tengah membawa kami ‘menjauh’ dari suasana metropolitan. Ini khas jalan Haji Lane.
Tiga tahun lalu, Orchard Road adalah destinasi nomor satu di Singapura. Tempat ini surga belanja, terutama bagi orang yang berdompet tebal. Ada banyak spot di sana, seperti Ion, Takashimaya, Far East Plaza, hingga Lucky Plaza. Kini, Orchard mungkin masih destinasi nomor satu, tapi ia punya saingan. Haji Lane adalah salah satunya. Orchard dan Haji Lane punya kultur berbeda yang berjalan beriringan.
Orchard Road identik dengan kegiatan belanja dan hang out, begitu juga dengan Haji Lane. Bagaimana pun, ada perbedaan antara keduanya. Orchard adalah simbol modernitas dan metropolitan Singapura, sementara Haji Lane tampil sebagai counter culture-nya. Ia hanya sebuah jalan kecil di kawasan yang mayoritas penduduknya keturunan Arab. Di kanan-kiri, rumah-rumah kecil dengan desain klasik beraneka warna tampak berhimpitan. Terima kasih pada penduduk yang ‘keras kepala’ dalam mempertahankan keotentikkan-nya.
Apa yang bisa ditemukan di sana juga berbeda. Kalau Anda mencari Gucci, Channel, Topshop, dan kawan-kawan, silakan ke Orchard. Tapi, kalau Anda suka dengan brand kecil, fashion line lokal, label underground, pernak-pernik, atau barang-barang seken seperti buku atau plat, silakan menepi ke Haji Lane. Rumah-rumah di sana sudah dimodifikasi jadi toko-toko kecil yang menarik. Ada beberapa toko yang mesti Anda hampiri di sana, seperti Know It Nothing, Pluck, atau Salad.
Perbedaan lain ada pada tempat hang out. Di Orchard, café, food court, dan junk food bertebaran. Haji Lane menawarkan spot-spot yang lebih cozy dan intimate. Di sepanjang jalan, Anda bisa menemukan pub kecil atau tempat-tempat dengan konsep lesehan. Mereka jual berbagai jenis makanan, mulai dari hidangan ala Amerika, Italia, China, dan tentunya, Arab. Tempat-tempat ini buka hingga sekitar jam 01.00 malam di hari biasa. Beberapa bahkan buka 24 jam di akhir pekan.
Haji Lane bukan tipikal tourist spot yang biasa Anda temui. Jika beruntung, Anda juga bisa menemukan art exhibition di sana. Biasanya, seniman-seniman pembuat graffiti, flyers, atau properti teater suka unjuk karya di sini. Musisi amatir juga kerap duduk-duduk di pinggir jalan, meramaikan malam dengan petikan gitar mereka.
Jika Anda tidak suka keramaian yang berlebihan ala kota metropolitan, maka mengunjungi Haji Lane adalah wajib. Bawa saja sedikit uang, pesan sisha dan bir, lalu habiskan malam dengan bersenda-gurau, seperti yang saya dan teman-teman lakukan beberapa waktu lalu.
Fast track
Haji Lane, Singapore.
Transportasi: Naik MRT hingga stasiun Bugis. Lanjutkan dengan berjalan kaki (kurang lebih 5 menit).
Harga:
Sisha: Sing $20
Bir: Sing $8
Reporting

Malaikat-Malaikat Pasir Putih

Bocah pulau Tidung

Aku duduk di atas atap kapal, memandang jauh ke horison yang tercemari asap hitam buangan knalpot. Purwanto, rekan seperjalananku, mungkin benar. Knalpot itu lebih mirip periskop. Ia merupakan besi tebal berkarat yang menjulang ke atas dan melengkung pada bagian ujung. Dan, ia merongrong terus-menerus dengan suara rendah yang konstan. Jika ia seorang lelaki, bisa dipastikan setelan suaranya adalah bariton. Ya, bariton dengan nafas yang bau. Suara itulah yang menemani penumpang dalam perjalanan menuju pulau Tidung di kawasan Kepulauan Seribu.

Meski berwarna biru cerah, pagi itu langit terasa polos tanpa kehadiran awan yang menggulung. Air laut pun tak jernih, namun, entah mengapa seperti mengundangku untuk mencicipinya. Aku duduk tak bergeming menyaksikan panorama yang tampak wajar saja. Tapi, jauh di lubuk hati, sepertinya aku tahu apa arti dari keindahan dalam kesenyapan. Dengan itulah aku memulai trip terakhir dari Travel Writing Class(TWC) yang bertajuk Biking in Paradise ini.
Kami tiba di pulau Tidung setelah terombang-ambing selama dua setengah jam lebih di lautan. Sebagian peserta tampak kelelahan, sebagian bersyukur karena terlepas dari siksaan mabuk laut, sebagian lain tampak seperti udang rebus yang memerah karena terbakar matahari. Rombongan kami pun bergerak menuju rumah penduduk yang telah disewa. Rumah ini cukup layak ditinggali. Setiap rumah terdiri dari satu kamar tidur, kamar mandi, kulkas, TV, dan ruang tamu. Sepadan dengan harga Rp200.000 yang dipatok per malam. Sebuah penginapan yang bagus, selama Anda mengabaikan estetika bangunan. Sungguh, mereka butuh desainer interior!
Kami memulai kegiatan setelah makan siang. Sepeda-sepeda itu telah disiapkan oleh Wardi, penduduk setempat yang membantu mengurus keperluan kami di sana. Ia terlihat cukup kesulitan mengumpulkan sepeda-sepeda yang layak pakai. Beberapa di antaranya mengalami masalah dengan rem yang blong. “Sudah, di sini ngga perlu pake rem,” tangkis Wardi. Mungkin, ia benar.
Nyatanya aku hampir tak pernah menggunakan rem karena medannya sendiri tak memungkinkan untuk melaju cepat. Medan itu merupakan kombinasi antara bebatuan, tanah, pasir, dan rumput, sehingga friksi antara kaki dan tanah saja sudah cukup untuk membuat sepeda berhenti. Sejujurnya, aku menunggangi sepeda yang mengenaskan. Ia tidak punya rem sama sekali, rodanya terasa ‘lari’ saat dibawa jalan, plus, pedal itu sudah teramat longgar. Oh, Tuhan, Aku harus menendang untuk mengencangkannya setiap sepuluh kali kayuh! Ok, aku memang bahan lelucon.
Tentu saja, semua kendala tak menyurutkan niatku bersepeda keliling pulau. Sisa hari yang ada kuhabiskan untuk mengeksplorasi pulau Tidung Besar. Oh, iya, memang ada dua pulau Tidung di sini. Yang satu ialah pulau Tidung Besar, tempat di mana seluruh penduduk tinggal dan beraktifitas. Yang lain bernama pulau Tidung Kecil. Pulau ini hanya didiami oleh seorang juru kunci dari makam seorang pahlawan bernama Panglima Hitam. Kedua pulau terhubung oleh jembatan panjang yang membelah laut. Namun, di pulau Tidung Besar-lah aku pertama kali bertemu mereka. Mereka yang kusebut dengan ‘malaikat-malaikat pasir putih’.

Izmi dan Wenda

Izmi(7), Wenda(8), dan Erika(7) adalah penguntit yang tangguh. Mereka sepertinya memiliki akses energi tanpa batas hingga sanggup menemani kami jalan-jalan mengitari pulau. Laiknya anak-anak, tingkah laku mereka sangat aktif tak keruan. Tanpa lelah, tanpa keluh kesah. Ada saja bisa dijadikan permainan oleh mereka, mulai dari pasir, ranting pohon, ombak, rerumputan, hingga bebatuan. Mereka senang menjadi pusat perhatian.
Pulau Tidung memang memiliki banyak spot yang indah untuk disinggahi. Dan, Spot-spot ini memiliki karakter yang berbeda-beda satu sama lain. Di salah satu spot yang kami sebut sebagai ‘pantai semut’ –lantaran banyaknya semut merah yang bertebaran-, ketiga gadis cilik itu dengan girang bermain ayunan dengan cara bergelantungan pada seutas tali yang tergantung pada batang pohon. Kegirangan mereka membuat para peserta TWC penasaran dan turut mencoba. Di tempat ini hadir pula dua malaikat cilik baru, kali ini laki-laki. Mereka bernama Sugi(13) dan Bagas(7).
Kami telah melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di sisi timur pulau. Di sini, kami beristirahat cukup lama dengan ditemani segarnya air kelapa. Aku menghiraukan panas yang menyengat dan menceburkan diri ke laut. Pasir pantai itu demikian putih, dibasahi oleh air sejernih kaca yang memantulkan bias sinar matahari. Suara gemericik air berpadu dengan hembusan angin laut membentuk harmoni yang indah. Aku juga bisa mencium bau laut yang telah lama kurindukan.
Sugi dan Bagas menemaniku beristirahat setelah kami menyusuri pantai dan berhenti di sebuah spot yang banyak ditumbuhi pohon cemara. Di sinilah aku mulai mengenal mereka. Bagas, sang adik, bisa dibilang sangat atraktif. Ia sangat senang difoto, meski jarang berbicara. Pose andalannya ialah menyengir dengan mengacungkan jari-jari tangan yang membentuk simbol metal. Dalam bahasa psikologi, jelas ia merupakan bocah berkepribadian sanguinis. Sementara Sugi, sang kakak, lebih kalem. Usia yang lebih dewasa membuatnya lebih mudah diajak berkomunikasi.
Kehidupan Sugi sebagai anak pulau tentu sangat berbeda dengan anak-anak yang tumbuh di perkotaan. Namun, sepertinya ia tidak keberatan dengan itu. “Saya senang main di sini,” ujarnya. Saat itu sekolahnya sedang libur, dan ia memanfaatkan waktu tersebut dengan bermain sepuasnya. Permainannya pun bisa dikategorikan sebagai permainan tradisional, seperti main kelereng, main gambaran, adu serangga, berenang, bersepeda, sepak bola, hingga memancing. “Di sini memancing sangat enak, ikannya banyak,” ia menjelaskan seraya menyeringai.
Setiap pagi, sekitar pukul 08.00, Sugi dan Bagas keluar untuk memancing. Bukan karena hobi, hal ini ia lakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Bapaknya tidak lagi bekerja dengan alasan fisiknya yang kurang mendukung. Ibunya sakit-sakitan dan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Pemasukan utama keluarganya, termasuk biaya sekolah Sugi dan Bagas, didapat dari kakak Sugi yang bekerja di sebuah kapal penangkap ikan. ‘Penjaring Jepang’, begitu Sugi menyebutnya. Entah mengapa disebut demikian. Hanya saja, sang kakak hanya pulang ke rumah sekali dalam setahun saat bulan puasa. Mau tak mau, Sugi yang baru saja tamat SD ini ikut membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau makan, sih, gampang. Setiap hari kita makan ikan yang dikeringkan,” ujarnya mantap.

Sunset di jembatan antar pulau Tidung

Usai beristirahat, seluruh peserta TWC mengayuh sepedanya menuju sebuah shelter di tengah jembatan panjang yang menghubungkan dua pulau Tidung untuk menyaksikan matahari tenggelam. Saat kami melewati sebuah lapangan sepak bola, Sugi yang membonceng Bagas mengambil arah berbeda, memotong melintas lapangan dan berhenti di salah satu rumah di dekat pohon Jambu. Aku berhenti sejenak dan menyaksikan ia menghambur ke dalam rumah. Sunset di pulau Tidung sungguh menimbulkan kesan magis. Matahari yang menyerupai bola merah membara itu perlahan tenggelam di horison.

Hari masih gelap ketika para peserta TWC sibuk menyiapkan sepeda. Kami berniat mendatangi jembatan itu sekali lagi, kali ini untuk mengejar fajar menyingsing. Apa yang diharapkan pun tiba. Di ufuk timur, matahari menyembul dari sela-sela awan, menyebabkan timbulnya berkas-berkas cahaya kuning yang memancar dan mewarnai birunya langit. Kami sarapan di shelter yang sama sebelum kami beranjak untuk mengeksplorasi pulau Tidung Kecil.
“Yuk, kita pergi ke makam,” ajaknya. Sugi kembali hadir menemani kami. Bagas yang tidak ikut serta lantaran jatuh sakit digantikan oleh Alam dan Ripo. Mereka menuntunku menerobos jalan setapak yang dipenuhi alang-alang di kanan-kirinya. Makam itu sangat besar. Kuburannya saja panjangnya sekitar tiga meter. Di sekelilingnya terdapat pagar yang terbuat dari bambu dengan pintu masuk kecil di bagian depan. Di sekitar makam terdapat sebuah musholla sederhana yang terbuat dari semen dan beratapkan asbes. Di situ juga terdapat sumur serta rumah kayu ‘asal jadi’ yang menjadi tempat tinggal juru kunci makam. Tempat ini sangat teduh berkat pohon-pohon besar yang tumbuh di sana. Aku bisa melihat beberapa kalong yang terbang dengan gesit di sela-sela pohon.
Rupanya, sudah menjadi semacam ritual bagi bocah-bocah pulau Tidung ini untuk membersihkan makam saat mereka berkunjung ke sana. Dengan sigap Sugi mengambil sapu dan membersihkan makam tersebut dari daun-daun yang berguguran. Alam dan Ripo bergerak memunguti ranting-ranting pohon dan mengenyahkannya. Sesungguhnya, tak seorang pun dari bocah ini yang memahami sejarah Panglima Hitam. Mereka tidak tahu bahwa Panglima Hitam sesungguhnya berasal dari tlatah Malaysia yang lari hingga pulau ini. Seperti anak-anak kebanyakan, pengetahuan mereka hanya sebatas bahwa Panglima Hitam adalah pahlawan mereka yang berperang melawan Belanda.
Mereka kembali menyusuri jalan setapak untuk menunjukkan lokasi sumur Bawang. Dulu, di sekitar sumur ini memang ditanami bawang. Dan, konon, air dari sumur ini memiliki khasiat menyembuhkan. Banyak pengunjung yang datang ke pulau Tidung untuk mengambil air sumur Bawang ini. Mereka menampungnya dengan botol-botol air mineral dan membawanya pulang. Sugi, Alam, dan Ripo pun tak ketinggalan. Mereka membasuh wajah dan mencuci kaki-kaki mereka dengan air sumur sebelum beranjak pergi. “Supaya pintar,” imbuhnya.
Aku bisa saja tersasar kalau tidak ada malaikat-malaikat penunjuk jalan ini. Perjalanan dari makam menuju bibir pantai cukup membingungkan bagi orang awam. Jalanan itu tertutup rumput-rumput liar setinggi dada. Bocah-bocah ini tentu sudah hafal medan sehingga mampu dengan mudah menerobos tanpa tedeng aling-aling.
Rupanya, ini seperti jalan pintas. Kami berhasil sampai di bibir pantai dalam waktu singkat. Aku menyukai apa yang kulihat. Pantai di sisi ini lebih indah dari sisi manapun di pulau Tidung. Hamparan pasir putih melimpah ruah. Airnya sangat bening, sehingga ikan-ikan kecil yang berenang wara-wiri pun terlihat jelas. Langit juga mendukung kami. Berbeda dengan hari pertama, Di sepanjang pantai terdapat batang-batang pohon berguguran, yang memberi kesan dramatis selama perjalanan menyusurinya. Aku bisa bilang bahwa Sugi, Alam, dan Ripo memiliki talenta sebagai fotomodel. Mereka sangat luwes dan ‘total’ dalam bergaya di depan kamera. Mereka bahkan menawarkan diri untuk memanjat pohon demi hasil foto yang bagus. Ah, rasanya fotografer manapun bisa mendapatkan foto yang natural dan berkarakter jika mereka adalah modelnya. Aku melihat sebuah spot di kejauhan di mana para peserta TWC melakukan snorkeling. Aku menghabiskan beberapa jam untuk bermain di pantai ini. Tanpa kusadari, malaikat-malaikat itu sudah menghilang entah kemana.
Badanku mengalami keletihan yang luar biasa sepanjang perjalanan kembali ke penginapan. Kulitku terasa perih, pundak dan kakiku teramat pegal. Aku sempat berhenti di sebuah warung dan membeli dua kotak susu segar dingin yang kuseruput habis dalam waktu singkat. Aku berpapasan dengan Izmi dan Wenda di perjalanan. Mereka meneriakkan namaku dan tersenyum saat kumenatap mereka sambil lalu. Seluruh peserta TWC makan dengan cepat, mandi dengan cepat, dan berkemas dengan cepat. Kapal yang menjemput kami telah tiba di dermaga dan dijadwalkan berangkat pukul 14.30. Trip ini akan segera berakhir.

Alam, Sugi, dan Ripo

Suara bariton itu kembali terdengar, menjadi penanda bahwa ini waktunya kami angkat kaki dari sini. Sebuah pengalaman baru telah membekas dalam hati. Kapal kami mulai bergerak, dan aku merebahkan diri dengan kepala beralaskan tas ransel, siap untuk tidur selama kami mengarungi lautan. Aku menengok ke belakang sekali lagi, dan, di sanalah mereka berada. Malaikat-malaikat pasir putih. Sugi, Alam, dan Ripo mengurai senyum dan melambaikan tangannya. Seolah berseru, “sampai jumpa!”
Reporting

Ayutthaya, Inkarnasi Kota Raja di Utara Bangkok

Inilah kota yang pernah dibakar, dijarah, dan mati. Bertahun-tahun kemudian, saya melancong ke sana untuk melihat sisa-sisa kejayaannya di masa lampau.

Kuil Wat Phanan Choeng

Ayutthaya terletak di utara kota Bangkok, Thailand. Jika Anda memutuskan naik bus dari Northern Bus Terminal di Morchit, waktu tempuhnya kira-kira selama tiga jam. Anda juga bisa memilih kereta sebagai alternatif lain. Biayanya murah, tak lebih dari 40Baht (tergantung kelas).

Berbeda dari Bangkok, Ayutthaya bukanlah sebuah kota modern. Ia merupakan kota tua yang dianggap sakral dan kaya akan sejarah. Kota ini didirikan oleh Raja U Thong dan menjadi ibukota kerajaan Thai sejak tahun 1350, sebelum hancur diserbu Burma pada tahun 1767. Ketika itu, Ayutthaya dibakar dengan tujuan untuk melelehkan emas-emas yang terdapat pada kuil-kuil dan candinya. Perbuatan ini membekas di hati rakyat Thai hingga kini.

Kini, Ayutthaya merupakan kota yang dipenuhi reruntuhan kuil-kuil kuno. Untuk masuk ke situs-situs ini, pengunjung dikenakan biaya sebesar 20Baht. Beberapa di antaranya tidak dikenakan biaya. Ada beberapa cara untuk mengitari kota kecil yang dikelilingi aliran sungai Chao Phraya ini, yaitu dengan menyewa kendaraan, mencarter Tuk-Tuk (kendaraan khas Thailand yang menyerupai Bajaj), atau menyewa sepeda. Sebenarnya, sepeda adalah alternatif yang murah dan menyenangkan. Namun, karena waktu yang sempit, saya memilih menyewa Tuk-Tuk dengan biaya 300Baht. Oh, itu setelah tawar-menawar yang alot.

Reruntuhan kuil Wat Chai Wattanaram

Berbekal kamera dan sebotol air mineral, saya menjelajahi Ayutthaya. Ada beberapa kuil penting yang memang sudah menjadi target saya, seperti Wat Chai Wattanaram, Wat Phanan Choeng, Wat Phra Si Sanphet, serta Wat Mahathat. Kuil-kuil di sini memiliki karakter yang berbeda-beda, sesuai dengan bangsa yang berkuasa saat itu. Selain gaya Thai, ada kuil-kuil yang terpengaruh budaya Kamboja, Cina, dan Siam. Tak hanya kuil, Ayutthaya sebenarnya menyimpan berbagai spot menarik yang bisa dieksplorasi, seperti distrik muslim atau gereja Portugis. Waktu yang sempit tak memungkinkan saya menyambangi semuanya.
Dari semua kuil yang saya datangi, ada dua kuil yang paling berkesan bagi saya, yaitu Wat Chai Wattanaram dan Wat Phanan Choeng. Wat Chai Wattanaram merupakan sebuah kompleks kuil yang luas, yang menyiratkan kesan epik sekaligus memberikan gambaran akan kebesaran kota ini di masa lalu. Candi-candinya tersusun apik, patung buddha raksasa bersila di pusat kuil. Satu lagi, saya menemukan sebuah pohon yang pada akarnya terpahat ukiran wajah buddha. Sangat unik.
Sementara, Wat Phanan Choeng merupakan kuil bergaya Cina yang masih aktif hingga saat ini. Kuil ini menimbulkan kesan mistik yang mendalam melalui dekorasi yang didominasi warna merah dan oranye. Di dalamnya juga terdapat patung buddha raksasa berlapis emas yang menjadi pusat doa para pengunjungnya. Sementara bagian belakang kuil dipenuhi berbagai macam patung-patung dewa kepercayaan mereka.
Saya menghabiskan dua hari untuk mengeksplorasi kota ini dan mendapatkan berbagai pengalaman menarik, mulai dari ketagihan Tom Yum, mencicipi jajanan sekolah di sana, mondar-mandir naik Tuk-Tuk, berburu kuil, hingga beramah-tamah dengan penduduk lokal. Kini, waktunya Anda mencoba!

Berbekal kamera dan sebotol air mineral, saya menjelajahi Ayutthaya. Ada beberapa kuil penting yang memang sudah menjadi target saya, seperti Wat Chai Wattanaram, Wat Phanan Choeng, Wat Phra Si Sanphet, serta Wat Mahathat. Kuil-kuil di sini memiliki karakter yang berbeda-beda, sesuai dengan bangsa yang berkuasa saat itu. Selain gaya Thai, ada kuil-kuil yang terpengaruh budaya Kamboja, Cina, dan Siam. Tak hanya kuil, Ayutthaya sebenarnya menyimpan berbagai spot menarik yang bisa dieksplorasi, seperti distrik muslim atau gereja Portugis. Waktu yang sempit tak memungkinkan saya menyambangi semuanya.

Dari semua kuil yang saya datangi, ada dua kuil yang paling berkesan bagi saya, yaitu Wat Chai Wattanaram dan Wat Phanan Choeng. Wat Chai Wattanaram merupakan sebuah kompleks kuil yang luas, yang menyiratkan kesan epik sekaligus memberikan gambaran akan kebesaran kota ini di masa lalu. Candi-candinya tersusun apik, patung buddha raksasa bersila di pusat kuil. Satu lagi, saya menemukan sebuah pohon yang pada akarnya terpahat ukiran wajah buddha. Sangat unik.

Sementara, Wat Phanan Choeng merupakan kuil bergaya Cina yang masih aktif hingga saat ini. Kuil ini menimbulkan kesan mistik yang mendalam melalui dekorasi yang didominasi warna merah dan oranye. Di dalamnya juga terdapat patung buddha raksasa berlapis emas yang menjadi pusat doa para pengunjungnya. Sementara bagian belakang kuil dipenuhi berbagai macam patung-patung dewa kepercayaan mereka.

Saya menghabiskan dua hari untuk mengeksplorasi kota ini dan mendapatkan berbagai pengalaman menarik, mulai dari ketagihan Tom Yum, mencicipi jajanan sekolah di sana, mondar-mandir naik Tuk-Tuk, berburu kuil, hingga beramah-tamah dengan penduduk lokal. Kini, waktunya Anda mencoba!

Reporting

Mengulik Pabrik di Punggung Gunung Halimun

Pemetik teh di Gunung Halimun

Mobil itu berhenti di tengah jalanan menanjak dan berbatu. Ban yang memang telah gundul itu sepertinya tak mampu lagi menahan beban berat. L300, begitu kami menyebutnya, terpaksa ‘dibedah’ di tempat oleh sang supir dan memaksa para penumpang bersabar sejenak. Tak mengapa, toh, kami bisa melakukan banyak hal untuk membunuh waktu, seperti mengambil gambar perkebunan teh, melihat gigiran bukit di kejauhan, atau berdiam saja. Terserah.
Sebelumnya, pada Sabtu pagi itu, sekitar pukul 09.00, 18 orang peserta Travel Writing Class (TWC) bertolak dari Research Station di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tempat kami menginap. Selama setengah jam lebih perjalanan, perut kami ‘dikocok’. Beruntung perut-perut itu belum terisi sesuatu yang potensial untuk dimuntahkan. Saya sendiri, berhubung masih mengantuk, sempat terbentur karena goncangan yang hebat. Setelah itu saya melek sepanjang perjalanan.
Perhentian pertama terjadi ketika mobil kami melintasi serombongan pemetik teh. Seluruh peserta kelas berhamburan keluar dan mendekati mereka untuk berbincang-bincang dan mengambil gambar. Sepertinya, para pemetik teh tidak keberatan menjadi pusat perhatian. Dengan cakap mereka bahkan mengajari caranya mengukur pucuk teh yang siap dipetik.
Para pemetik teh ini kebanyakan perempuan. Mereka bekerja dari pagi hingga sore setiap harinya dengan upah sebesar Rp300.000 per bulan, lebih sedikit Rp180.000 dari para perawat kebun teh. Bonus yang mereka dapat setiap hari juga relatif kecil, yaitu Rp10.000 untuk setiap 20 kg daun teh yang mereka kumpulkan. “Ya, agak susah mas kalau untuk menghidupi anak-anak”, tukas Lina (38), ibu empat orang yang sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan ini.
Di luar masalah ekonomi yang menghimpit para buruh pemetik teh, melihat cara mereka bekerja sangatlah menarik. Tangan-tangan itu sangat terampil dalam menggunting pucuk demi pucuk dengan kecepatan dan ketelitian yang tinggi, juga disertai daya konsentrasi yang kuat. Daun demi daun, karung demi karung. Sangat ulet dan cekatan.
Setelah berpamitan, rombongan kami kembali merangsek ke dalam mobil. Salah seorang dari kami mendengar ban itu berdesis. Namun, dengan perhitungannya sendiri, sang supir memilih untuk mengabaikan kebocoran tersebut hingga kami tiba di tempat tujuan. Mobil itu kembali merayapi jalan berbatu, menanjak, berkelok, berkelit, hingga ‘nafas’ terakhir dihembuskan dari ban berlubang itu. Perhitungan sang supir meleset. Kami menepi untuk kedua kalinya.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 saat mobil kami melintasi kawasan Citalahab dan melintasi gerbang bertuliskan PT. Nirmala Agung. Ya, kami telah tiba di pabrik teh, tempat tujuan utama hari itu. Tanpa perlu komando, para peserta TWC kembali menghambur keluar dengan ‘senjata’ andalan masing-masing, seperti recorder, notebook, kamera, dan alat tulis. Mereka berusaha menangkap momen dengan sebaik-baiknya.
Melawat ke sebuah pabrik ternyata menyenangkan. Ini bukan sekedar wisata mata, tapi lebih memiliki nilai pengetahuan. Bersama pemandu, kami menyaksikan secara bertahap proses pembuatan teh yang rumit, mulai dari proses pelayuan, penggilingan, fermentasi, pengeringan, hingga pemisahan. Kami berjalan dari satu titik ke titik lain dan melihat alat-alat berat yang biasanya tersembunyi di balik dinding-dinding pabrik. Suara-suara mesin berdengung tanpa henti, menemani aroma teh yang kental dan menyeruak ke seluruh ruangan. Hawa di dalam tidak terlalu panas lantaran pabrik ini berada di pegunungan. Hanya saja, udaranya sedikit pengap dan lembab.
Pemandu kami adalah seorang ahli. Ia memegang peranan penting dalam keseluruhan pembuatan teh. Ia mengawasi dari awal hingga akhir, dari daun hingga kemasan. Endapan pengalaman selama bertahun-tahun bekerja membuatnya fasih dalam memilah mana teh yang bagus dan mana yang tidak. Hanya dengan melihat golden ring (lingkaran keemasan yang muncul di sekeliling teh yang bersentuhan dengan gelas) atau mencicipi sedikit saja, ia bisa menentukan kualitas teh tersebut. Buat saya, profesinya adalah seni.
Sungguh mengejutkan ketika mengatahui bahwa teh yang beredar di dalam negeri bukan kualitas nomor satu. “Teh kualitas nomor satu dan dua itu biasanya untuk di ekspor ke luar negeri”, tutur pemandu kami. Dengan kata lain, teh yang beredar itu adalah kualitas nomor tiga. Atau, paling tidak, itu merupakan hasil blend antara teh kualitas nomor dua dan tiga. Mulai dari titik ini, teh bukan lagi sekedar bahan minuman, tapi sudah menjadi komoditi yang bisa mendatangkan keuntungan besar. Uang berbicara.
Mesin-mesin itu berhenti. Saat itu sudah pukul 12.00, waktunya makan siang. Dengan perut yang sedikit kelaparan, rombongan kami pun undur diri. Kami memacu mobil ke arah pulang dan berhenti pada sebuah shelter untuk makan siang. Nasi bungkus itu memang lezat. Kami pun bersenda gurau sambil melahap ayam, ikan asin, kerupuk udang, dan keringan tempe yang menggelitik lidah.
Alih-alih naik mobil, kami memilih pulang dengan berjalan kaki. Jarak dari shelter ke basecamp kami cukup jauh dengan medan yang bervariasi. Kami berjalan menyusur lembah, memotong desa, menyeberang kali, melintas sawah, dan kembali masuk hutan lewat jalur yang menanjak curam.
Selanjutnya semua berlalu silih berganti. Derap langkah, gurauan, tawa, lenguhan nafas, tanah, lumpur, gemericik air, udara segar, tangan-tangan bertaut, dahan tumbang, pohon Rasamala, pohon Rangeus, bunga Onje, bunyi shutter kamera, peluh keringat, shelter terbengkalai, dan teriakan semangat para pejalan. Kami semua tiba dengan selamat di Research Station saat senja menjelang. Kami siap untuk makan malam.
Reporting

Stuck at Cimaja: Lihat Indahnya Laut dari Ketinggian

Diambil dari areamagz.com

Apa yang terbayang oleh saya sebelum bertolak ke Cimaja ialah ombak besar, terik matahari, angin kencang, awan gemuk, dan langit biru. Takdir berkata lain.

Pantai Cimaja di pagi hari

Pelajaran pertama. Sebelum traveling, hendaknya kita melihat perkiraan cuaca. Ini perlu, jika tak ingin kecewa. Saya adalah contoh nyata. Perjalanan ke kawasan Cimaja, Pelabuhan Ratu, pada 16–17 Januari lalu sangat di luar ekspektasi.

Nama Cimaja memang baru terdengar beberapa tahun belakangan. Terima kasih untuk para bule yang keranjingan surfing dan gemar mengeksplorasi spot baru. Seiring berjalannya waktu, nama Cimaja kian menggema tak hanya di kalangan surfer, tapi siapa pun yang punya ketertarikan terhadap laut. Anak muda, bapak-bapak, wanita berbikini, siapa saja. Daerah itu berkembang pesat, ditandai dengan menjamurnya tempat penginapan yang salah satunya adalah Vila Karang Aji, tempat saya menginap.

Pagi di hari pertama saya tiba, Cimaja diguyur hujan lebat secara konstan. Rasa pesimis mulai menyeruak ketika setelah dua jam menunggu hujan tak juga reda. Saya menanyakan perihal cuaca ini pada Pak Karno, penjaga vila. Dengan sedikit optimisme yang tersisa bahwa hujan akan reda, ia menjawab datar, ”Wah, di sini sudah tiga hari hujan lebat. Bakal seperti ini terus.” Nice answer, Pak.

Pemandangan dari vila Karang Aji, Cimaja

Alhasil, saya menghabiskan hari pertama untuk mengeksplorasi penginapan. Vila Karang Aji bukan sembarang vila. Ia bangunan dengan desain unik, terbuat dari kayu Bankarai asal Kalimantan, disusun tiga lantai dengan sepuluh kamar, plus satu rumah pohon yang disewakan. Mereka punya beragam fasilitas menarik, mulai dari jacuzzi, alat-alat gym, hingga fusball dan pool table. Selain itu, ada menara tempat kita bisa melihat pemandangan sekitar dengan perspektif 360°. Sangat menarik.

Kamar terbaik di vila ini letaknya sedikit menjorok ke depan. Atapnya berbentuk kubah warna-warni yang menyita perhatian setiap orang. Hal terbaik dari kamar ini adalah keberadaan teras pribadi dengan view laut bebas dari ketinggian sekitar 300 m. Dari sini, laut di bawah awan mendung malah terlihat anggun sekaligus misterius. Saya melihat laut yang tertutup kabut putih sepanjang mata memandang, dengan gigiran bukit yang samar-samar terlihat di kanan-kirinya. Di dekat bibir pantai, ada puluhan perahu nelayan serta penangkaran ikan yang mengingatkan saya akan scene dalam film-film perang laut kolosal. Ini cantik sekali.

Hari kedua diawali dengan cuaca cerah yang mengundang saya untuk segera melarikan diri ke pantai di seberang vila. Saya mengambil beberapa gambar lansekap, perahu nelayan, serta beberapa potret warga setempat. Pantainya bagus dan bersih, meski tanpa pasir putih. Selanjutnya, yang saya lakukan ialah ‘main air’. Kebetulan, hari itu ombaknya cukup bagus, hingga mengundang beberapa surfer untuk mengujinya.

Sangat disayangkan, cuaca ini tak bertahan lama. Satu jam kemudian, langit kembali memuntahkan hujan deras. Ini berlangsung hingga siang hari, saat saya sudah harus check out dari Vila Karang Aji. Tak bisa disangkal, ini membuat beberapa agenda yang telah disusun jadi berantakan, termasuk agenda mengunjungi pemandian air panas di Cisolok. Apa boleh buat, dengan sedikit kecewa, saya pun mengarahkan mobil dengan satu tujuan, Jakarta.

Fast Track

Vila Karang Aji
Kampung Ciwaru, Cimaja, Pelabuhan Ratu
Kontak: Johannes Widjaja (johannes@karangajibeach-cimaja.com)
Harga: Rp250.000–Rp400.000